Maestro Lagu Melayu Riau (3)

Husni Thamrin 'Penyair Sesat' Dimata Teman Sejawat

Husni Thamrin dikenal teman sejawat “Seorang Penyair Sesat”

Husni Thamrin bukan semata pencipta lagu, tapi ia juga seorang penyair. Karya-karya syair lagunya bak untaian sastra. Banyak kata tersirat dan petuah yang tersurat.  Sahabatnya, Sutardji Calzoum Bachri, dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia, pernah menyebut Husni Thamrin adalah seorang penyair sesat.

Seorang penyanyi, Husni Thamrin tunjukkan kepiawaiannya dalam mengatur lidah dan pernapasan. Ini terbukti, tahun 70-an berbagai prestasi ia sematkan dalam perlombaan Bintang Radio dan Televisi se Provinsi Riau dan se-Sumatera.

Husni Thamrin juga mampu merevitalisasi semangat heroisme melayu di tengah pergulatan politik kebudayaan yang makin mengglobal. Lewat tembang lagu ia telah memberikan nada yang menyentuh dan ada pula lucu. Ini petuah bagi musisi muda.

Inilah sosok Husni Thamrin di mata teman sejawat adalah seorang seniman, penyanyi, pelakon dan pencipta lagu yang banyak jasanya dalam merekonstruksi kemelayuan dalam kehidupan bermasyarakat di Provinsi Riau. 

Dalam karyanya, Husni Thamrin pernah menulis tentang sentuhan hati pada syair lagu 'Tuanku Tambusai'. Satu heroisme kemelayuan pada tahun 1989, ini terpatri sebagai semangat unsur kepahlawanan dari 'Harimau Rokan'.

Inilah yang memberi semangat bagi Almarhum untuk memberikan sebuah karya yang menyentuh. Diciptakan dengan sentuhan harmoni syahdu. Begitu pula dengan Lagu pop Melayu hasil gubahannya “Dedap Durhaka (1975)”: Kisah seorang anak yang durhaka kepada ibunya. Ada rujukan yang menyentuh dan ditulis dengan syair yang penuh dengan petuah dan marwah.

Dalam menulis lagu, kadang ia harus mengulang komposisinya berkali-kali. Ia bersenandung ketika ia harus memulai, dengan hentakan tempo jemari tangan. Anggukan kepala mengikuti nada yang harmoni.

Suatu masa ketika hendak membuat lagu, Husni Thamrin pernah ditemani anak sulungnya. “Ayah membuat lagu diawali dengan tema dan diiringi dengan bersenandung (sembari memukul telapak lengannya ke paha)” ujar Theja Fathasena.

Banyak orang masih berharap: pencipta terbaik harus mencapai ujung terowongan. Tapi, ia agaknya tahu di akhir terowongan itu kehidupan tetap membatalkan jawaban yang paling pintar.

Setidaknya, kalaupun ia merasa menemukannya, ia tak kunjung menyakinkan. Begitulah ia menganyam sebuah lagu, dan memberikan semangat heroisme kemelayuan dari asal tanah kelahirannya.

Perumus Ide dan Syair Gemilang

Husni Thamrin juga dikenal sebagai perumus syair yang gemilang. Ia pandai menyusun kata-kata. Dan, karena itu pula ketika teman sejawat meminta rangkaian syair atau petatah-petitih, maka dalam sekejap ia mampu menuangkan alam pikirannya dalam secarik kertas. Tentunya dengan sikap dan lakon humoris di mata teman-sejawat.

Ia juga pintar melucu, dan sekalipun sadar akan kepintaran dan kekayaan pengalamannya, ia bisa mewarnai percakapan dalam waktu yang panjang. Dan, memang tak jarang buah pikirannya dibutuhkan ketika yang lain masih mereka-reka jawaban. Ia memulai ide dengan inspirasi berbeda.

"Beliau itu memang pandai merangkai kata-kata. Bahkan di saat waktu terdesak, beliau merenung sejenak dan membawa kami jalan-jalan keluar mencari angin. Dan, setelah pulang, beliau pun mengutarakn idenya. Begitu cara beliau mencari ide," kenang Tengku Sopyan Sauri, mantan Camat Siak, ketika bersama-sama berangkat pada acara Festival Seni se Nusantara di Yogyakarta.

Kreativitas dan ide lain juga terbukti ada di Pekanbaru, yaitu ide pertandingan 'Berlombo Sampan' di tepian sungai Siak tahun 1978, berlangsung sukses. Ditonton banyak orang dan dibuka oleh Walikotamadya Pekanbaru, Aburahman Hamid dan berlanjut pada Tahun 1979 dan dibuka oleh Gubernur Riau, Imam Munandar, kala itu.

Ide cemerlang pun, Husni Thamrin berikan hanya sesaat, ketika memberikan nama sebuah Tabloid Politik di Provinsi Riau. Ketika teman sejawat, sesama seniman sejak bujang yang selalu berkeluh-kesah, dan teman senasib dan sepenanggungan di Dewan Kesenian Riau (DKR) meminta pendapat beliau. Adalah panyair dan sastrawan Riau bernama Ediruslan Pe Amanriza.

Bang Edi begitu disapa, meminta pendapat soal nama tabloid yang didirikan pada 28 Desember 1998 di Kota Pekanbaru. Husni Thamrin pun mengusungkan nama Tabloid “AZAM”. Nama itu berarti 'Tekad' dan dirilis dengan kepanjangan: 'Angkatan Zuriat Anak Melayu'. 

Gayung bersambut, Ediruslan Pe Amanriza pun menyambut dengan baik nama tabloid politiknya itu. Selama kurang lebih 28 tahun, nama AZAM masih menyentuh hati dibenak masyarakat Riau, terutama bagi kalangan pemerintah dan politisi Riau saat itu. 

Masa terus berganti, Ediruslan Pe Amanriza mendahului Husni Thamrin dalam perawatan di Rumah Sakit di Kota Sukabumi, Jawa Barat.  Husni Thamrin kala itu masih menjabat sebagai Manajer Anjungan Riau TMII di Jakarta. Sebagai teman dekat Husni Thamrin pun menemani hingga akhir hayat dari Sukabumi hingga di kebumikan di Pekanbaru.

Sejak wafatnya Ediruslan Pe Amanriza, tanpa adanya nakhoda kapal yang mumpuni, dan di tengah leguh-legah manajemen surat kabar bahkan krisis perkembangan media, maka pada 2017, Tabloid AZAM berubah strategi menjadi media online.

Artis Nasional asal Bengkalis, Provinsi Riau, Iyeth Bustami pun tak luput dari gagasan Husni Thamrin untuk mengubah nama belakang artis muda belia kala itu. Di album lagu pertama, nama Iyeth masih tertulis Iyeth Sri Barat.

Setelah album kedua (masih dalam bentuk pita kaset), nama itu diubah beliau dengan mengganti 'Sri Barat' dengan nama orangtua Iyeth, yaitu Bustami. Maka sejak itu nama Iyeth menjadi Iyeth Bustami. Dan, dikenal oleh masyarakat Riau, hingga dipakai dalam pencalonan legislatif DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Riau I dan berhasil menjadi wakil rakyat di Senayan pada Tahun 2024.

Album kedua didendangkan Iyeth Bustami langsung diminati masyarakat Riau dan masyarakat melayu di negeri Jiran tetangga. Dalam album tersebut berisikan 3 (tiga) lagu ciptaan Husni Thamrin, yaitu: Hang Tuah (nama Laksamana Melayu Riau), Tuanku Tambusai (nama Pahlawan Riau asal Kabupaten Rokan Hulu-saat itu belum menjadi Pahlawan Nasional), dan Datin Suri Perdana (diambil dari nama anak bungsu Husni Thamrin).

Karya-karya syair lagunya bak untaian sastra. Banyak kata tersirat dan petuah yang tersurat. Seorang sahabatnya pernah melukiskan hal itu. Adalah Sutardji Calzoum Bachri, yang dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia dan tokoh penting dalam perkembangan puisi modern Indonesia. Sutardji, sang penyair ini pernah berucap: “Ia seorang Penyair Sesat”.

Inilah sebuah kata yang tersusun penuh makna. Ia menulis syair tanpa abjad. Pada mulanya adalah niat. Sesuatu yang disusun dengan rapi dan jelas, dituliskan dengan rujukan yang memadai, didendangkan dalam ruang yang senyap.

Beberapa tulisan syair, pernah pula ikut menghiasi paragraf lagu “Bahtera Merdeka” (lagu dari negeri Jiran), dan “Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu” oleh Said Effendi. Tentu, untuk menciptakan sebuah lagu dan syair bukanlah paling awal baginya. Bukan pula yang paling akhir. Ia tak hendak nama, tapi ia memberikan sebuah keikhlasan pada sebuah syair. (dmy)

Baca Juga: Husni Thamrin: Di Balik Mistik Syair Lagu Hang Tuah

Baca juga: Husni Thamrin: Pencipta Lagu Hang Tuah juga Bintang Lagu Radio, Aktor dan Sutradara


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.