Maestro Lagu Melayu Riau (4-Selesai)

Husni Thamrin, 'Tokoh Budayawan Riau' Tersemat di Pusara Pemakaman Senapelan

Pemerintah Provinsi Riau, era Gubernur Riau Rusli Zainal menyematkan plank nama di pusara Husni Thamrin sebagai Tokoh Budayawan Riau. (ils)

Husni Thamrin pencipta lagu Hang Tuah ini berbicara tentang keikhlasan. Ketika hayatnya, ia bicara tentang kesederhanaan. Ia tak hendak membayangkan sebuah lagu dengan syair yang panjang dan sekali lewat. Inilah sebab karya lagunya tak lekang oleh waktu.

Husni Thamrin disapa Iyen ini adalah anak Tanjung Rhu Pekanbaru asli. Karya-karya sudah dikenal sejak lama seperti lagu, Tuanku Tambusai, Datin Suri Perdana, Jembatan Siak, Putri Kaca Mayang, Baogok dalam Boncah dan lainnya. Thamrin yakin dengan suatu kebebasan dalam karya. Sebuah kemuliaan yang sederhana, ia menunjukkan bahwa banyak persoalan masih tetap sama dalam hidup.

"Kita tidak boleh berhenti pada pengagungan kebebasan, bahkan sebaliknya pembebasan individu harus terus dilihat dalam fungsi kemasyarakatan kemelayuan kini dan modern,".kata Husni Thamrin disapa teman sejawat Iyen kepada keluarganya.

Dari kebebasan inilah lahir suatu keberanian dari seniman sejati ini. Dalam penulisan syair lagu ia terbilang berani. Sebut saja pada kumpulan lagu Melayu dalam album 'Siak Bermadah', di produksi oleh Dinas Pariwisata Siak Tahun 2004. 

Pada lagu daerah Kampar, juga ditulis dengan lucu: lagu 'Baogouk dalam Boncah'. Artinya, 'Bernapas dalam Lumpur' yang ditulis di saat Film 'Beranak dalam Kubur' tahun 1971 lagi terkenal. Film horor diperankan Suzzanna Martha Frederika van Osch alias Suzzanna, aktris legendaris Indonesia berjuluk "Ratu Horor Indonesia", itu menginspirasinya.

Dalam berkarya, Husni Thamrin memilih keberanian untuk memulainya. Dia menilai keberanian memang bukan milik umum. Keberanian sebagai modal barangkali bisa diganti dengan sesuatu yang lebih bersahaja. Misalnya ketika ia memilih judul lagu, diambil ketika orang lain belum memikirkannya.

Pilihan judul lagu itulah membuat dirinya tidak adanya rasa bersalah. Bersalah karena terlambat. Kadang banyak pula menilai bahwa ketakutan merupakan sesuatu yang sulit disingkirkan. Tapi banyak pula yang dengan hati yang takut itu, cukup memiliki rasa tidak bersalah.

Ia memang keras untuk dirinya sendiri, tapi bahkan ia tidak terkenal keras kepada istri dan anak-anaknya. Ia juga inspirator bagi keluarga dan handai taulan.

Barangkali karena kemelayuan bukan cuma kesukuan dan selintas adat atau budaya. Melayu adalah Indonesia. Barangkali melayu adalah juga sebuah panggilan. Mungkin karena ia adalah sebuah ide yang tiap kali berseru, keras atau pelan: suatu potensi yang minta diaktualisasikan, suatu impian yang minta dijelmakan dari waktu ke waktu.

Ketika kita berazam bahwa: Tak Melayu Hilang di Bumi. Kita bukannya tak sadar bahwa banyak yang tak tahu di sekitar kita. Tapi kita tak bisa menerima itu. Bersyukurlah, kita masih memijak bumi ini.

Baca juga: Husni Thamrin 'Penyair Sesat' Dimata Teman Sejawat

Menjelang usia pensiun di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Siak, tahun 2007, ia masih sempat menorehkan tinta untuk 10 lagu. Tulisan syairnya memberikan decak kagum bagi yang tahu. Ia juga seorang yang berseloroh (suka bercanda), tapi juga bijak berargumentasi.

Ia tak pernah menangis untuk dirinya sendiri. Ia bisa mencucurkan air mata karena mengingat sebuah lagu lama yang ia ciptakan. Ia gampang terharu di saat ia tak bisa lagi berdiri tegak. Penyakit ginjal dan komplikasi penyakit lain dideritanya hanya mampu bertahan selama tiga tahun.

Tapi, ia bukan penyedih atau perajuk. Mungkin hanya ia yang tahu. Sebuah lagu lama yang teramat sangat bagi dirinya untuk mengingat kembali bait-bait syair yang ia dendangkan.

Karya-karyanya memberikan inspirasi bagi Pemerintah Provinsi Riau, untuk menyematkan Anugerah Penghargaan Seni Tradisional melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di bidang Setia Seni Tahun 2008 lalu.

Baca juga: Husni Thamrin: Pencipta Lagu Hang Tuah juga Bintang Lagu Radio, Aktor dan Sutradara

Kini, ia telah menghadap Sang Khaliq, pada 20 April 2010, pukul 02.45 WIB. Buah karyanya akan selalu dikenang. Sebuah syair seperti yang ditulisnya (Hang Tuah): "Gaung bakti mu ke segenap rantau…”.

Husni Thamrin dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Senapelan, di Jalan Wakaf-Jalan Riau, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Dan, di atas pusaranya Pemerintah Provinsi Riau, era Gubernur Riau Rusli Zainal menyematkan plank nama sebagai Tokoh Budayawan Riau.

Semua kehilangan. Semua juga menyadari bahwa seorang seniman sejati Riau telah mendahului. Jika banyak yang menangis lantaran Husni Thamrin telah pergi? Baiklah kita kenang: Ia menangis karena mengingat syair-syair lagunya.  Selesai. (dmy)

Baca Juga: Husni Thamrin: Di Balik Mistik Syair Lagu Hang Tuah


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.