Husni Thamrin: Di Balik Mistik Syair Lagu Hang Tuah
PEKANBARU - Siapa sosok pencipta lagu 'Hang Tuah' terkenal dibelahan bumi Melayu ini? Dialah Husni Thamrin. Lagu Hang Tuah diciptakannya mampu merevitalisasi semangat heroisme melayu di tengah pergulatan politik kebudayaan yang makin mengglobal. Ia menorehkan syair bait per bait dan menjadi sebuah nada dengan berbagai petuah dan nada yang mistik.
Di sudut Kota Pekanbaru, Kecamatan Limapuluh, Jalan Tanjung Medang (dulu disebut Jalan Utama), di sana dulu Husni Thamrin bermastautin bersama keluarga Istri dan tiga anak-anaknya, beserta cucu.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Kini, Husni Thamrin meninggal dalam sebuah perawatan yang panjang, di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad, Pekanbaru, Provinsi Riau. Ia menghembuskan nafas terakhir di usia 60 tahun, pada 20 April 2010 lalu.
Siapa sosok Husni Thamrin ini? Redaksi riauku.com menyusuri cerita beliau mulai semasa kecil hingga merantau ke Jakarta. Bersama istri dan anak-anaknya, redaksi riauku.com mencoba menulis ulang riwayatnya, sebagai bekal referensi bagi generasi anak Melayu Riau di masa hadapaan. Tahniah, semoga bermanfaat.
Rahasia Syair Hang Tuah
Tembang syahdu pop Melayu Riau, Hang Tuah ini terdengar merdu pada album lagu yang dibawakan artis Riau (asal Bengkalis) Iyet Bustami, kala itu. Album dalam bentuk pita kaset yang beredar pada Tahun 1993 itu, menggema di ranah Melayu Provinsi Riau, Riau Kepulauan, Kalimantan dan jiran tetangga, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.
Lagu Hang Tuah diciptakan sejak tahun 1988 itu, menjadi bukti bahwa syair-syair yang ditulis Husni Thamrin memberikan makna mendalam tentang arti sebuah kata. Ia menulis dengan ihwal sejarah, merangkai dengan menyusun kata dengan puitis. Terselip kalimat "Dari Bintan Kepulauan Riau" memberikan keyakinan bahwa Hang Tuah berasal dari Bintan, sekarang secara administrasi masuk ke Provinsi Kepulauan Riau.
Meski demikian, syair lagu itu dibuat ketika Provinsi Kepulauan Riau masih bergabung dengan Provinsi Riau, sebagai Kabupaten Kepulauan Riau. Mungkin masyarakat Provinsi Kepulauan Riau beruntung atas terciptanya lagu ini, sebagai lagu daerah. Sebuah lagu baru diciptakan era tahun 1988, dan dipublikan melalui rekaman di tahun 1993.
Ia pintar menulis syair. Kata-katanya terang serta ringkas dan hidup. Ia menulis untuk waktu yang panjang. Tapi, kita belum tahu: Apakah benar, Laksamana Hang Tuah dari Bintan, Kepulauan Riau? Alasan itu pula mengapa ia mempertahankan bait syair lagu 'Hang Tuah': "Dari Bintan Kepulauan Riau…", yang diminta negeri Jiran untuk diubah.
Mereka berkehendak untuk membeli lagu 'Hang Tuah'. Tapi, Almarhum tetap pada prinsipnya. Nasionalisme dihatinya sudah terpatri. Ia ekstrem memang. Ia bertekad untuk hidup sesuai dengan kebenaran yang diyakininya.
Bukan untuk jadi teladan, tapi sebagai dedikasi yang penuh disiplin. Disamping itu memang ada pertimbangan yang lebih sederhana, tapi penting. Ia bukan tak hendak mencari nama. Bukan pula tak hendak untuk menopang hidup.
Ia jernih dalam menyusun pikiran. Ia memberikan kebebasan berpikir. "Berkaryalah kamu, jangan pikirkan orang lain menghardik karyamu". Begitu ia memberikan petuah hidup dalam menciptakan kreativitas.
Yang menarik adalah, ada misteri syair Lagu Hang Tuah yang ditulis Husni Thamrin ini. Ketika musisi senior membawakan lagu ini dengan gesekan dawai biolanya. Dialah vionis nasional bahkan internasional adalah Hendri Lamiri. Pria asal Pontianak ini, memang terkenal kepiawaiannya bermain biola sejak kecil.
Nah, saat Hendri memainkan lagu Hang Tuah ini di suatu acara besar, tiba-tiba dia pingsan. Ketika siuman dan ditanya Hendri mengatakan bahwa senandung lagu Hang Tuah memiliki roh. Artinya, di kalangan musisi menilai bahwa sebuah lagu itu mempunyai jiwa atau soul.
Saat itu Hendri menjelaskan, dia terlalu menghayati senandung lagu pop Melayu itu. Lagu Hang Tuah ini begitu enak dinikmati dengan tempo dan nada yang seirama, sehingga ia baru sadar sudah dikerumuni banyak orang. Ternyata Hendri baru sadar bahwa ia pingsan sesaat. Mungkin terlalu lelah.
Barangkali, dari sinilah kita dapat merenungkan kenyataan-kenyataan sebenarnya. Ketika ia bersenandung dan menoreh tinta di atas kertas. Ia tahu dari mana harus merangkai. Sebuah syair membutuhkan nada.
Dan, nada berawal dari bunyi. Ia memang membentuk pikirannya dari suatu masa silam dan terkini. Penuh data dan rujukan. Untaian bait yang penuh dengan makna. Sebuah syair tercipta dengan keikhlasan. Lagunya diterima dengan baik. Rekonstruksi kemelayuannya ketara kental.
Hang Tuah, lagu yang diciptakan tahun 1988 menjadi bukti. Itulah ciptaan heroisme melayu ia torehkan cukup lama, yang dipublikasikan pada 1993. Ketika kita semua tahu, tentang kesatriaan Laksamana Hang Tuah.
Ketika kita acap mendengar dari orang tua-tua dahulu, tentang legenda lima panglima Melayu Riau. Maka, Alm Husni Thamrin sudah memulai. Dengan keikhlasan, ia menorehkan bait per bait dan menjadi sebuah lagu dengan berbagai petuah dan makna. (dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar