35 Titik Panas Muncul di Sumatera, Bengkalis Jadi Sorotan! BMKG Minta Waspada Karhutla
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Kemunculan titik panas kembali terpantau di Pulau Sumatera. Data satelit mencatat 35 hotspot tersebar di sejumlah provinsi, Kamis (5/3/2026). Di Riau, lima titik panas muncul di tiga daerah dan Bengkalis menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak.
Informasi ini disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui stasiun pemantauan di Pekanbaru. Pemantauan dilakukan menggunakan satelit yang mendeteksi peningkatan suhu permukaan bumi.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Temuan tersebut langsung menjadi perhatian karena beberapa daerah memiliki kawasan gambut yang rentan terbakar saat cuaca kering. Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby, mengatakan data terbaru menunjukkan konsentrasi hotspot masih tersebar di beberapa provinsi di Sumatera.
“Total titik panas wilayah Sumatera hari ini terpantau 35 titik. Paling banyak berada di Sumatera Barat dengan 9 titik,” ujar Deby.
Selain Sumatera Barat, sejumlah provinsi lain juga mencatat kemunculan hotspot dalam jumlah bervariasi.
Sebaran Titik Panas di Sumatera
Data BMKG menunjukkan Aceh menjadi wilayah kedua dengan jumlah hotspot terbanyak. Tercatat delapan titik panas muncul di provinsi tersebut.
Sementara itu Sumatera Utara memiliki enam titik panas yang terdeteksi satelit. Kemunculan hotspot juga terlihat di Sumatera Selatan dengan lima titik.
Provinsi Jambi mencatat dua titik panas dalam pemantauan yang sama. Riau juga memiliki jumlah yang sama dengan Sumatera Selatan, yakni lima titik panas.
Deby menjelaskan data hotspot berasal dari pengamatan satelit yang mendeteksi anomali suhu di permukaan bumi.
“Data ini menjadi indikator awal untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan,” kata Deby.
Meski begitu, tidak semua hotspot otomatis menandakan kebakaran aktif. Pemeriksaan lapangan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Bengkalis Jadi Wilayah Terbanyak di Riau
Untuk wilayah Riau, titik panas tersebar di tiga kabupaten. Bengkalis tercatat sebagai daerah dengan jumlah hotspot paling banyak.
BMKG mendeteksi tiga titik panas berada di wilayah Bengkalis. Selain itu satu titik muncul di Kabupaten Kampar dan satu titik lagi berada di Rokan Hulu.
“Di Riau ada lima titik panas, masing-masing tiga di Bengkalis, satu di Kampar, dan satu di Rokan Hulu,” jelas Deby.
Kemunculan hotspot di daerah tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah memiliki lahan gambut. Kondisi ini membuat daerah tersebut lebih rentan terbakar ketika suhu meningkat dan curah hujan menurun.
Karena itu, pemantauan lanjutan terus dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi di lapangan.
Waspada Karhutla di Awal Musim Kering
Tren kemunculan hotspot pada awal Maret dianggap sebagai sinyal kewaspadaan dini. Aktivitas titik panas sering meningkat ketika memasuki periode cuaca lebih kering. BMKG terus melakukan pemantauan berbasis satelit setiap hari. Data tersebut menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mengambil langkah pencegahan.
Petugas di daerah diminta meningkatkan patroli darat serta pengecekan langsung di lokasi yang terdeteksi. Langkah ini penting untuk memastikan apakah titik panas berasal dari aktivitas pembakaran atau hanya anomali suhu di permukaan tanah.
Pencegahan dini dinilai menjadi cara paling efektif menghindari meluasnya kebakaran hutan dan lahan. “Pemantauan terus dilakukan agar potensi kebakaran bisa diantisipasi lebih awal,” ujar Deby.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar