Bukan Bawa Uang, Puluhan Migran Tiba dengan Air Mata di Pelabuhan Dumai
DUMAI, RIAUKU.COM - Gelombang pemulangan pekerja migran dari Malaysia kian menderu. Sebanyak 51 orang tiba di tanah air Sabtu kemarin. Wajah haru bercampur sedih terpancar jelas dari mata mereka.
Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Riau sigap menyambut. Petugas mengarahkan mereka menuju posko pelayanan terpadu segera. Suasana pelabuhan mendadak berubah menjadi sangat emosional sekali.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Banyak pekerja pulang tanpa membawa pundi-pundi uang keluarga. Nasib berkata lain saat aparat Malaysia menggelar razia besar. Mereka harus mendekam di depo tahanan cukup lama sebelumnya.
Kini mereka bebas namun menyandang status sebagai orang deportasi. Perjalanan panjang menyeberangi lautan menguras energi mereka semua. Rasa lelah terlihat jelas dari wajah para pekerja itu.
"Kami kembali menerima saudara-saudara sebanyak 51 orang," ujar Fanny. Angka ini menambah panjang daftar kepulangan pekerja migran. Total sudah 165 orang tiba selama bulan puasa ini.
Nasib Pekerja Tanpa Dokumen yang Terjepit Aturan
Mayoritas mereka tidak memiliki dokumen kerja secara resmi. Mereka berangkat hanya bermodal nekat dan paspor kunjungan saja. Posisi hukum mereka sangat rentan dan sangat lemah sekali.
Di Malaysia mereka bekerja sembunyi demi menghindari razia aparat. Namun nasib baik tidak selalu berpihak kepada mereka. Razia besar-besaran mengakhiri petualangan mereka di negeri jiran.
Asal daerah para pekerja ini sangat beragam sekali jumlahnya. Warga asal Nusa Tenggara Barat mendominasi daftar kepulangan tersebut. Aceh, Lampung, serta Jawa Timur juga menyumbang banyak nama.
Fanny menjelaskan status nonprosedural menjadi kendala utama perlindungan. Pekerja ilegal sangat sulit dibela hak hukumnya secara resmi. "Mayoritas berasal dari Nusa Tenggara Barat," tegas Fanny kembali.
Perjuangan Ibu Hamil dan Kondisi Kesehatan
Di tengah kerumunan terlihat seorang perempuan tampak sangat lemah. Ternyata ia sedang mengandung buah hati berusia empat bulan. Kondisinya menjadi perhatian khusus tim medis lapangan segera.
Perjalanan jauh dari Malaysia tentu menguras energi fisik dirinya. Beruntung ia segera mendapatkan pemeriksaan kesehatan dari petugas. Ia diberikan tempat istirahat yang lebih layak saat ini.
Selain ibu hamil ada pula pekerja mengeluh sakit ringan. Beberapa pekerja menderita demam akibat kelelahan luar biasa sekali. Perjalanan laut memicu rasa mual hebat bagi para pekerja.
Petugas kesehatan Dumai bekerja ekstra cepat melakukan pengecekan medis. Pemberian vitamin dilakukan demi menjaga stamina mereka semua. Kesehatan menjadi prioritas sebelum mereka pulang ke kampung halaman.
Harapan Berkumpul Bersama Keluarga Saat Lebaran
Idulfitri tinggal menghitung hari bagi seluruh umat muslim. Keinginan merayakan hari kemenangan di rumah sangat besar sekali. Deportasi ini justru menjadi jalan bagi mereka untuk pulang.
Biasanya Malaysia mempercepat proses deportasi massal menjelang Lebaran tiba. Tujuannya agar para pekerja bisa kembali ke asal daerah. Mereka tidak perlu merayakan Lebaran di dalam tahanan lagi.
Fanny memprediksi gelombang pemulangan akan terus terjadi nanti. Kapal feri dipastikan membawa ratusan pekerja lainnya segera tiba. Koordinasi dengan pemerintah daerah terus diperkuat secara lebih intens.
Negara biasanya memfasilitasi biaya perjalanan darat hingga ke tujuan. Harapannya mereka bisa segera memeluk orang tua dan anak. Semoga tidak ada lagi pekerja yang harus pulang paksa. *01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar