Berunding dengan AS

Iran Tolak Mediasi Indonesia, Yusuf Kalla Jadi Pilihan Curhat

Iran menegaskan tidak akan membuka ruang negosiasi dalam bentuk apa pun di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. (l6)

JAKARTA - Menanggapi tawaran Indonesia memfasilitasi dialog Ameraka Serikat (AS) dengan Iran , ternyata disambut dengan tangan hampa. Iran menegaskan tidak akan membuka ruang negosiasi dalam bentuk apa pun di tengah eskalasi konflik Timur Tengah. Yusuf Kalla justru menjadi pilihan curahan hati (Curhat).

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyampaikan sikap tersebut saat ditemui di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3). Pernyataan itu merujuk pada kesiapan Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk menjadi mediator guna meredakan ketegangan kawasan.

“Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” kata Dubes Boroujerdi diwartakan Antara.

Ia menegaskan Teheran telah beberapa kali melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat, namun selalu berujung pada pelanggaran komitmen atau tindakan militer dari Washington.

Menurut Boroujerdi, negosiasi pertama terkait program nuklir yang menghasilkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2015. Namun, Amerika Serikat kemudian menarik diri dari perjanjian tersebut

“Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi mereka telah menyerang negara kami,” katanya merujuk pada serangan Juni 2025.

Adapun negosiasi ketiga berlangsung dengan Oman sebagai mediator. Ketika itu, delegasi Iran dan AS sedang menjalani putaran ketiga perundingan tidak langsung di Jenewa, Swiss, sebelum akhirnya operasi militer AS-Iran dilancarkan pada 28 Februari.

Merujuk pada pengalaman negosiasi yang berakhir tanpa hasil, Boroujerdi menekankan bahwa Iran tidak akan menerima bentuk perundingan apa pun pada fase konflik saat ini.

“Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil. Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” ucapnya.

Selain Indonesia, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyatakan kesiapan menjadi mediator. Berdasarkan pernyataan Kremlin, Putin menawarkan diri sebagai perantara dengan menyampaikan keluhan Uni Emirat Arab (UEA) terkait serangan tersebut kepada Iran.

Yusuf Kalla Jadi Pilihan Curhat

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menerima kunjungan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi, di kediaman pribadinya di Jakarta Selatan, pada Selasa, 3 Maret 2026. Kalla turut didampingi oleh mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Hamid Awaluddin, dalam pertemuan tersebut.

Perjamuan itu membahas perkembangan kondisi terkini di Iran hingga kemungkinan peran Indonesia dalam mendorong penyelesaian konflik. Yusuf Kalla tempat curahan hati (Curhat) bagi Kedubes Iran. 

Seusai pertemuan, Kalla mengungkapkan bahwa Boroujerdi sudah memaparkan kondisi terbaru di negaranya. Pemaparan Dubes Iran itu meliputi perlawanan rakyat dan jatuhnya korban sipil akibat serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

“Dalam pembicaraan dan kunjungan Dubes Iran, telah disampaikan situasi terakhir yang terjadi di Iran dan juga perlawanan rakyat Iran serta korban yang dicapai oleh kebanyakan sipil seperti anak sekolah dan sebagainya,” kata Kalla, dikutip dari keterangan resminya.

Kalla mengatakan, pihak Iran mengharapkan dukungan dari umat Islam, termasuk dari Indonesia. Adapun pada prinsipnya, menurut dia, masyarakat dan pemerintah Indonesia mendukung upaya perdamaian.

Kalla juga menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto siap apabila diminta untuk berperan sebagai juru damai dalam konflik AS-Israel dengan Iran itu. Kendati demikian, Kalla menegaskan bahwa kemungkinan mediasi tersebut masih akan dibicarakan lebih lanjut dengan pemerintah bersama semua pihak yang berkonflik.

“Presiden Prabowo siap untuk menjadi penengah dalam konflik ini. Namun tentu dibutuhkan persetujuan kedua belah pihak. Ini hal yang selalu dipikirkan oleh mereka,” ujar dia.

“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi,” demikian pernyataan itu. Pemerintah Indonesia juga menyesalkan kembali pecahnya konflik bersenjata dan menyerukan agar semua pihak mengedepankan dialog serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing negara. *04


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.