Diabetes dan Tulang Keropos, Kurangi Konsumsi Minuman Ini?
JAKARTA - Minuman manis yang dikonsumsi berlebihan biasanya dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes. Dalam berbagai kampanye kesehatan, gula sering dikaitkan dengan lonjakan gula darah, resistensi insulin, dan kenaikan berat badan.
Pembahasan soal minuman manis seringkali berhenti di gula darah dan obesitas. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Tulang adalah salah satu organ yang paling jarang dikaitkan dengan konsumsi gula, meskipun secara biologis sangat terpengaruh oleh apa yang kita minum setiap hari.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
- Bareskrim Tetapkan Ketua Kadin Sultra Tersangka Tambang Nikel Ilegal
Berbagai penelitian terbaru mulai menunjukkan bahwa kebiasaan minum manis berlebihan ternyata bisa menyebabkan pengeroposan tulang.
Asupan Gula Berlebih
Proses penyerapan kalsium agar optimal dari makanan sangat bergantung pada vitamin D dalam bentuk aktif. Vitamin D berperan sebagai kunci yang meningkatkan aktivitas protein pengikat kalsium di usus, sehingga kalsium masuk ke dalam sirkulasi darah dan digunakan untuk pembentukan tulang.
Konsumsi gula berlebih bisa mengganggu proses aktivasi vitamin D di dalam ginjal. Ginjal memiliki peran penting dalam mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif yang siap digunakan tubuh.
Hambatan pada proses ini menurunkan efektivitas vitamin D, sehingga kemampuan usus menyerap kalsium dari makanan menjadi tidak optimal, meskipun asupan kalsium dari makanan terlihat cukup.
Kondisi lain yang muncul akibat konsumsi gula berlebih menurut jurnal Nutrients tahun 2023 adalah hiperinsulinemia, yaitu kadar insulin yang tinggi di dalam pembuluh darah akibat lonjakan gula darah berulang.
Hiperinsulinemia bisa berdampak pada pengelolaan mineral di ginjal. Reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal menjadi terhambat, sehingga lebih banyak kalsium yang dikeluarkan melalui urine atau dikenal sebagai hiperkalsiuria.
Situasi ini menempatkan tubuh dalam keadaan defisit kalsium yang sering tidak disadari. Asupan kalsium yang masuk berkurang, sementara tubuh tetap menjaga kadar kalsium dalam darah tetap normal.
Tubuh mempertahankan kadar kalsium darah dengan cara mengambil cadangan dari jaringan tulang. Mekanisme ini menjaga fungsi organ vital tetap berjalan normal, tetapi dilakukan dengan mengorbankan kepadatan tulang.
Proses tersebut berlangsung perlahan tanpa gejala awal yang jelas. Struktur tulang kehilangan mineral sedikit demi sedikit, hingga pada suatu saat tulang menjadi lebih rapuh dan rentan mengalami pengeroposan. (dc/dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar