Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
PEKANBARU, RIAUKU.COM – Suasana malam di Kecamatan Bukit Raya, Kota Pekanbaru, Minggu (15/3/2026) terasa berbeda dari biasanya. Ratusan lampu colok yang menyala terang di lapangan Jalan Makmur, Kelurahan Tangkerang Labuai, menghadirkan nuansa hangat dan penuh makna di penghujung bulan suci Ramadhan.
Festival budaya Lampu Colok yang digelar sekitar pukul 21.00 WIB itu berhasil menarik perhatian masyarakat. Warga dari berbagai kalangan datang berbondong-bondong menyaksikan kemeriahan acara. Sorak sorai anak-anak dan warga yang hadir menambah semarak suasana malam tersebut.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Lampu-lampu colok yang tersusun rapi memancarkan cahaya keemasan di sepanjang lokasi acara. Cahaya sederhana dari lampu minyak itu seolah membawa masyarakat kembali pada suasana kampung tempo dulu, ketika listrik belum menjangkau perkampungan.

Festival Lampu Colok di Kecamatan Bukit Raya ini menjadi yang pertama digelar di Kota Pekanbaru tahun ini. Kehadirannya sekaligus menjadi langkah awal untuk kembali menghidupkan tradisi Ramadhan yang telah lama dikenal di tengah masyarakat Melayu.
Acara tersebut juga dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar. Kehadiran orang nomor dua di Kota Pekanbaru itu menambah semangat dan antusiasme masyarakat yang ikut meramaikan festival.
“Alhamdulillah Festival Lampu Colok di Kecamatan Bukit Raya sudah bergulir. Ini yang pertama di Kota Pekanbaru dan menjadi awal yang baik untuk menghidupkan kembali tradisi Ramadhan,” ujar Markarius saat meninjau langsung festival tersebut.
Ia mengapresiasi masyarakat Kecamatan Bukit Raya yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini. Menurutnya, festival lampu colok bukan hanya sekadar kegiatan hiburan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga dan melestarikan budaya Melayu.
Markarius menuturkan bahwa tradisi lampu colok sudah lama dikenal oleh masyarakat Melayu. Dahulu, sebelum listrik masuk ke perkampungan, lampu minyak menjadi satu-satunya penerangan pada malam hari.
Pada bulan Ramadhan, lampu colok biasanya dinyalakan dalam jumlah banyak di halaman rumah atau di sepanjang jalan kampung. Tradisi ini tidak hanya memberikan penerangan, tetapi juga menghadirkan suasana kebersamaan dan kegembiraan menjelang hari raya Idul Fitri.
“Dulu lampu colok ini menjadi penerangan di perkampungan sebelum ada listrik. Namun di bulan Ramadhan, lampu-lampu ini dinyalakan lebih banyak sehingga suasananya terasa lebih meriah,” jelasnya.
Lebih dari sekadar tradisi, cahaya lampu colok juga memiliki makna spiritual bagi masyarakat. Menurut Markarius, cahaya tersebut melambangkan semangat umat Muslim dalam meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Pada malam-malam tersebut, umat Islam biasanya memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan itikaf di masjid untuk meraih malam Lailatul Qadar yang penuh keberkahan.
“Cahaya lampu colok ini juga menggambarkan semangat ibadah masyarakat pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kita berharap masyarakat semakin semangat beritikaf di masjid,” kata Markarius.

Ia berharap festival lampu colok dapat terus digelar setiap tahun dan tidak hanya di Kecamatan Bukit Raya. Menurutnya, tradisi ini layak dikembangkan di seluruh kecamatan yang ada di Kota Pekanbaru.
Dengan begitu, syiar Ramadhan dapat terasa lebih luas dan meriah di tengah masyarakat. “Festival ini tidak hanya berpusat di satu kecamatan saja. Harapannya bisa digelar di seluruh kecamatan agar syiarnya terasa di seluruh Kota Pekanbaru,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Bukit Raya Tengku Ardi Dwisasti mengatakan bahwa masyarakat menyambut festival ini dengan sangat antusias. Persiapan kegiatan bahkan melibatkan berbagai elemen warga yang ada di kecamatan tersebut.
Mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, hingga anak-anak turut berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan ini. Mereka bekerja sama menyiapkan lampu-lampu colok serta menghias area festival agar terlihat menarik.
Menurutnya, semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam melestarikan budaya daerah. “Festival ini menjadi semangat bagi kami untuk melestarikan budaya Melayu di Kota Pekanbaru,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan di masa mendatang. Selain menjaga tradisi, festival lampu colok juga mampu mempererat hubungan antarwarga serta menghadirkan suasana kebersamaan di tengah masyarakat.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, tradisi lampu colok menjadi pengingat bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Cahaya sederhana dari lampu minyak itu bukan hanya menerangi malam Ramadhan, tetapi juga menjadi simbol harapan, kebersamaan, serta semangat menjaga warisan budaya Melayu agar tetap hidup dari generasi ke generasi. *ridhwan/01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.



Tulis Komentar