Peta Panas Sumatera Meledak: 175 Hotspot Terpantau, Riau Munculkan 11 Titik

Ilustrasi Kebakaran lahan. (ist)

PEKANBARU, RIAUKU.COM – Titik panas kembali bermunculan di Pulau Sumatera pada Minggu, 1 Maret 2026. Data satelit milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menunjukkan 175 hotspot terdeteksi di sembilan provinsi sejak pagi hari. Di Provinsi Riau terpantau 11 titik panas yang tersebar di tiga kabupaten, memicu kewaspadaan dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.

Informasi itu disampaikan Forecaster on Duty BMKG Stasiun Pekanbaru, Yasir P. Ia memaparkan pemantauan citra satelit menunjukkan konsentrasi hotspot terbesar berada di wilayah Sumatera Barat dan Jambi. Peningkatan ini muncul di awal Maret saat kondisi cuaca di sejumlah wilayah mulai mengering.

Yasir menjelaskan pemantauan satelit pagi hari merekam total 175 titik panas di Pulau Sumatera. Angka itu tersebar di sembilan provinsi dengan variasi jumlah berbeda. Konsentrasi terbesar terlihat di wilayah Sumatera Barat.

Sumatera Barat mencatat 54 hotspot. Jambi menyusul dengan 36 titik panas. Bangka Belitung berada di posisi berikutnya dengan 31 titik.

Provinsi lain mencatat jumlah lebih kecil. Sumatera Selatan terdeteksi 24 titik. Aceh 9 titik, Sumatera Utara 6 titik, Bengkulu 3 titik, Kepulauan Riau 1 titik, serta Riau 11 titik.

“Total hotspot di Sumatera hari ini terpantau 175 titik dari citra satelit pagi,” ujar Yasir dari BMKG Pekanbaru.

Peningkatan titik panas pada awal Maret menjadi perhatian berbagai pihak. Periode ini sering menjadi masa rawan munculnya kebakaran hutan dan lahan di beberapa wilayah Sumatera. Kondisi vegetasi kering dapat mempercepat penyebaran api ketika terjadi pembakaran lahan.

Sebaran Hotspot di Riau

Di Provinsi Riau, hotspot terdeteksi di tiga kabupaten. Jumlahnya tidak sebesar provinsi lain, namun tetap mendapat pengawasan. Lokasinya tersebar di kawasan pesisir dan daratan tengah.

Kabupaten Rokan Hilir mencatat jumlah terbanyak. Di wilayah ini terdeteksi lima titik panas. Kabupaten Kuantan Singingi menyusul dengan empat titik.

Kabupaten Bengkalis mencatat dua hotspot. Data itu berasal dari pemantauan satelit yang diperbarui Minggu pagi. Yasir menyebut wilayah Rokan Hilir menjadi area dengan konsentrasi tertinggi di Riau.

“Untuk wilayah Riau terdapat 11 titik panas, paling banyak berada di Rokan Hilir,” kata Yasir.

Munculnya hotspot tidak selalu berarti kebakaran aktif. Titik panas menandakan anomali suhu permukaan yang dapat berasal dari aktivitas pembakaran atau faktor lain. Namun temuan tersebut sering menjadi indikator awal potensi kebakaran lahan.

Cuaca dan Faktor Risiko

Kondisi cuaca ikut mempengaruhi potensi munculnya hotspot. Suhu udara di Riau hari ini diperkirakan berkisar antara 23 hingga 34 derajat Celsius. Tingkat kelembapan udara berada pada rentang 55 sampai 99 persen.

Angin bertiup dari arah barat laut hingga timur laut. Kecepatannya berkisar 10 sampai 30 kilometer per jam. Pola angin ini dapat mempengaruhi penyebaran asap jika terjadi kebakaran lahan.

Di wilayah perairan Riau, gelombang laut diperkirakan berada pada kisaran 0,5 hingga 1,25 meter. Tinggi gelombang itu masuk kategori rendah. Kondisi laut relatif aman bagi aktivitas pelayaran skala kecil.

BMKG mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap potensi kebakaran lahan. Warga diminta segera melapor jika menemukan indikasi asap atau pembakaran di sekitar permukiman maupun kawasan hutan.

“Jika ada tanda kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkan agar bisa cepat ditangani,” ujar Yasir.

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.