Kemarau Mengintai Riau, Plt Gubernur Riau Ingatkan Satu Api Kecil Bisa Picu Bencana Besar

Plt Gubernur Riau, SF Hariyanto. (ist)

PEKANBARU, RIAUKU.COM - Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla. Peringatan ini muncul setelah laporan klimatologi menunjukkan kondisi curah hujan di wilayah Riau sepanjang 2026 berada di bawah tingkat normal. Situasi tersebut menjadi indikator awal datangnya musim kemarau yang lebih kering dan berpotensi memicu kebakaran.

Kondisi ini mengingatkan kembali pada pengalaman pahit yang pernah terjadi di wilayah Bumi Lancang Kuning. Kebakaran hutan dan lahan sering kali muncul secara tiba-tiba, lalu meluas dengan cepat ketika angin kencang bertiup di atas lahan gambut yang kering. Dalam hitungan jam, api kecil dapat berubah menjadi bencana besar yang sulit dikendalikan.

SF Hariyanto menilai tahun ini membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi dari semua pihak. Ia menegaskan ancaman Karhutla pada 2026 berpotensi lebih berat dibandingkan periode sebelumnya. Pemerintah daerah mulai memperkuat koordinasi dengan berbagai instansi untuk mencegah kebakaran meluas di wilayah Riau.

“Potensi Karhutla tahun ini diperkirakan lebih besar. Karena itu kewaspadaan harus ditingkatkan,” ujar SF Hariyanto pada Sabtu, 7 Maret 2026.

Peringatan Keras untuk Pembukaan Lahan dengan Api

Pemerintah Provinsi Riau menaruh perhatian serius terhadap aktivitas pembukaan lahan yang masih dilakukan dengan cara membakar. Cara konvensional tersebut sering menjadi pemicu utama kebakaran besar di kawasan hutan dan perkebunan.

SF Hariyanto menegaskan aktivitas pembukaan lahan dengan api harus segera dihentikan. Metode tersebut tidak lagi relevan dalam kondisi iklim yang semakin kering dan rentan memicu kebakaran. Pemerintah meminta masyarakat serta perusahaan mengganti cara lama dengan metode yang lebih ramah lingkungan.

Satu percikan api di lahan kering bisa berubah menjadi bencana besar ketika angin bertiup kencang. Api yang awalnya kecil dapat menjalar ke semak belukar, lalu merambat menuju kawasan hutan atau lahan gambut. Kondisi seperti ini sering membuat proses pemadaman menjadi sangat sulit.

Pemerintah daerah berharap kesadaran masyarakat meningkat sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Pencegahan sejak awal dinilai jauh lebih efektif dibandingkan memadamkan kebakaran yang sudah meluas.

SF Hariyanto kembali menekankan pentingnya disiplin bersama dalam menjaga lingkungan. “Satu titik api bisa berubah menjadi bencana besar jika dibiarkan,” ujarnya singkat.

Ilustrasi karhutla.jpg

Data Karhutla Riau Mulai Mengkhawatirkan

Kekhawatiran pemerintah tidak muncul tanpa alasan. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Provinsi Riau menunjukkan angka kebakaran yang cukup tinggi sejak awal tahun.

Per Kamis, 5 Maret 2026, luas lahan terbakar di Riau tercatat mencapai 1.161,64 hektare. Angka tersebut tersebar di hampir seluruh wilayah kabupaten dan kota yang ada di provinsi ini. Kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah daerah untuk memperkuat langkah pencegahan.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Damkar Riau, Jim Gafur, mengungkapkan sebagian besar wilayah Riau telah mengalami kebakaran lahan. Dari total 12 kabupaten dan kota, hanya satu daerah yang belum mencatatkan kejadian Karhutla. “Karhutla sudah terjadi di 11 daerah. Hanya Kabupaten Rokan Hulu yang masih nihil titik api,” jelas Jim.

Data tersebut menunjukkan potensi kebakaran di Riau tidak bisa dianggap remeh. Penyebaran titik api hampir merata di berbagai wilayah dengan karakteristik lahan yang berbeda.

Situasi ini mendorong pemerintah daerah memperkuat pengawasan lapangan. Tim pemadam dan satgas darat terus bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru.

Pelalawan dan Bengkalis Paling Rawan

Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan luas kebakaran paling signifikan di Riau sepanjang awal 2026. Data BPBD mencatat total lahan terbakar di daerah tersebut mencapai 681,5 hektare.

Angka ini menempatkan Pelalawan sebagai daerah dengan risiko Karhutla tertinggi saat ini. Kondisi lahan gambut yang luas serta cuaca kering menjadi faktor utama yang memicu kebakaran di wilayah tersebut.

Kabupaten Bengkalis juga mencatat angka kebakaran yang cukup besar. Luasan lahan terbakar di daerah ini mencapai sekitar 662,51 hektare. Wilayah pesisir dengan vegetasi kering sering kali menjadi titik rawan munculnya api.

Beberapa daerah lain juga mulai mencatat peningkatan kebakaran lahan. Kabupaten Siak mengalami kebakaran seluas 65,32 hektare. Indragiri Hilir menyusul dengan luas kebakaran mencapai 64,70 hektare.

Kabupaten Kampar tercatat mengalami kebakaran seluas 38,45 hektare. Sementara Kota Dumai mencatat kebakaran lahan seluas 34,12 hektare yang tersebar di beberapa titik.

Wilayah Lain Terus Dipantau Ketat

Selain daerah dengan kebakaran terbesar, beberapa wilayah lain di Riau juga masuk dalam daftar pemantauan intensif pemerintah. Tim pemantau lapangan terus melakukan patroli untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

Kota Pekanbaru mencatat kebakaran lahan seluas 17,45 hektare sejak awal tahun. Kepulauan Meranti menyusul dengan luas kebakaran mencapai 13,40 hektare.

Kabupaten Rokan Hilir mengalami kebakaran seluas 12 hektare. Kabupaten Kuantan Singingi mencatat kebakaran sekitar 3 hektare. Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan luas kebakaran paling kecil sejauh ini. Total lahan terbakar di daerah tersebut tercatat sekitar 2,7 hektare.

Meski angkanya relatif kecil, pemerintah tetap memberikan perhatian serius terhadap wilayah tersebut. Pemantauan terus dilakukan untuk mencegah api meluas ke kawasan lain.

Pencegahan Jadi Kunci Utama

Pemerintah Provinsi Riau menilai pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman Karhutla. Upaya tersebut dilakukan melalui patroli rutin, sosialisasi kepada masyarakat, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan.

Tim satgas darat dan udara juga disiapkan untuk merespons kebakaran dengan cepat. Helikopter patroli udara akan digunakan untuk mendeteksi titik panas yang muncul di wilayah hutan dan lahan.

Pemerintah berharap masyarakat turut berperan aktif dalam menjaga lingkungan. Informasi mengenai kemunculan asap atau titik api diharapkan segera dilaporkan kepada aparat terdekat.

Kesadaran kolektif menjadi faktor penting dalam mencegah kebakaran hutan meluas. Tanpa dukungan masyarakat, upaya pemerintah dalam menekan angka Karhutla akan sulit berjalan maksimal.

Riau kini memasuki fase waspada menghadapi musim kemarau. Peringatan dari pemerintah daerah menjadi sinyal awal agar seluruh elemen masyarakat bersiap menghadapi potensi bencana kebakaran hutan dan lahan yang bisa muncul kapan saja. *01*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.