Tragis! Ibu 66 Tahun Tewas Dianiaya Anak Kandung
TUALANG, RIAUKU.COM - Seorang ibu berusia 66 tahun ditemukan terkapar di rumahnya di Kampung Pinang Timur, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak. Ia meninggal dunia dengan sejumlah luka di tubuhnya. Polisi mengamankan anak kandung korban yang diduga menjadi pelaku penganiayaan.
Peristiwa itu terjadi Rabu siang sekitar pukul 14.30 WIB di Jalan Pertiwi. Korban bernama Lince Nainggolan ditemukan dalam kondisi mulut mengeluarkan darah. Tubuhnya tergeletak di teras rumah. Suasana mendadak ricuh setelah terdengar teriakan minta tolong dari dalam rumah.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
- Bareskrim Tetapkan Ketua Kadin Sultra Tersangka Tambang Nikel Ilegal
Nurmaria, anak korban, mengatakan ia bersama warga bergegas mendatangi sumber suara. Pintu rumah terbuka. Ibunya sudah terbaring lemah. Warga berupaya memberikan pertolongan. Korban segera dibawa ke Puskesmas Kecamatan Tualang.
Upaya itu tidak membuahkan hasil. Tenaga medis menyatakan Lince telah meninggal dunia. Kabar tersebut menyebar cepat di lingkungan sekitar. Warga berdatangan. Rumah sederhana itu dipenuhi tatapan cemas.
Dugaan mengarah pada Hendri Pernando, 37 tahun, anak laki-laki korban. Menurut keterangan keluarga, Hendri mengalami gangguan jiwa. Ia disebut kerap mengamuk di rumah. Barang-barang dirusak saat emosinya memuncak.
Nurmaria mengungkapkan adiknya telah beberapa kali menjalani perawatan di RS Jiwa Tampan di Pekanbaru. Sepanjang 2025, ia dibawa berobat hingga enam kali. Masa perawatan biasanya sekitar sepekan. Setelah dinilai stabil, ia dipulangkan.
Perawatan terakhir berlangsung pada Desember 2025. Pihak rumah sakit kemudian meminta keluarga menjemput Hendri pada Februari 2026. Keluarga sempat keberatan karena kondisi ibu mereka sedang sakit. Permintaan itu akhirnya dipenuhi. Hendri kembali tinggal bersama orang tuanya.
Tetangga korban, Arozidhu Gea, mengatakan Hendri jarang berinteraksi dengan warga. Ia lebih sering berada di dalam rumah. Saat kondisinya memburuk, ia berjalan tanpa arah di sekitar kampung. Arozidhu mengaku pernah menjadi korban penganiayaan, namun memilih tidak melapor karena memahami kondisi kejiwaan pelaku.
Kapolsek Tualang Kompol Teguh Wiyono membenarkan adanya peristiwa tersebut. Setelah menerima laporan, personel Reskrim dan Intelkam melakukan pencarian. Hendri diamankan sekitar pukul 17.30 WIB di Jalan Indah Kasih, Kelurahan Perawang. Ia dibawa ke Mapolsek untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut Teguh, keluarga menunjukkan dokumen ringkasan pulang dari rumah sakit jiwa sebagai bukti riwayat perawatan. Polisi masih mendalami kronologi kejadian. Pemeriksaan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi psikologis terduga pelaku.
Hasil pemeriksaan luar oleh tim medis Puskesmas Perawang mencatat sejumlah luka pada tubuh korban. Terdapat lecet di hidung. Telinga mengeluarkan darah. Luka pada tangan kiri sepanjang sekitar empat sentimeter. Lebam di leher. Rahang membiru. Posisi leher condong ke kanan. Korban dinyatakan meninggal dunia.
Meski demikian, keluarga yang diwakili ayah pelaku dan kakak kandungnya menyatakan tidak membuat laporan resmi. Mereka juga menolak dilakukan autopsi maupun visum et repertum. Penolakan itu dituangkan dalam surat pernyataan tertulis.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar