Gadis Riau Sakit Parah di Kamboja, Polda Riau Selidiki Dugaan Perdagangan Orang
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau bergerak cepat menelusuri kasus memilukan yang menimpa seorang perempuan muda asal Kabupaten Siak. Perempuan berinisial SS itu dilaporkan berada dalam kondisi memprihatinkan di Phnom Penh, Kamboja, setelah sebelumnya berpamitan bekerja di Malaysia.
Kabar tersebut langsung memicu langkah penyelidikan aparat. Polisi mulai mengumpulkan informasi dari keluarga korban sekaligus menelusuri kemungkinan adanya jaringan perdagangan orang di balik perjalanan yang berujung tragedi ini.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Pol Hasyim Risahondua memastikan pihaknya telah membuka penyelidikan awal untuk memastikan keselamatan korban dan mengungkap pihak yang bertanggung jawab. “Kami langsung melakukan pengumpulan informasi dari keluarga korban dan menelusuri alur keberangkatan korban,” kata Hasyim, Rabu (4/3/2026).
Polda Riau Mulai Penyelidikan
Langkah pertama dilakukan dengan mendatangi keluarga korban di Desa Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, Kabupaten Siak. Polisi menggali kronologi keberangkatan hingga komunikasi terakhir korban dengan keluarga.
Hasyim menjelaskan penyelidikan masih berada pada tahap awal. Tim penyidik berusaha memastikan jalur keberangkatan korban serta pihak yang mendampingi perjalanan tersebut.
“Kami mendalami apakah kasus ini berkaitan dengan tindak pidana perdagangan orang atau jaringan penipuan internasional,” ujar Hasyim.
Polisi juga menelusuri sosok yang disebut mendampingi korban saat berangkat dari Pekanbaru. Nama tersebut kini menjadi salah satu fokus penyelidikan aparat.
Selain itu, Polda Riau mulai membangun koordinasi dengan sejumlah instansi. Termasuk lembaga pemerintah yang menangani perlindungan pekerja migran.
Koordinasi lintas lembaga penting dilakukan karena kasus ini melibatkan pergerakan warga negara Indonesia ke luar negeri. Aparat juga membuka jalur komunikasi dengan otoritas internasional.
Langkah ini bertujuan memastikan posisi korban di Kamboja sekaligus menjamin keselamatannya. Polisi ingin memastikan korban benar-benar berada di fasilitas kesehatan yang disebutkan.
“Kami bekerja sama dengan instansi terkait serta perwakilan Indonesia di luar negeri untuk menelusuri keberadaan korban,” kata Hasyim.

Berangkat ke Malaysia, Berakhir di Kamboja
Kisah ini bermula pada Desember 2025. Korban berpamitan kepada keluarga untuk bekerja di Malaysia sebagai tenaga kerja wanita.
Ia berangkat dari Pekanbaru bersama seorang kenalan yang disebut keluarga bernama Bram Silitonga. Keluarga sempat merasa tenang karena korban mengabarkan sudah tiba di Malaysia.
Ayah korban, J Sinaga, masih mengingat percakapan terakhir itu. Ia hanya berpesan agar putrinya segera memberi kabar ketika sudah sampai di negara tujuan.
“Saya bilang sama dia, kalau sudah sampai telepon ya. Dia bilang sudah sampai di Malaysia,” ujar J Sinaga.
Beberapa waktu kemudian, korban kembali menghubungi keluarga. Ia menunjukkan uang hasil kerja dalam bentuk pecahan dolar.
Namun korban tidak menjelaskan detail pekerjaan maupun lokasi tempatnya bekerja. Komunikasi itu justru menjadi salah satu pesan terakhir sebelum kabar buruk datang.
Pada Januari 2026, keluarga menerima informasi mengejutkan. Korban disebut sedang sakit dan membutuhkan perawatan medis.
Situasi semakin membingungkan ketika diketahui korban tidak berada di Malaysia. Ia justru berada di Phnom Penh, Kamboja.
Keluarga Diminta Kirim Uang Hingga Rp90 Juta
Kabar sakitnya korban disampaikan oleh orang yang mendampingi perjalanan korban. Keluarga diminta mengirimkan uang untuk biaya pengobatan.
Tanpa banyak pertanyaan, keluarga langsung berusaha membantu. Mereka khawatir kondisi korban semakin memburuk. “Pertama kami kirim Rp40 juta,” kata J Sinaga.
Permintaan uang tidak berhenti. Beberapa kali keluarga kembali diminta mengirimkan dana tambahan.
Total uang yang sudah dikirim keluarga mencapai sekitar Rp90 juta. Situasi ini membuat keluarga semakin curiga.
Kecurigaan semakin kuat setelah mereka mengetahui korban berada di Kamboja. Padahal keluarga hanya mengetahui tujuan keberangkatan ke Malaysia.
Di tengah situasi itu, muncul pula ancaman dari orang yang mengaku mendampingi korban. Keluarga diminta segera mengirim uang tambahan.
Jika tidak dipenuhi, korban disebut akan menerima tindakan medis berbahaya. Ancaman tersebut membuat keluarga semakin panik.
Dugaan Perdagangan Orang
Polda Riau menilai kasus ini memiliki sejumlah indikasi serius. Salah satunya berkaitan dengan keberangkatan kerja luar negeri tanpa prosedur resmi.
Praktik penempatan kerja ilegal sering menjadi pintu masuk eksploitasi tenaga kerja. Banyak korban berakhir di jaringan penipuan daring internasional.
Hasyim menyebut penyelidikan terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan tersebut. “Kami menelusuri apakah korban dibawa ke jaringan scam internasional atau bentuk eksploitasi lainnya,” ujarnya.
Sementara itu keluarga berharap korban segera ditemukan dan dipulangkan ke Indonesia. Mereka hanya ingin memastikan kondisi korban selamat.
Foto dan rekaman video yang beredar memperlihatkan korban terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Selang medis terlihat terpasang di wajahnya.
Bagi keluarga di Siak, harapan kini tertuju pada upaya aparat dan pemerintah. Mereka ingin putrinya pulang setelah melewati pengalaman pahit yang tidak pernah dibayangkan.
Polda Riau juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap tawaran kerja luar negeri yang menjanjikan proses mudah.
“Jangan mudah tergiur tawaran kerja tanpa dokumen resmi. Risiko eksploitasi sangat besar,” kata Hasyim.
Penyelidikan terus berjalan. Polisi berusaha menelusuri setiap jejak perjalanan korban demi membuka tabir kasus ini sekaligus menyelamatkan satu nyawa warga Riau di negeri orang.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar