Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Picu Ketegangan Global, Pengamat Sebut Sistem Negara Tetap Kokoh
Jakarta — Kabar tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel memicu spekulasi luas tentang masa depan Iran. Namun, mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, menilai struktur negara tersebut tidak akan mudah goyah.
Dalam wawancara di program Breaking News Metro TV, Senin (2/3/2026), Dian menegaskan anggapan bahwa Iran akan runtuh pascakematian pemimpin tertingginya merupakan kesalahan dalam memahami karakter masyarakat Iran. Menurutnya, masyarakat pedesaan memiliki tingkat religiusitas dan loyalitas tinggi terhadap sistem pemerintahan.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Bareskrim Tetapkan Ketua Kadin Sultra Tersangka Tambang Nikel Ilegal
Ia menyebut pemerintah Iran selama ini berhasil memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti listrik, air, gas, layanan kesehatan, dan bantuan sosial, yang memperkuat legitimasi negara di mata rakyat.
Mekanisme Suksesi Sudah Disiapkan
Dian menjelaskan posisi pemimpin tertinggi memang sangat sentral dalam struktur politik dan keagamaan Iran, terutama bagi komunitas Syiah. Namun, kesinambungan kepemimpinan diyakini tetap terjaga melalui mekanisme suksesi yang dijalankan oleh Assembly of Experts.
Menurutnya, proses pemilihan pengganti dilakukan secara internal dengan mempertimbangkan aspek keagamaan, politik, dan militer, sehingga tidak bergantung pada satu figur semata.
Ia juga menyinggung pengibaran bendera merah di Masjid Jamkaran, yang dinilai bukan sekadar simbol balas dendam, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap pemimpin yang wafat sekaligus tanda tekad melanjutkan perjuangan nasional.
Diplomasi Dinilai Tetap Jadi Penentu
Dian menilai konflik berskala internasional pada akhirnya tetap akan bermuara pada jalur diplomasi. Namun ia menyoroti keterbatasan peran Dewan Keamanan PBB dalam mengambil langkah tegas karena pengaruh negara-negara besar.
Ia menyimpulkan kombinasi faktor budaya, struktur politik, dan institusi negara membuat Iran menjadi pihak yang sulit dilemahkan hanya melalui serangan militer.
Peristiwa ini, menurutnya, bukan hanya soal kehilangan sosok pemimpin, melainkan ujian nyata bagi ketahanan sistem politik Iran dalam menghadapi tekanan global.(*04)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar