Tahun 2025 hingga 2026, Korban Keracunan MBG Tembus 21.254 Pelajar
JAKARTA - Tercatat data perhitungan BBC News Indonesia, korban keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), total korban sepanjang 2025-2026 tembus 21.254 korban jiwa. Sementara, Januari 2026 sudah mencapai 1.929 orang.
Korban kalangan pelajar itu tersebar di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Banten, NTT, dan NTB. Kasus terbaru juga terjadi di Manggarai Barat dengan 132 pelajar terdampak.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Sejak 2025 hingga awal 2026, total korban keracunan MBG dilaporkan mencapai 21.254 orang. Badan Gizi Nasional (BGN) telah menghentikan sementara operasional 10 SPPG sebagai bentuk sanksi.
Padahal, memasuki 2026, BGN menargetkan zero defect atau nol insiden keracunan, lengkap dengan petunjuk teknis penyelenggaraan MBG yang sangat rinci.
Ahli gizi masyarakat Tan Shot Yen menilai masalah utama bukan pada ketiadaan aturan, melainkan lemahnya pengawasan dan evaluasi.
“Juknis saja tidak cukup. Tanpa pengawasan berlapis, kasus ini akan terus berulang,” ujarnya.
Ia juga menyoroti fakta bahwa kurang dari 30 persen dapur SPPG telah mengantongi Sertifikat Laik Higienis Sanitasi (SLHS).
Menurut Tan, pemekaran dapur MBG seharusnya dihentikan sementara hingga standar keamanan pangan benar-benar terpenuhi.
Jika tidak, bukan hanya kesehatan pelajar yang terancam, tetapi juga kepercayaan publik terhadap salah satu program prioritas pemerintah.
Di balik angka-angka itu, ada cerita murid yang trauma, guru yang khawatir, dan orang tua yang cemas.
Program yang dirancang untuk menyehatkan generasi muda kini dihadapkan pada tantangan besar, memastikan makanan bergizi itu benar-benar aman sebelum sampai ke meja para pelajar.
Diketahui, program MBG punya tujuan mulia, tetapi tanpa sistem keamanan pangan yang solid, risiko kesehatan menjadi tinggi. Penanganan harus mencakup tata kelola dapur, standarisasi menu, audit berkala, pelatihan pengelola, dan sistem pelaporan & regulasi yang tegas. (bo/dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar