Kawasan Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Potensi Terdegradasi
PEKANBARU,RIAUKU.COM - Kawasan hutan gambut dikenal suaka margasatwa Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB), kini mulai berpotensi terdegradasi. Kawasan ini terletak berbatasan dengan konsesi PT. Arara Abadi dengan luas 75.000 hektar. Padahal, GSK-BB ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer oleh UNESCO sejak 1968.
Untuk itu dibutuhkan perhatian khusus oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, karena berada di wilayah administrasi Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak Sri Indrapura maupun pihak PT. Arara Abadi.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Hal ini ditegaskan Prof. Dr. Usman M. Tang, bahwa perhatian khusus ini akan membawa suatu konsekuensi bagi Pemprov Riau dan Kabupaten Bengkalis serta Siak Sri Indrapura, bahwa kawasan ini harus memiliki syarat tertentu, berkaitan dengan akses masyarakat dan peningkatan taraf hidup masyarakat di sekitar kawasan tersebut.
"Peningkatan taraf hidup ini diharapkan akan menciptakan sebuah hubungan yang selaras antara alam dengan masyarakat dengan pendekatan bio-regional atau berdasarkan letak atau posisi geografisnya," terang Prof Usman saat diskusi panel di akhir pekan di Pekanbaru, Minggu (8/3/2026).
Kawasan ini, terang Prof Usman, merupakan sebuah kawasan suaka margasatwa yang telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer. Program Cagar Biosfer ini merupakan program UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), sebagai bagian dari Man and Biosphere Programme, dimulai pada 1968 dan diluncurkan pada 1971," jelas Prof. Usman kepada Riauku.com.
Dijelaskan Prof Usman, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa ini menjadikan GSK-BB sebagai Man and Biosfer Program (MAB) yang diinisiasi oleh UNESCO ditetapkan pada 26 Mei 2009.

Prof Usman mengatakan, secara geografis kawasan Suaka Margasatwa ini sebagai core dari GSK-BB terletak berbatasan dengan konsesi PT. Arara Abadi seluas 75.000 ha.
"Pihak PT. Arara Abadi dengan konservasi seluas 75.000 ha sangat berperan aktif atas komitmen menjaga kawasan biosfer ini," ungkap Prof Usman, yang juga pernah menjabat Kepala Penelitian Universitas Riau.
Berdasarkan letak kawasan ini, kata Prof Usman lagi, maka kawasan konsesi PT. Arara Abadi dapat menjadi buffer zone Cagar Biosfer GSK-BB dari gangguan orang-orang yang ingin merusak kawasan suaka margasatwa ini.
Selain itu, tambah dia, adanya pemikiran untuk membuat keterhubungan antara kawasan-kawasan konservasi berdekatan dengan kawasan Suaka Margasatwa, yaitu. salah satu kawasan yang diupayakan keterhubungannya adalah kawasan Suaka Margasatwa Bukit Batu dengan luas 25.000 ha.
"Upaya untuk menghubungkan dua kawasan ini dapat dilakukan oleh PT. Arara Abadi melalui, Sinar Mas Grup, yang memiliki konsesi dengan kawasan pelestarian plasma nutfah sebagai kawasan penghubungnya," jelas Prof Usman.
Program keterhubungan ini, kata Prof Usman, tidak dapat dijalankan sepihak oleh perusahaan tanpa didukung oleh para pihak terkait. Salah satu pihak terpenting dalam program ini adalah masyarakat sekitar kawasan suaka margasatwa.
"Posisi masyarakat berbatasan langsung dengan kawasan ini juga karena amanat dari program Cagar Biosfer adalah untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam menjaga kawasan tersebut," terang Usman, juga pernah menjabat Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Riau, dua periode ini.
Yang jadi permasalahan terang Prof Usman adalah, kawasan-kawasan konservasi ini menjadi areal tertutup, yang tidak dapat diakses masyarakat. Meski pun hanya untuk mendapatkan hasil hutan bukan kayunya.
"Untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam program ini tidak terlepas dari upaya mengidentifikasi berbagai aspek sosial ekonomi masyarakat dan menjaring aspirasi masyarakat serta ekspektasi masyarakat terhadap program ini," kata dia.
Prof Usman pun meminta kepada Pemprov Riau, kabupaten dan PT Arara Abadi serta pihak-pihak terkait, untuk melakukan kajian ilmiah terkait pemetaan kondisi ekologi, dan sosial ekonomi.
"Kajian nanti Kita mengetahui seberapa besar pengaruh kawasan suaka margasatwa ini terhadap penghidupan masyarakat serta dampak yang terjadi apabila diterapkan berbagai kebijakan untuk menghubungkan dua kawasan suaka margasatwa tersebut," jelas Prof Usman.
Dijelaskan Prof Usman, bahwa penelitian terakhir di kawasan biosfer itu adalah LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) 2007 lalu. Namun, sejak 2021 LIPI menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Maka penting dilakukan kajian monitoring dan evaluasi serta inventarisasi lagi, mengingat potensi dan keanekaragaman hayati yang sangat besar pada Kawasan CB GSK-BB ini.
"Penelitian terakhir oleh LIPI dengan waktu relatif lamapada 2007, mengenai kondisi ekologi (biodiversitas), sosial dan ekonomi diperlukan informasi mengenai kondisi terkini di kawasan CB GSK-BB," kata Prof Usman.
Wilayah GSK-BB
Diketahui, wilayah GSK-BB berada sebelah selatan dan timur adalah batas alam jembatan Sungai Mandau di Balai Pungut ke hilir sampai Teluk Lancang di Sungai Siak sampai muaranya di Selat Panjang.
Batas sebelah utara adalah batas alam pantai Selat Bengkalis, serta batas sebelah barat adalah jalan antara Guntung sampai Duri hingga jembatan Balai Pungut di Sungai Mandau.
Secara administratif Cagar Biosfer GSK-BB terletak di wilayah Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak dan sedikit berada di Kota Dumai.

Luas areal Cagar Biosfer GSK-BB sekitar 705.271 ha, termasuk wilayah Kabupaten Bengkalis sebesar 70%, Kabupaten Siak sekitar 30%. Kawasan hutan rawa gambut ini kini seluas 78.294,45 hektar (SM Giam Siak Kecil) dan 21.500 hektar (SM Bukit Batu).
Berdasarkan zonasinya, area inti dengan luas sekitar 178.722 ha (25%), zona penyangga sekitar 222.425 ha(32%), dan area transisi sekitar 304.123 ha (43%). Luas areal inti (178.722 ha) yang masuk Kabupaten Bengkalis seluas 121.963 ha (68%) dan Kabupaten Siak 56.759 ha (32%).
Keadaan topografi lansekap Cagar Biosfer GSK-BB sebagian besar merupakan dataran dengan ketinggian berkisar 0-50 mdpl. Daerah yang agak tinggi berada di sekitar Melibur dan Bagan Mence. Sebagian besar merupakan tanah organosol.
Kekayaan Flora dan Fauna
Kekayaan jenis flora dan fauna di area inti Cagar Biosfer GSK-BB sangat tinggi dibandingkan dengan ekosistem sejenis di Sumatera.
Data BRIN 2007, melaporkan sedikitnya terdapat 189 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 113 marga dan 59 suku. Jumlah tersebut termasuk 3 jenis dari kelompok tumbuhan pakis (Pterydophyta), yaitu Asplenium nidus, Nephrolepis radicans dan Stenoclaena palustris.
Sisanya sebanyak 186 jenis termasuk dalam tumbuhan berbunga (Spermathophyta) yang tergolong dalam 110 marga dan 56 suku. Beberapa diantaranya merupakan catatan terbaru bagi komunitas vegetasi hutan rawa gambut.
Kawasan lansekap GSK-BB mempunyai kekayaan fauna, seperti jenis burung yang tinggi, terutama burung air. Sementara Wetlands International melaporkan tidak kurang dari 156 jenis burung memanfaatkan daerah ini.
Termasuk gajah (Elephas maximus sumatranus), beruang madu (Helarctos malayanus), harimau dahan (Neofelis nebulusa), harimau Sumatera (Panthera tigris), maupun buaya muara (Crocodylus porosus).
Terdapat tidak kurang dari 17 jenis terdaftar dalam Appendix II Cites. Keanekaragaman herpetofauna tergolong rendah dengan jumlah 11 jenis. Sedangkan ikan tercatat 30 jenis yang dimanfaatkan oleh masyarakat.
Aksesibilitas Kawasan GSK-BB
Aksesibilitas menuju ke tengah kawasan GSK-BB ditempuh dengan menyusuri Sungai Siak Kecil yang membelah kawasan. Perjalanan darat dapat melewati Kota Perawang atau Kota Duri.
Perjalanan dari Pekanbaru melewati Perawang membutuhkan waktu tempuh 1 jam, selanjutnya mengarah ke Desa Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, Kabupaten Siak dengan melintasi jalan operasional konsesi PT. Arara Abadi selama 2 jam.
Perjalanan dari Pekanbaru melewati Duri, Kabupaten Bengkalis membutuhkan waktu tempuh 3 jam. Perjalanan menuju kawasan GSK-BB. Kawasan ini terdekat dari Duri adalah Desa Bukit Kerikil, Kecamatan Bandar Laksamana di bagian Utara atau Desa Tasik Serai, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis di bagian Selatan, masing-masing membutuhkan waktu 1 jam dengan melintasi jalan operasional konsesi PT. Arara Abadi. *04
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar