Husni Thamrin: Pencipta Lagu Hang Tuah juga Bintang Lagu Radio, Aktor dan Sutradara
Husni Tahmrin pencipta lagu Hang Tuah ini terkenal bukan saja seorang pencipta lagu, tetapi juga pernah menjuarai Bintang Lagu Radio dan TVRI selama tujuh kali semasa remaja. Ia pun tunak dengan karakter sebagai aktor dan Sutradara film.
Husni Thamrin lahir di Siak Sri Indrapura, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Diusia 40 hari, dibawa ke Pekanbaru - saat itu menjadi sebuah desa kecil di tepian Sungai Siak, bernama Kampung Tanjung Rhu, Kelurahan Pesisir, Kecamatan Limapuluh, Kota Pekanbaru. Disanalah ia ditimang dan dibesarkan semenjak kanak-kanak hingga dewasa hingga wafat.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Harga Emas Antam Turun Tipis ke Rp2,992 Juta per Gram
Ayahanda bernama Haji Mahmud Yahya (Alm). Yang disapa Encik Mahmud, berasal dari Kampung Tengah, Kabupaten Siak Sri Indrapura. Pernah mengabdi di kesatuan ketentaraan dan berpangkat Sersan Kepala. Tahun 1950 bergabung ke perusahaan minyak di Riau (Chevron, dulu Caltex) sampai usia pensiun.
Sementara ibunda bernama Siti Aisyah Zikir (Alm), berasal dari Kota Bagansiapi-api, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Yang sehari-harian bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Husni Thamrin mengecam pendidikan dasar diselesaikan seluruhnya di Pekanbaru, Provinsi Riau. Menyelesaikan pendidikan SDN 06 di Jalan Rokan, dan Sekolah Teknik (ST) di Jalan Patimura, Pekanbaru.
Sementara pendidikan menengah ia pernah mengecam di STM Negeri dan diteruskan ke SPMA Marpoyan. Namun berhasil diselesaikan di SMA Seri Rama Pekanbaru. Pernah mengecap kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Islam Riau, dan di Jakarta ia pun mencoba di Akademi Pariwisata Universitas Pancasila, saat memulai karir sebagai Manajer Anjungan Riau di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur.
Lama di Anjungan Riau TMII, Husni Thamrin juga menjadi tim kreatif di TMII selama 22 tahun, yang menjadi penanggung jawab Yayasan TMII adalah Ibu Tien Soeharto. Teman sejawat di lingkungan kerja TMII, menilai Husni Thamrin disebut sebagai anak emas Ibu Tien Soeharto.
Sebutan itu tepat juga, sebagai perwakilan Pegawai Negeri Sipil dari Pemerintah Provinsi Riau di Jakarta, Husni Thamrin termasuk salah satu yang bertahan masa kerja dengan jabatan sebagai Manager Anjungan Riau, selama 22 tahun.
Ide dan inovasi Husni Thamrin inilah menjadi dasar bahwa Ibu Tien Soeharto tetap mempertahankannya berada di lingkungan TMII sebagai tim kreatif.
"Bukan tak hendak siapa pengganti beliau. Ia memang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting di bidang seni musik". Demikian banyak pihak menyebut.
Berbagai pendapat dan saran, ia berikan ketika banyak pihak menginginkan ia masuk dalam tim kreatif di managemen TMII. Tak jarang ide tersebut menjadi fenomenal. Sederhana dan kadang menggelikan. Adalah 'Malam Pesona Anjungan Riau', dan 'Festival Topeng Monyet' di TMII juga inisiatifnya. Masih banyak ide dan kreativitasnya yang dituangkan ke Managemen TMII.
Bakat Seni Sejak Kecil
Husni Thamrin adalah anak sulung dari duabelas bersaudara ini memiliki bakat seni yang terasah berkat didikan sang ibunda, yang dulunya seorang penyanyi langgam Melayu (lagu klasik Melayu). Karena memiliki darah seni, Thamrin kecil hingga remaja mulai berlatih dan mengembangkan diri bersama teman-teman sekampung.
Bakat seni ini pun terpatri pada adik-adik dan keponakannya. Nah, semasa kecil, lelaki bertubuh tambun ini juga dikenal 'kedegilannya' dan menjadi cerita unik dan lucu bagi penduduk kampung Tanjung Rhu, hingga saat ini.
Di Tanjung Rhu, Tahun 1966, rumah orangtuanya yang beratap limas dijadikan sebagai sanggar seni. Rumah beralamat di Jalan Tanjung Medang ini sebagai tempat dan wadah berbagai pergulatan sandiwara, musik, dan tarian menjadi ajang kreativitas di tempat itu.
Inilah awal terbentuknya, Orkes Melayu dengan nama 'Puspanada', dan Tarian Zapin Melayu bernama 'Sekuntum'. Sanggar Orkes Melayu ini terkenal sampai ke daerah-daerah Riau dan negeri tetangga.
Banyak pemuda-pemudi, orang tua-tua, kala itu, ikut berlatih dan menikmati sentuhan seni Thamrin. Disanalah, duduk berimpit lutut, makan sehidangan.
Dukungan kedua orangtua menjadi alasan berkembangnya kreativitas sanggar seni tersebut. Suara Thamrin yang berlemak (enak di dengar), membuat penikmat seni menyebutnya Ahmad Jaiz Riau.
Meski Ahmad Jaiz adalah teman sejawat dan sepenanggungan, yang terkenal di negeri jiran, Malaysia (tiga bulan sebelum Husni Thamrin wafat, kedua seniman ini bertemu di rumah Alm Husni Thamrin di Jalan Tanjung Medang, dan Ahmad Jaiz pun menyusul tiga bulan berikutnya).
Bintang Lagu Radio dan TVRI
Selama remaja, bakat seni Thamrin selalu terasah. Disinilah ia menuai berbagai prestasi. Juara pertama empat tahun berturut-turut, (jenis Langgam Melayu) pada lomba Bintang Radio dan Televisi se-Provinsi Riau dan se-Sumatera, ditaja TVRI mulai tahun 70-an.
Tahun 1974, Thamrin menikahkan Zulfa Achmad. Ayahanda bernama Achmad dan Ibunda bernama Madar. Hasil pernikahan tersebut dikaruniai tiga anak: Theja Fathasena (musisi), Andika Fathasena (Perfilman) dan Dhatin Suri Perdana (Bank Riau). Dari ketiga buah hatinya juga terpatri darah seni dari sang ayah.
Sementara Theja Fathasena telah menunaikan karirnya mengikuti jejak sang ayah. Dengan tembang 'Bangkit Budak Melayu' (BBM) sebagai dedikasi dengan hit lagu yang marak terdengar ketika Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau ke-18 berlangsung.
Lagu BBM ini pun menjadi motivasi kalangan anak muda sebagai lagu yang memiliki keheroismean yang tak lekang oleh waktu.
Pencipta Lagu, Aktor dan Sutradara
Selain penyanyi dan penulis lagu, Husni Thamrin pun mampu bermain sebagai karakter dan sutradara. Sebagai pelakon (aktor), ia tunjukkan pada Film 'Laksamana Raja di Laut' (1980), dan 'Persebaktian' (1985) produksi TVRI kerjasama Pemerintah Provinsi Riau.
Dan, beberapa aksi peran dalam sebuah drama lokal dan moderator di Pekanbaru dan Jakarta, telah ia sematkan dalam bentuk karakter yang kocak dan mempesona. Selama menjadi seniman, ide dan kreativitasnya pun tak lekang oleh waktu.
Meski ia pernah bekerja di Balai Dang Merdu Teater, Pekanbaru dan tahun 1973, sempat menjadi ajudan Ketua DPRD Provinsi Riau, Haji Adnan Khasim. Dalam berkreativitas, ia mampu membagi waktu, meski ia seorang pegawai negeri sipil di Provinsi Riau, kala itu.
Bakat seni Thamrin memang selalu terasah. Alasan itu pula, Tahun 1982, ia hijrah ke Jakarta, dan dipercaya sebagai manager Anjungan Riau sampai tahun 2002. Selama 20 tahun di Jakarta, ide dan kreativitasnya tetap menjadi ingatan. Empat tahun menjelang usia pensiun, ia balik mengabdikan diri ke Provinsi Riau.
Bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Siak. Bahkan, karya-karyanya terus berbuah hasil hingga kesegenap rantau. Sampai dipengujung usianya, lagu Panglima Tengku Sulung, dari Reteh, Indragiri Hilir, belum usai ia tulis. (dmy)
Baca juga: Husni Thamrin: Pencipta Lagu Hang Tuah juga Bintang Lagu Radio, Aktor dan Sutradara
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar