Penampakan Manusia Kecil di Riau Berjalan Kaki Terbalik
RIAUKU.COM - Cerita dibalik keberadaan manusia liliput alias kecil atau pendek, sudah terdengar sejak lama. Di Provinsi Riau cerita ini nyata dan terlihat penampakannya oleh 10 anggota Tim Ekspedisi Inovasi SMA 2 Bangkinang ke Hutan Lindung Batang Kapas, Kecamatan Lipat Kain, Kabupaten Kampar.
"Kami meliatnya makhluk berwujud manusia kecil berukuran tinggi antara 80 hingga 120 cm. Mereka berlari sangat cepat dengan kedua tungkai kaki terbalik," Abdul Allatif, Kepala Sekolah SMA 2 Bangkinang kepada wartawan, saat itu.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Cerita dari Allatif ini membuktikan bahwa keberadaan makhluk berwujud manusia bertubuh kecil ini ternyata ada. Namun belum ada hasil dari jejak digital video penampakannya berdasarkan kajian ilmiah.
Begitu pula video makhluk kecil di hutan viral dari konten kanal YouTube Erwin Saunders. Namun, video bertema petualangan mitologi tentang pixies atau peri, ternyata efeknya dibuat secara digital.
Penampakan makhluk kecil aneh di hutan yang tidak dijelaskan lokasinya, telah diperiksa sebagai hoaks oleh tim cek fakta media besar karena videonya adalah rekayasa komputer (CGI) dari hasil editing.
Sementara itu, ada pula kisah viral di media sosial tentang penampakan sosok kecil muncul tiba-tiba dan berlari kencang di jalan tanah dikabarkan berada daerah Provinsi Banda Aceh.
Makhluk kecil itu terlihat saat tim ekspedisi melintasi jalan setapak di tengah semak belukar memakai motor, terkejut dan jatuh. Namun hasil rekaman video yang diambil dari kamera ditempel di atas helm pengguna motor itu, beredar sejak 2017, memang terlihat objek menyerupai manusia kecil bergerak cepat memakai kayu sebagai tongkat.
Tetapi hasil rekaman video makhluk kecil itu tidak berasal dari publikasi ilmiah atau penelitian resmi dan tidak ada bukti yang dapat dikonfirmasi terkait peneliti, institusi, atau lokasi yang jelas dan dapat diaudit secara akademik.
Adanya makhluk kecil disebut juga Orang Pendek di hutan Sumatera memang tidak terbantahkan keberadaannya. Makhluk kecil mirip manusia setinggi sekitar 80–120 cm, itu sejumlah peneliti kriptozoologi seperti Adam Davies pernah mengklaim pernah mengejar jejaknya atau membuat cetakan jejak kaki yang diduga adalah Orang Pendek. Namun, ini juga bukan video ilmiah yang divalidasi atau bukti formal keberadaannya
Para ilmuan lain juga melakukan penelitian dengan teknologi terkini. Termasuk Richard Freeman, Direktur Zoologi dari Centre for Fortean Zoology, asal Inggris. Namun, tetap saja penelitian itu tidak memberikan kesimpulan.
Begitu pula ekspedisi dilakukan tim inovasi SMA 2 Bangkinang ke Hutan Lindung Batang Kapas, Kecamatan Lipat Kain, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau pada Tahun 2010, telah membuktikan adanya keberadaan manusia kecil ini dan dapat dilihat dengan mata telanjang.
Hal ini terungkap ketika ekspedisi ini melakukan survei di hutan larangan, artinya hutan yang dilarang dimasuki oleh manusia dengan adat budaya masyarakat lokal. Sebenarnya larangan itu ditetapkan untuk melindungi sumber daya hutan, ekosistem dan makhluk hidup di dalamnya.
Sebanyak 10 angggota dari tim ekspedisi itu akhirnya berangkat ke hutan larangan di kawasan Lipat Kain. Padahal banyak cerita mistik dibalik hutan larangan itu. Meski demikian, tim bersikeras tetap berangkat dan sepakat menempuh petualangan yang dinilai ekstrim oleh banyak kalangan.
"Sebenarnya kami tahu, hutan larangan itu menyimpan banyak cerita misteri dari orangtua-tua dahulu. Cerita ini sudah lama digaungkan oleh nenek moyang kami. Namun, bila niat baik dimulai, dan atas lindunganNya, semoga niat baik itu akan terang jalannya," jelas Abdul Allatif, Kepala Sekolah SMA 2 Bangkinang kepada wartawan.
Nah, di hutan larangan inilah semua anggota tim ekspedisi menemui hal yang tidak terduga. Termasuk, ketika tim melihat makhluk seperti manusia bertubuh kecil. Bahkan, tingginya sekitar satu meter, yang datang satu-satu, lalu berkelompok.
Manusia pendek itu menatap dari balik dedaunan di tepi air terjun. "Makhluk itu tidak menganggu kami, namun sempat membuat bulu tengkuk (bulu kuduk) merinding," aku Abdul Allatif disapa Allatif.
Allatif, yang juga dikenal sebagai pemerhati seni dan budaya Kampar ini, juga pernah menjadi narasumber sejumlah media cetak dan elektronik di Provinsi Riau, terkait permasalahan dan pengembangan situs dan cagar budaya Candi Muara Takus, 2010 lalu.
Karena, tunak pada alam sekitarnya, membuat Allatif selalu melakukan ekspedisi dan berhasil menemukan sejumlah barang langka dan unik. Temuan ini dibuktikan Allatif, pada artefak, tembikar, kendi tempat air suci orang Hindu, piring dan keramik Cina, arca, (ada berbentuk orang, gajah dan harimau) di sekitar Desa Muara Takus.
Alasan itu pula, mengapa ekspedisi selanjutnya selalu ditambalkan lelaki berusia 52 tahun ini, menjadi sebuah petualangan yang acap menemukan sesuatu yang membikin decak kagum. Termasuk ketika tim melihat manusia kecil yang ditumbuhi bulu lebat.
"Orang itu seperti manusia berjalan dengan kedua kaki, dan mampu memanjat pohon dengan cepat," sebut pria kelahiran Kuok 4 Juli 1958 ini.
Sementara beberapa sumber lain yang pernah melihat manusia bertubuh kecil ini, mengakui bagian depan tubuh lebih terang ketimbang bagian belakang. Ini juga diperkuat sejumlah catatan para penjelajah dan peneliti dari zaman modern.
Termasuk ilmuwan Inggris yang penasaran dengan keberadaan makhluk ini. Sejumlah penelitian pun dilakukan dengan teknologi terkini. Malah, salah satu yang paling terkenal adalah penelitian yang dilakukan ahli primata, Deborah Martyr, pada 1990-an.
Martyr mengklaim pernah bertemu makhluk ini selain mengumpulkan keterangan dari beberapa saksi mata yang juga pernah melihat manusia liliput ini. Meski demikian, perjumpaan dan penelitian Martyr tidak cukup untuk mengonfirmasi keberadaan atau jenis makhluk ini, sehingga tetap menjadi misteri sampai saat ini. Pasalnya, pemasangan jebakan kamera oleh Jeremy Holden, tetap tidak membuahkan hasil.
Penelitian lain juga dilakukan Richard Freeman, Direktur Zoologi dari Centre for Fortean Zoology, Inggris. Seperti dilaporkan The Guardian pada 9 September 2011, ia bersama tim melacak keberadaan orang pendek di hutan Kerinci Seblat.
Freeman menyebut, kajian keempat kalinya itu sudah berlangsung sejak 2003 lalu. Ini dilakukan terkait adanya laporan warga bahwa makhluk ini beberapa kali terlihat merusak tanaman tebu. Laporan Freeman ini juga dimuat di The Guardian, 7 Oktober 2011. Namun, tetap tidak ada kesimpulan jelas tentang keberadaan 'orang pendek' ini.
Ini pun diamini Allatif, bahwa selama 10 hari di tengah hutan larangan itu, pihaknya juga tidak berhasil mendokumentasikan makhluk manusia kecil tersebut. "Memang misteri, mereka datang tiba-tiba, dan pergi dengan berkelebat cepat di balik pepohonan," jelas dia. (dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar