Presiden Pezeshkian Selamat, Teheran Siapkan Serangan Balasan Besar
TEHERAN, RIAUKU.COM - Iran menyiapkan serangan balasan besar setelah rangkaian serangan rudal Israel dan Amerika Serikat menghantam sejumlah kota pada Sabtu, 28 Februari 2026. Pemerintah Iran memastikan presiden negara itu, Masoud Pezeshkian, berada dalam kondisi aman di tengah meningkatnya eskalasi militer.
Ancaman pembalasan dari Iran memicu ketegangan baru di Timur Tengah setelah serangan Israel yang didukung Amerika Serikat mengguncang berbagai wilayah strategis.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
- Bareskrim Tetapkan Ketua Kadin Sultra Tersangka Tambang Nikel Ilegal
Seorang pejabat Iran kepada Reuters menyampaikan rencana respons militer sedang disiapkan. Serangan balasan disebut akan sangat menghancurkan. Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah ledakan keras terdengar di berbagai kota Iran.
Serangan rudal menghantam sejumlah lokasi penting. Kota yang dilaporkan terkena dampak meliputi Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, Lorestan, dan Tabriz. Beberapa laporan media Iran menggambarkan kerusakan pada ruas jalan utama di kawasan Jomhouri, Teheran.
Kepulan asap terlihat di sejumlah titik ibu kota. Warga melaporkan suara dentuman keras yang mengguncang kawasan pusat kota. Situasi tersebut menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Di tengah kondisi itu, kantor berita pemerintah IRNA melaporkan kondisi Presiden Iran tetap aman. Masoud Pezeshkian disebut berada dalam keadaan sehat setelah serangan berlangsung. Keberadaan presiden tidak diumumkan secara rinci demi alasan keamanan.
Pemerintah Iran segera mengambil langkah pengamanan nasional. Seluruh wilayah udara ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Kebijakan ini diumumkan oleh juru bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran, Majid Akhavan.
Penutupan wilayah udara berlaku untuk seluruh penerbangan domestik maupun internasional. Otoritas penerbangan meminta maskapai dan penumpang menunda aktivitas perjalanan udara. Langkah tersebut diambil untuk menghindari risiko serangan lanjutan.
Di pihak lain, Israel mengakui telah melancarkan serangan pendahuluan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman keamanan negaranya.
Serangan Israel dilakukan dengan dukungan militer Amerika Serikat. Dua pejabat Amerika yang mengetahui operasi tersebut menyampaikan informasi kepada media internasional. Target utama operasi berada pada fasilitas militer dan titik strategis di Iran.
Sirene peringatan berbunyi di berbagai kota Israel setelah serangan dilancarkan. Pemerintah Israel meminta warga tetap berada dekat tempat perlindungan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan dari Iran.
Situasi keamanan kawasan meningkat tajam sejak serangan terjadi. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memasuki fase yang lebih berbahaya. Negara-negara di kawasan mulai memantau perkembangan dengan kewaspadaan tinggi.
Belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban akibat serangan tersebut. Pemerintah Iran juga belum merilis data kerusakan secara rinci. Namun pernyataan pejabat Iran mengenai pembalasan besar membuat dunia internasional menunggu langkah militer berikutnya.
Ancaman balasan Iran membuka kemungkinan konflik lebih luas di Timur Tengah. Operasi militer yang saling berbalas dapat menyeret lebih banyak negara ke dalam krisis regional. Situasi kini berkembang cepat dan masih jauh dari mereda.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar