Perempuan Sumatera Bangkit di Tengah Bencana, PERMAMPU Tegaskan Kepemimpinan Perempuan untuk Respons yang Lebih Adil

Hari Perempuan Sedunia yang digelar Konsorsium PERMAMPU bersama jaringan organisasi perempuan.(Ist)

MEDAN,RIAUKU.COM – Semangat solidaritas dan ketangguhan perempuan menggema dalam peringatan Hari Perempuan Sedunia yang digelar Konsorsium PERMAMPU bersama jaringan organisasi perempuan di Pulau Sumatera, 

Hari Perempuan Internasional jatuh pada tgl 8 Maret setiap tahunnya, Konsorsium PERMAMPU bersama lembaga anggota dan lembaga jaringan merayakannya pada tgl 7 maret 2026 secara daring.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini diikuti 312 peserta, terdiri dari 302 perempuan dan 10 laki-laki dari 10 provinsi di Sumatera.

Mengangkat tema “Berbagi dan Belajar Bersama – Pengalaman dan Penelitian Aksi Kepemimpinan Perempuan dalam Penanganan Bencana untuk Pemenuhan Hak Perempuan Marginal dan Keadilan Gender,” forum ini tidak sekadar peringatan seremonial.

 Ia menjadi ruang penting untuk berbagi pengalaman lapangan sekaligus mempertegas bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menghadapi bencana yang semakin sering terjadi.

Perwakilan Konsorsium PERMAMPU, Ela Hasanah, menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan harus diakui dan diperkuat dalam sistem penanggulangan bencana.

"Perempuan bukan hanya penyintas. Mereka juga penggerak solidaritas, pengambil keputusan di komunitas, dan kunci bagi penanganan bencana yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dampak Bencana Tidak Sama bagi Semua Orang
Dalam diskusi tersebut, jaringan Konsorsium PERMAMPU menyoroti fakta bahwa perempuan dan kelompok rentan sering mengalami dampak paling berat ketika bencana terjadi.

Lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil dan menyusui, hingga kelompok minoritas seringkali tidak mendapatkan perhatian khusus dalam proses penanganan.

Bantuan yang diberikan umumnya berfokus pada perbaikan infrastruktur, sementara kebutuhan spesifik penyintas terutama perempuan—sering luput dari perhatian.

Karena itu, jaringan PERMAMPU mendorong pendekatan yang lebih responsif melalui pengumpulan data terpilah, pemetaan kelompok rentan, bantuan kebutuhan khusus, serta dukungan pemulihan trauma bagi para penyintas.
Dari Korban Menjadi Pemimpin
Forum ini juga menghadirkan kisah-kisah inspiratif perempuan yang bangkit dari situasi krisis.

Salah satunya datang dari Nurbaeti, staf lapangan organisasi perempuan di Aceh Tamiang yang juga menjadi korban banjir.

Saat banjir besar melanda, ia harus menyelamatkan anak kembar dan orang tuanya, sementara dirinya terpisah dari sang suami.
Meski rumahnya rusak dan harta benda hilang, Nurbaeti memilih bangkit.

Ia membuka dapur umum dan mengorganisir bantuan bagi warga di desanya.

"Hati saya perlahan pulih karena masih bisa membantu dan berbagi dengan orang lain,” tuturnya dengan haru.
Kisah lain datang dari Evi, seorang aktivis kemanusiaan dari Sumatera Barat yang juga seorang ibu dengan disabilitas. Di tengah banjir bandang, ia berjuang menyelamatkan anak dan orang tuanya yang telah lanjut usia, sekaligus menghubungkan jaringan relawan agar bantuan segera datang.

Bencana Makin Sering, Mitigasi Dinilai Lemah
Jaringan Konsorsium PERMAMPU mencatat bahwa bencana banjir kini semakin sering melanda wilayah Sumatera.

Bahkan pada 6 Maret 2026, banjir kembali terjadi di Lampung.

Di beberapa daerah di Riau seperti Kampar dan Rokan Hilir, banjir bahkan dianggap sebagai kejadian yang berulang hampir setiap lima tahun.

Meski demikian, upaya mitigasi dinilai masih belum maksimal. Kerusakan lingkungan dan deforestasi disebut menjadi faktor yang memperparah bencana.

Di Aceh, misalnya, pemerintah disebut masih menerbitkan lebih dari 20 izin pengelolaan hutan di tengah kondisi bencana ekologis.
Respons Pemerintah Dinilai Lamban
Para penyintas juga mengungkapkan kekecewaan terhadap lambannya respons pemerintah dalam penanganan bencana.

Seorang perempuan berinisial MZ (23) dari Tapanuli Tengah menceritakan pengalamannya ketika meminta bantuan untuk mengevakuasi orang tuanya yang tertimbun longsor.
“Saya justru dijawab bahwa korban kami sedikit, sementara di tempat lain ada ratusan korban,” katanya.

Selain itu, jaringan PERMAMPU menilai perhatian pemerintah pusat terhadap bencana di Sumatera masih terbatas.

Usulan anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi sebesar Rp205 triliun disebut hanya disetujui sekitar Rp56 triliun.

Seruan untuk Perubahan dalam momentum Hari Perempuan Sedunia ini, Konsorsium PERMAMPU bersama jaringan perempuan di Sumatera menyerukan sejumlah langkah penting:

Mengakui dan memperkuat peran perempuan akar rumput dalam respons dan pemulihan bencana.

Mendorong peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya perempuan dan kelompok rentan.

Membangun sistem peringatan dini berbasis komunitas yang melibatkan perempuan, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk lebih serius menangani bencana ekologis di Sumatera, termasuk melalui konservasi hutan dan penguatan anggaran pemulihan.

Koordinator Konsorsium PERMAMPU, Dina Lumbantobing, menegaskan bahwa pengalaman perempuan di berbagai daerah menunjukkan satu hal penting: perempuan bukan sekadar korban.

“Perempuan adalah pemimpin yang mampu menggerakkan komunitas untuk bertahan, saling menolong, dan bangkit bersama,” tegasnya.

Peringatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah bencana yang terus berulang, kepemimpinan perempuan merupakan kekuatan besar untuk membangun ketahanan masyarakat sekaligus memperjuangkan keadilan gender.(*04*)


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.