Biodiesel Naik, Harga Sawit Menguat, Petani Tersenyum Dapat Angin Segar
JAKARTA, RIAUKU.COM - Pasar energi kembali bergerak. Pemerintah menetapkan Harga Indeks Pasar bahan bakar nabati jenis biodiesel untuk Maret 2026 sebesar Rp13.980 per liter di luar ongkos angkut. Kenaikan ini terjadi saat harga minyak sawit mentah dunia menguat akibat gejolak geopolitik dan meningkatnya permintaan energi alternatif.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengumumkan keputusan tersebut melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi. Nilai HIP biodiesel pada Maret ini lebih tinggi dibanding Februari 2026 yang berada pada level Rp13.856 per liter. Perubahan harga ini mengikuti dinamika pasar komoditas global.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Kenaikan biodiesel tidak berdiri sendiri. Pergerakan harga minyak dunia serta meningkatnya permintaan energi nabati ikut memicu kenaikan harga crude palm oil atau CPO yang menjadi bahan baku utama biodiesel.
Berdasarkan rilis dari Kementerian ESDM, HIP biodiesel Maret 2026 sebesar Rp13.980 per liter di luar ongkos angkut. Penetapan tersebut tertuang dalam surat Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Nomor B-624/EK.05/DJE.B/2026 tertanggal 27 Februari 2026.
Dokumen tersebut menjelaskan penetapan harga dilakukan untuk mendukung implementasi program mandatori biodiesel nasional. Program ini mewajibkan pencampuran biodiesel berbasis minyak sawit dengan bahan bakar solar.
Perhitungan harga biodiesel menggunakan formula yang telah diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 3.K/EK.05/DJE/2024. Formula tersebut mengacu pada harga rata-rata minyak sawit mentah, biaya konversi produksi, serta ongkos distribusi.
“Besaran HIP biodiesel dihitung berdasarkan ketentuan dalam keputusan menteri tentang harga indeks pasar bahan bakar nabati,” demikian kutipan penjelasan dalam dokumen resmi tersebut.
Penetapan harga ini menjadi acuan utama dalam penyaluran biodiesel yang dicampurkan ke dalam bahan bakar minyak jenis solar di seluruh Indonesia.
Mengacu Pergerakan Harga CPO
Kenaikan harga biodiesel sangat berkaitan dengan pergerakan harga crude palm oil di pasar domestik dan global. Dalam perhitungan terbaru, rata-rata harga CPO periode 25 Januari hingga 24 Februari 2026 mencapai Rp14.639 per kilogram.
Angka tersebut menjadi dasar utama dalam formula penetapan HIP biodiesel. Pemerintah menggunakan metode perhitungan yang menggabungkan harga CPO, biaya konversi, serta faktor distribusi.
Dalam formula tersebut, biaya konversi CPO menjadi biodiesel dipatok sebesar US$85 per metrik ton. Nilai ini tetap sama sejak Desember 2025. Perhitungan juga menggunakan faktor konversi sebesar 870 kilogram per meter kubik. Angka tersebut digunakan untuk mengubah satuan berat bahan baku menjadi volume bahan bakar.
Selain itu, nilai tukar rupiah turut memengaruhi hasil perhitungan. Pemerintah menggunakan rata-rata kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp16.819 per dolar Amerika Serikat. Dengan menggunakan komponen tersebut, pemerintah menetapkan HIP biodiesel Maret 2026 sebesar Rp13.980 per liter di luar ongkos angkut.
Harga Bioetanol Justru Turun
Berbeda dengan biodiesel, harga bahan bakar nabati jenis bioetanol justru mengalami penurunan pada periode yang sama. Pemerintah menetapkan HIP bioetanol Maret 2026 sebesar Rp7.949 per liter.
Angka ini lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang tercatat Rp8.019 per liter. Perbedaan tren ini menunjukkan dinamika pasar bahan baku yang berbeda.
Perhitungan harga bioetanol menggunakan formula berbasis harga tetes tebu sebagai bahan baku utama. Harga tetes tebu rata-rata periode tiga bulan tercatat sebesar Rp907 per kilogram.
Dalam formula tersebut, konversi bahan baku menjadi bioetanol menggunakan faktor 4,125 kilogram per liter. Selain itu terdapat komponen biaya konversi sebesar US$0,25 per liter.
Nilai tukar yang digunakan dalam perhitungan bioetanol mengacu pada rata-rata kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp16.836 per dolar Amerika Serikat. Perubahan harga ini mencerminkan kondisi pasar bahan baku yang berbeda antara industri biodiesel dan bioetanol.
Geopolitik Dunia Dorong Harga Sawit
Kenaikan harga CPO juga dipengaruhi situasi geopolitik global. Ketegangan internasional yang mendorong kenaikan harga minyak bumi membuat permintaan energi alternatif meningkat.
Minyak sawit menjadi salah satu komoditas yang ikut terdorong naik dalam situasi tersebut. Banyak negara mulai melihat biodiesel sebagai pilihan energi yang lebih stabil ketika harga minyak fosil melonjak.
Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Bidang Organisasi, Keanggotaan, Hukum dan Advokasi, Fadhli Ali, menjelaskan hubungan tersebut cukup jelas. “Ketika harga minyak bumi naik, permintaan terhadap CPO juga meningkat karena digunakan sebagai bahan baku biodiesel,” ujarnya, Minggu, 8 Maret 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat minyak sawit menjadi alternatif energi yang semakin menarik di pasar global.Lonjakan permintaan ini kemudian ikut mengangkat harga tandan buah segar di tingkat petani.
Dampak bagi Petani Sawit
Kenaikan harga CPO membawa dampak langsung bagi petani sawit di Indonesia. Harga tandan buah segar cenderung meningkat mengikuti pergerakan harga komoditas global. Permintaan biodiesel yang terus meningkat juga membantu penyerapan produksi sawit domestik. Hal ini memberi ruang stabilitas bagi industri perkebunan sawit nasional.
Namun situasi ini tidak sepenuhnya membawa kabar baik bagi petani. Biaya produksi juga berpotensi naik, terutama pada komponen pupuk. Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku pupuk seperti kalium klorida. Bahan tersebut menjadi komponen utama dalam produksi pupuk NPK.
Ketergantungan impor membuat harga pupuk sangat sensitif terhadap gejolak global. Dalam beberapa hari terakhir, harga pupuk dilaporkan mulai merangkak naik. “Ketergantungan impor bahan baku pupuk membuat harga pupuk sangat rentan terhadap gejolak global,” kata Fadhli.
Meski menghadapi tantangan biaya produksi, kenaikan harga sawit tetap memberi harapan bagi petani. Permintaan biodiesel yang terus meningkat membuat pasar minyak sawit domestik tetap kuat. *01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar