Semarak Ramadhan Rohul Dibuka, Upaya Membina Generasi Qurani Mulai Digencarkan
ROHUL, RIAUKU.COM - Masjid Agung Islamic Center Pasir Pengaraian berubah jadi pusat denyut Ramadhan yang hidup, riuh, dan penuh gairah pada Senin, 9 Maret 2026. Ratusan pelajar dari berbagai sekolah datang membawa suara tilawah, semangat dakwah, dan harapan besar. Bukan cuma seremoni biasa. Ini seperti alarm keras yang menandai dimulainya perburuan generasi Qurani di Rokan Hulu.
Kegiatan bertajuk Semarak Ramadhan 1447 H/2026 M resmi dibuka di jantung Islamic Center Rokan Hulu. Acara ini digagas Dinas Komunikasi dan Informatika Rokan Hulu melalui Radio Swara Lima Luhak. Agenda tersebut digelar selama empat hari, mulai Senin hingga Kamis. Sejak pagi, suasana masjid terasa padat dan hangat.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Pembukaan dilakukan Ketua Harian Badan Pengelola Masjid Agung Islamic Center Rokan Hulu, Fhatanalia Putra. Tema yang diusung terasa tegas, yaitu Membangun Generasi Qurani yang Berakhlak Mulia. Tema itu tidak sekadar dipasang di panggung. Nuansanya terasa jelas sejak peserta mulai memenuhi area kegiatan.
Hadir juga Kepala Dinas Kominfo Rokan Hulu Suharman Nasution, Sekretaris Dinas Kominfo Agus Salim, Kabag Kepegawaian Badan Pengelola Islamic Center Abdullah, dan Kabid IKP Rudy Fadrial. Di barisan depan tampak para juri yang siap menilai setiap penampilan. Ada Ustadz Hambali, Ustadz Amrizal, dan Ustadz Sulaiman Umar. Kehadiran mereka membuat arena lomba terasa serius, bukan acara tempelan musiman.
Peserta yang hadir berasal dari tingkat SD, SMP, MTs, hingga SMA se-Kabupaten Rokan Hulu. Mereka datang bersama guru pembimbing dan orang tua. Sebagian tampak tenang. Sebagian lagi tegang. Namun satu hal terlihat jelas, panggung ini memberi ruang besar untuk anak-anak Rohul menunjukkan bakat keislaman mereka secara terbuka.
Masjid Tak Lagi Sunyi
Semarak Ramadhan ini menjadi potret menarik. Masjid tidak dibiarkan sunyi menunggu waktu salat. Masjid justru dipakai sebagai pusat gerak, pusat pendidikan, dan pusat pembinaan karakter. Di titik ini, kegiatan tersebut terasa lebih penting dari sekadar lomba rutin tahunan.
Kolaborasi antara Pemkab Rokan Hulu, Diskominfo, Radio Swara Lima Luhak, dan pengurus Islamic Center menjadi fondasi utama acara ini. Sinergi itu terlihat rapi. Setiap unsur bekerja dalam jalur yang sama. Tujuannya jelas, menghadirkan kegiatan yang dekat dengan pelajar dan memberi dampak moral yang nyata.
Fhatanalia Putra menegaskan Islamic Center mesti hidup sebagai ruang ibadah sekaligus ruang pendidikan. Ia ingin masjid tidak hanya berdiri megah secara fisik. Masjid juga harus kuat sebagai pusat dakwah dan pembentukan watak anak muda. “Yang penting bukan juara, tapi tumbuh cinta kepada Al-Qur’an,” ucapnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi justru menjadi nadi kegiatan ini. Di tengah derasnya arus hiburan digital, lomba keagamaan seperti ini terasa seperti rem yang sengaja ditarik. Anak-anak diajak berhenti sejenak dari kebisingan layar. Lalu diarahkan kembali ke panggung yang lebih jernih, yakni panggung ilmu, adab, dan keberanian tampil.
Suharman Nasution juga menekankan hal serupa. Kegiatan ini menurutnya bukan sekadar ajang perlombaan. Ada misi besar yang sedang dibawa masuk ke ruang publik. “Ini langkah strategis untuk menanamkan nilai Islam sejak dini,” katanya.
Pernyataan itu memberi gambaran arah acara ini. Pemerintah daerah tampak ingin menjadikan Ramadhan bukan hanya bulan ibadah personal, tapi juga momentum pembinaan sosial. Anak-anak tidak sekadar diajak hadir. Mereka diberi ruang tampil, dinilai, dilatih, lalu dipertemukan dengan atmosfer kompetisi yang sehat.
Dari Tilawah sampai Dai Cilik
Rangkaian lomba yang digelar terbilang beragam. Ada tilawah, dai cilik dan remaja, syarhil Quran, muazin cilik, hingga penampilan lagu religi. Variasi ini membuat kegiatan terasa hidup. Setiap cabang memberi ruang bagi bakat yang berbeda-beda.
Tilawah menguji kemerduan dan ketepatan bacaan. Dai cilik dan remaja mengasah keberanian berbicara di depan umum. Syarhil Quran menuntut kekompakan, wawasan, dan kekuatan penyampaian. Muazin cilik melatih suara sekaligus kepercayaan diri. Lagu religi memberi sentuhan seni agar syiar terasa lebih dekat dengan generasi muda.
Dari susunan lomba itu terlihat satu hal menarik. Pembinaan generasi Qurani di Rohul tidak ditempatkan dalam satu bentuk tunggal. Tidak semua anak harus jadi penceramah. Tidak semua harus jadi qari. Setiap anak diberi jalur untuk tumbuh lewat kemampuan masing-masing. Di sinilah kegiatan ini terasa cerdas.
Antusiasme peserta juga memperlihatkan Ramadhan masih punya daya tarik kuat di kalangan pelajar. Mereka tidak datang sebagai penonton pasif. Mereka hadir sebagai pelaku utama. Mereka membawa suara, hafalan, intonasi, mental, dan kerja keras. Panggung ini lalu menjadi tempat uji nyali yang jarang mereka dapat di ruang kelas biasa.
Bagi orang tua dan guru, momen ini juga menjadi semacam cermin. Anak-anak yang selama ini berlatih diam-diam akhirnya tampil di depan publik. Ada rasa haru, tegang, sekaligus bangga. Ramadhan di Rohul pun tidak bergerak datar. Ia melompat jadi ruang pertemuan antara pendidikan, agama, seni, dan pembentukan karakter.
Semarak Ramadhan 1447 H di Islamic Center Rokan Hulu akhirnya bukan cuma cerita soal lomba. Ini adalah gerakan kecil dengan gema besar. Dari mimbar, dari suara azan, dari lantunan ayat, Rohul sedang menata arah masa depannya. Dan semua itu dimulai dari masjid yang hari itu tidak sunyi lagi. (mc kominfo)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar