Karhutla Mengganas di Riau! 5 Daerah Resmi Siaga Darurat, Lahan Terbakar Tembus 1.000 Hektare
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Api mulai merayap di berbagai wilayah Riau. Lima kabupaten resmi menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan setelah hotspot meningkat tajam. Awal tahun ini saja, luas lahan yang terbakar sudah melampaui 1.000 hektare.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah memperketat pengawasan di wilayah rawan kebakaran. Patroli darat ditingkatkan, deteksi dini diperluas, dan tim pemadam diminta siaga penuh di sejumlah titik yang kerap terbakar saat musim kemarau datang.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Pemerintah provinsi juga mengingatkan seluruh daerah agar memperkuat koordinasi lintas instansi. Langkah pencegahan dianggap lebih penting agar api tidak menjalar lebih luas seperti yang pernah terjadi pada musim kemarau sebelumnya.
Lima Daerah Resmi Siaga Darurat
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran Riau melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Jim Gafur, menyampaikan lima daerah sudah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan.
Lima daerah tersebut terdiri dari Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hilir, Bengkalis, Siak, serta Kampar. Penetapan status ini dilakukan setelah peningkatan titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah.
“Sudah lima daerah di Riau menetapkan status siaga darurat karhutla. Daerah itu Pelalawan, Indragiri Hilir, Bengkalis, Siak, dan Kampar,” kata Jim Gafur, Rabu (4/3).
Menurut dia, peningkatan hotspot menjadi sinyal kuat potensi kebakaran lebih luas jika tidak ditangani sejak awal. Pemerintah daerah diminta bergerak cepat memperkuat langkah mitigasi.
Apel kesiapsiagaan karhutla juga didorong agar seluruh pemangku kepentingan terlibat aktif. Mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga masyarakat di sekitar kawasan rawan kebakaran.
Jim menegaskan upaya pencegahan menjadi kunci utama. Tanpa tindakan cepat, api kecil bisa berkembang menjadi kebakaran besar dalam waktu singkat.

Patroli dan Deteksi Dini Diperkuat
Pemerintah daerah diminta meningkatkan patroli rutin di wilayah yang sering muncul titik panas. Tim lapangan juga diminta melakukan pengecekan langsung atau ground checking setiap kali hotspot terdeteksi melalui satelit.
Langkah ini dilakukan agar titik api bisa segera dipadamkan sebelum meluas. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan kebakaran sering bermula dari api kecil di lahan gambut.
“Meningkatkan deteksi dini serta patroli hotspot penting agar penanganan bisa cepat dilakukan,” ujar Jim.
Selain patroli, pemerintah daerah juga diminta mengaktifkan sosialisasi kepada masyarakat. Warga diingatkan tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama di wilayah perkebunan dan lahan gambut.
Imbauan disampaikan langsung melalui camat, lurah, serta kepala desa. Cara ini dinilai lebih efektif karena masyarakat di tingkat desa biasanya memiliki kedekatan langsung dengan aparat setempat.
Pemerintah daerah juga diminta menyiagakan seluruh sumber daya. Personel pemadam, peralatan, hingga logistik harus tersedia jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Koordinasi Lintas Instansi
Penanganan karhutla tidak hanya melibatkan pemerintah daerah. Berbagai pihak turut dilibatkan agar respons di lapangan lebih cepat dan terkoordinasi.
Jim menyebut kerja sama dengan unsur Forkopimda, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, hingga tokoh masyarakat harus diperkuat. Dunia usaha dan kalangan akademisi juga diharapkan ikut mendukung langkah pencegahan.
“Kerja sama semua pihak penting agar penanganan karhutla lebih efektif,” ujarnya.
Upaya pembasahan lahan juga mulai dilakukan di sejumlah wilayah rawan. Metode ini bertujuan menjaga kelembapan tanah agar api tidak mudah menyala, terutama di kawasan gambut yang mudah terbakar.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pencegahan yang dilakukan sebelum kebakaran meluas. Pemerintah berharap metode ini bisa mengurangi risiko kebakaran besar.
Lebih 1.000 Hektare Lahan Terbakar
Data BPBD Riau mencatat sejak awal tahun sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan di 11 kabupaten dan kota. Total luas lahan terbakar mencapai 1.041,74 hektare.
Wilayah dengan kebakaran terluas tercatat di Kabupaten Pelalawan. Luas lahan yang terbakar di daerah ini mencapai 612,30 hektare.
Kabupaten Bengkalis menempati posisi kedua dengan luas kebakaran 201,01 hektare. Sementara Indragiri Hilir mencatat luas kebakaran sekitar 64,70 hektare.
Di Kabupaten Siak, luas lahan terbakar tercatat sekitar 63,53 hektare. Kota Dumai mengalami kebakaran sekitar 30,52 hektare, sementara Kampar sekitar 29,50 hektare.
Beberapa daerah lain juga melaporkan kejadian kebakaran dengan skala lebih kecil. Kepulauan Meranti tercatat sekitar 13,40 hektare, Pekanbaru 14,08 hektare, Rokan Hilir 10 hektare, Kuantan Singingi 1,50 hektare, dan Indragiri Hulu sekitar 1,20 hektare.
“Hingga sekarang sudah 11 daerah di Riau mengalami karhutla. Total luas lahan terbakar mencapai 1.041,74 hektare,” kata Jim.
Angka tersebut menjadi peringatan awal bagi pemerintah daerah. Jika kondisi cuaca semakin kering, potensi kebakaran dikhawatirkan meningkat.
Karena itu, seluruh daerah diminta tidak lengah. Upaya pencegahan harus dilakukan sejak dini agar Riau tidak kembali menghadapi bencana asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar