Tragis di Sungai Batang Rengat! Pemancing Disambar Buaya, Pagi Hari Ditemukan Tinggal Kepala dan Badan
RENGAT, RIAUKU.COM - Fajar baru saja menyentuh permukaan Sungai Batang Rengat ketika kabar mengejutkan menyebar dari mulut ke mulut. Seorang pemancing yang sehari sebelumnya menghilang akhirnya ditemukan. Tubuhnya sudah tak utuh, meninggalkan duka mendalam bagi warga Desa Kampung Pulau, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu.
Peristiwa tragis itu menimpa Jumaris, pria berusia 40 tahun yang dikenal gemar memancing di sungai tersebut. Jumat pagi, sekitar pukul 06.00 WIB, jasadnya ditemukan setelah pencarian panjang oleh warga. Dugaan kuat mengarah pada serangan buaya yang memang kerap muncul di perairan Sungai Batang Rengat.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Suasana pagi yang biasanya tenang berubah menjadi haru. Warga berkumpul di tepian sungai, sebagian hanya bisa terdiam memandang arus air yang terus mengalir. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan tiba-tiba menghadirkan kisah pilu.
Kasi Humas Polres Indragiri Hulu, Aiptu Misran, membenarkan penemuan jasad tersebut. Kondisi korban sangat memprihatinkan saat ditemukan. Bagian tubuh tidak lagi lengkap.
“Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan tubuhnya tidak utuh. Yang tersisa hanya bagian badan dan kepala,” kata Misran.
Bagian tangan serta tubuh dari perut ke bawah sudah tidak ditemukan. Kondisi itu memperkuat dugaan serangan buaya yang menghuni sungai tersebut. Peristiwa tersebut langsung menyisakan duka bagi keluarga dan warga sekitar.
Kisah tragis ini bermula sehari sebelumnya, Kamis pagi sekitar pukul 05.30 WIB. Saat itu Jumaris berangkat dari rumah bersama dua rekannya, Apri dan Boni. Ketiganya menuju sungai menggunakan sebuah pompong, perahu kecil yang biasa dipakai warga setempat.
Perjalanan pagi itu tampak seperti rutinitas biasa. Matahari baru muncul dari balik pepohonan di tepian sungai. Air sungai terlihat tenang tanpa tanda bahaya.
Sesampainya di kawasan Sungai Mengkuang, Jumaris menurunkan kedua rekannya. Apri dan Boni berencana memikat burung di kawasan tersebut. Setelah menurunkan rekannya, Jumaris kembali memutar pompong menuju Sungai Batang Rengat.
Ia memilih memancing di aliran sungai yang sudah sering didatangi. Tempat itu dikenal memiliki banyak ikan. Tidak ada tanda mencurigakan pada pagi itu.
Sekitar pukul 11.00 WIB, seorang warga yang juga sedang memancing melihat keberadaan Jumaris. Jarak antara keduanya sekitar dua puluh meter. Saksi itu datang bersama anaknya dan berada di bagian hilir sungai.
Keduanya sempat melihat Jumaris memancing dari atas pompong. Aktivitas itu tampak biasa seperti pemancing pada umumnya. Namun suasana berubah mendadak beberapa saat kemudian.
Tiba-tiba terdengar suara sambaran keras dari arah pompong Jumaris. Suara itu seperti benturan kuat yang memecah kesunyian sungai. Saksi langsung menoleh ke arah sumber suara.
Saat mata diarahkan ke pompong tersebut, Jumaris sudah tidak terlihat lagi. Pompong itu hanya bergoyang pelan di atas air. Sungai kembali sunyi, tetapi meninggalkan ketegangan.
Saksi berniat mendekat untuk memastikan kondisi korban. Namun langkah itu terhenti saat seekor buaya besar muncul di dekat pompong. Hewan itu terlihat berada di sekitar lokasi kejadian.
Melihat buaya tersebut, saksi memilih menunggu dari kejauhan. Ia baru berani mendekat setelah hewan itu perlahan menjauh dari lokasi. Rasa takut masih menyelimuti saat perahu mulai didekati.
Ketika sampai di pompong milik Jumaris, pemandangan mencurigakan terlihat jelas. Joran pancing bambu milik korban berada di atas perahu. Bagian pegangan joran itu sudah patah.
Temuan tersebut langsung menimbulkan kekhawatiran besar. Saksi segera memberi tahu warga lain di sekitar sungai. Informasi itu kemudian menyebar dengan cepat hingga sampai ke keluarga korban.
Kapolres Indragiri Hulu AKBP Eka Ariandy Putra menyampaikan kronologi peristiwa tersebut. Informasi awal berasal dari warga yang melihat kejadian di sungai. Laporan itu segera ditindaklanjuti.
Setelah kabar menyebar, warga Desa Kampung Pulau segera bergerak melakukan pencarian. Sungai Batang Rengat menjadi pusat perhatian sejak siang hari. Perahu-perahu kecil mulai menyisir aliran sungai.
Arus air yang cukup kuat membuat pencarian berlangsung sulit. Warga tetap menyusuri sungai dengan penuh harap. Setiap sudut sungai diperiksa secara teliti.
Pencarian berlangsung hingga sore hari. Namun korban belum ditemukan. Harapan masih tersisa meski rasa cemas semakin besar.
Malam datang dan pencarian dihentikan sementara. Warga sepakat melanjutkan pencarian pada pagi hari berikutnya. Sungai yang gelap membuat proses pencarian berisiko.
Jumat pagi menjadi momen yang menentukan. Warga kembali menyusuri aliran Sungai Batang Rengat sejak fajar. Suasana tegang terasa di sepanjang tepian sungai.
Beberapa jam kemudian, jasad korban akhirnya ditemukan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat awal kejadian. Penemuan itu langsung membuat suasana berubah hening.
Warga yang berada di lokasi hanya bisa menundukkan kepala. Peristiwa yang semula penuh harapan berubah menjadi duka mendalam. Sungai Batang Rengat kembali menyimpan cerita tragis.
Polisi bersama warga kemudian mengevakuasi jasad korban. Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati. Arus sungai tetap diawasi karena keberadaan buaya masih dikhawatirkan.
Setelah proses evakuasi selesai, jasad korban dibawa menuju rumah duka. Keluarga sudah menunggu dengan perasaan campur aduk. Tangis pecah saat jenazah tiba di rumah.
Pihak keluarga meminta agar tidak ada pengambilan gambar jenazah. Permintaan tersebut dihormati oleh petugas dan warga. Suasana duka tetap dijaga dengan penuh empati.
“Jasad korban kemudian dibawa ke rumah duka di Desa Kampung Pulau,” kata Kapolres Eka Ariandy Putra.
Rumah duka berada di RT 07 RW 04 desa tersebut. Warga sekitar datang silih berganti untuk memberikan dukungan kepada keluarga korban. Doa dipanjatkan agar almarhum mendapat tempat terbaik.
Kisah tragis ini kembali mengingatkan warga akan bahaya yang mengintai di sungai. Sungai Batang Rengat memang dikenal memiliki populasi buaya. Keberadaan hewan predator itu sering terlihat oleh warga.
Meski demikian, aktivitas memancing tetap menjadi bagian kehidupan masyarakat. Sungai menyediakan ikan yang menjadi sumber penghidupan. Banyak warga yang menggantungkan hidup dari perairan tersebut.
Peristiwa ini membuat warga lebih waspada. Beberapa orang mulai membicarakan langkah keamanan saat beraktivitas di sungai. Rasa takut muncul, tetapi kehidupan tetap harus berjalan.
Bagi keluarga Jumaris, kehilangan ini meninggalkan luka yang dalam. Sosoknya dikenal sebagai pria sederhana yang rajin bekerja. Memancing menjadi salah satu kegiatan yang sering ia lakukan.
Kini sungai yang dulu menjadi tempat mencari ikan berubah menjadi kenangan pahit. Arus air tetap mengalir seperti biasa. Namun kisah tragis itu akan terus diingat oleh warga Desa Kampung Pulau.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar