Mengapa Perceraian Terjadi dalam Rumah Tangga
PEKANBARU - Mengapa perceraian sering terjadi dalam sebuah rumah tangga? Banyak faktor penyebab mengapa perceraian itu terjadi. Salah satu yang besar pengaruhnya adalah masalah ekonomi. Apalagi di tengah kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja?
Jika beralasan karena masalah ekonomi, justru tidak diterima oleh pihak Kantor Urusan Agama (KUA). Buntut dari persoalan ekonomi ini biasanya masalah pendapatan kecil, sementara pengeluaran sangat besar. Sehingga seorang istri tidak mampu mengkoordinir keuangan dengan bijak.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
- Bareskrim Tetapkan Ketua Kadin Sultra Tersangka Tambang Nikel Ilegal
Uniknya, masalah ini semakin meruncing adanya pengaruh orangtua atau keluarga pihak istri. Wah, pertengkaran bakal tak terelakkan sehingga terjadi pertengkaran dan berujung kekerasan dalam rumah tangga.
Sebaliknya, sang suami harus memahami emosi istri. Karena hal ini adalah hak mereka. Segala usaha, tawakal dan berserah diri padaNya, disertai berdoa, tentu ada jalan terbaik yang menanti Anda. Yakin dan percayalah.
Nah, sebelum masalah ini terjadi biasanya yang muncul adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Karena puncak masalah biasanya diawali dengan keuangan, pendidikan dan karakte. Jika kekerasan dalam rumah tangga tak terelakkan.
Yang menjadi persoalan adalah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan korban adalah kaum perempuan. Wanita tentunya menjadi korban utama KDRT tersebut. Hal ini dibuktikan dari berbagai hasil penelitian baik nasional maupun internasional.
Semua rumus matematika atau sosial kemasyarakatan tidak akan mampu menyelesaikan konflik rumah tangga ini. Untuk itu, kembalikan pada niat dan kesabaran.
Seringkali tanda-tanda bahaya sudah mulai menonjol, namun tak sedikit korban kekerasan memaklumi tindakan kasar pasangan dengan menerimanya sebagai karakter si kekasih, dan masih memberikan toleransi.
Berikut Pemicu Terjadinya Perceraian Rumah Tangga:
Jika tanda-tanda berikut sudah mulai muncul dalam hubungan, jangan anggap remeh karena hubungan sudah menandakan tak lagi sehat, bahkan memberi kesan buruk. Tulisan dirangkum riauku.com dari berbagai sumber ini, menceritakan bagaimana agar terhindar dari kasus perceraian ini?
Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
Ini menjadi faktor akhir perceraian. Untuk itu, seharusnya seorang suami maupun istri harus bisa berkomunkasi dengan baik. Banyak bertanya atau belajar dari berbagai media, sangat dibutuhkan.
Sementara bagaimana dengan KDRT terjadi. Jangan pusing, anda akan tahu bagaimana tanda-tanda KDRT tersebut. Biasanya, hubungan tidak sehat tidak hanya bicara soal kekerasan fisik, tetapi juga emosi (psikis), mental, dan finansial (ekonomi).
Menerima Informasi dari Luar yang Salah
Kadang informasi didapat dari teman, atau saudara kandung, bahkan dari orangtua, bisa saja sebagai bahan referensi. Tetapi, yang terpenting adalah hati yang tenang.
Yang terpenting adalah harus pandai menciptakan sebuah rumah tangga harmonis dan rukun diantara kedua belah pihak. Ini mungkin impian semua orang. Tetapi jika hanya sekedar membaca dan berbicara saja, tentu hal ini akan sulit tercapai.
Menyapa Anda dengan Melecehkan
Memanggil nama pasangan yang bertendensi menjatuhkan kepercayaan diri, adalah cara yang digunakan dalam kekerasan dalam hubungan. Ucapan verbal seperti gembrot, jelek, bego, atau manja, sama menyakitkannya dengan kekerasan fisik. Kata-kata seperti ini bisa merapuhkan hati lebih dalam.
Tak Ada Privasi dan Cenderung Curiga
Hal ini dapat dilihat seperti dompet, tas, dokumen, komputer, atau ponsel Anda selalu diperiksa tanpa alasan yang jelas. Pasangan juga mengharuskan Anda ditemani orang lain, atau ia harus selalu menemani saat Anda bepergian.
Hal tersebut adalah sebagian saja contoh bahwa Anda sudah dalam pemantauan, yang menandakan pasangan penuh curiga, cemburu, dan tak lagi percaya. Anda sudah menjadi korban kekerasan ketika privasi Anda mulai terganggu, semua telepon masuk dipertanyakan, atau Anda tak lagi memiliki kebebasan.
Kontrol Diri Anda
Ini dialami seperti pasangan menuntut Anda langsung pulang ke rumah usai kerja. Anda harus selalu dijemput atau diantar ke tempat tujuan, dan ini bukan bentuk perhatian, melainkan bentuk kontrol yang tak lagi logis.
Ketika pelaku kekerasan selalu perlu tahu keberadaan Anda setiap menit tiap harinya, ini disebabkan ia merasa khawatir kehilangan kekuasaan atas diri Anda. Perasaan terancam ini membuat pasangan semakin mengontrol Anda lebih ketat.
Membatasi Anda Bergaul
Nah, membatasi ini terlihat ketika ada unsur percaya atau tidak, pelaku kekerasan bisa saja tak cuma memutus koneksi Anda dengan teman dan pergaulan sosial, tetapi juga terhadap keluarga.
Hal ini merupakan cara pelaku untuk menutup komunikasi Anda dengan orang lain yang bisa mendukung dan membantu Anda. Cara ini dimaksudkan untuk memperlemah Anda.
Mengontrol Keuangan Anda
Biasanya tindakan ini seperti mengambil alih keuangan Anda, dan membatasi Anda dalam menggunakan akses keuangan, adalah pertanda yang makin mendekatkan korban kepada pelaku.
Dengan begitu Anda menjadi bergantung terhadap pasangan dan menyulitkan Anda untuk bergerak. Kalaupun Anda berhasil kabur tanpa uang sekalipun, pelaku kekerasan semacam ini juga akan pergi mencari korban lain.
Memaksa Hubungan Suami Istri
Aduh! Jika ini terjadi maka anda termasuk memaksa orang lain melakukan hubungan seksual, meskipun hal itu dilakukan terhadap pasangan sendiri pun, adalah kekerasan seksual. Hubungan intim karena paksaan bisa menimbulkan luka emosi yang paling dalam, melebihi luka fisik.
Mengancam atau Menuduh
Biasanya ancaman terhadap diri Anda, anak-anak, teman, atau anggota keluarga Anda, adalah kekerasan. Ini adalah bentuk intimidasi untuk memberikan ketakutan dalam diri Anda.
Rasa takut dijadikan senjata pelaku kekerasan yang paling ampuh untuk melumpuhkan korban. Begitu pula dengan menuduh Anda menggoda pria lain, atau tergoda oleh orang lain lalu pergi berduaan dengannya, menjadi pola perilaku pelaku kekerasan.
Tuduhan ini kemudian dijadikan alasan paling tepat baginya untuk memulai perilaku kasar terhadap Anda secara fisik.
Mengkonsumsi Obat Terlarang
Hal ini biasanya membuat Anda bergantung pada obat terlarang adalah cara paling mudah bagi pelaku untuk melakukan kekerasan fisik. Dalam kondisi tak sadarkan diri, Anda tentu tak mampu melawan ketika si pelaku bertindak kasar pada Anda.
Jika satu saja dari sederetan tanda ini sudah mulai Anda temukan dalam diri pasangan, mulai katakan "tidak", dan sudahi hubungan. Bisa jadi tak semudah itu untuk bertindak. Mintalah bantuan teman atau orang terdekat yang bisa Anda percaya, dengan bercerita tentang kondisi Anda.
Dukungan dari orang terdekat untuk menguatkan Anda menjadi sangat berperan. Jadi, tentukan sikap mulai sekarang, brow! (dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar