Bupati Afni Ungkap Rahasia Harmoni di Siak Saat Ramadan dan Cap Go Meh Bersamaan

Bupati Siak Dr Afni Zulkifli menerima kehormatan dari atraksi Barongsai pada peringatan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan Cap Go Meh di Kelenteng Hock Siu Kiong, Kecamatan Siak. (ist)

SIAK, RIAUKU.COM – Bupati Siak, Dr Afni Zulkifli, menegaskan Cap Go Meh bukan hanya tradisi tahunan, melainkan simbol kuat persatuan masyarakat Kabupaten Siak. Pernyataan ini disampaikannya saat menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang dirangkaikan dengan Cap Go Meh di Kelenteng Hock Siu Kiong, Kecamatan Siak, Selasa malam (3/3/2026).

Kegiatan berlangsung meriah dan penuh kebersamaan. Hadir dalam kesempatan itu unsur Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, Lembaga Adat Melayu, organisasi kepemudaan, serta ratusan warga dari berbagai latar belakang. “Kehadiran kita malam ini adalah bukti bahwa Siak adalah rumah besar bagi semua,” ujar Afni.

Momentum Cap Go Meh yang bersamaan dengan bulan suci Ramadan menjadi cermin toleransi yang terjalin harmonis. Afni menekankan perbedaan bukanlah jarak, melainkan kekuatan yang menyatukan masyarakat. “Di saat umat Muslim menjalankan Ramadan, saudara-saudara kita merayakan Cap Go Meh dengan penuh suka cita. Inilah wajah harmoni Siak yang harus kita jaga bersama,” tuturnya.

Warisan Budaya dan Kebersamaan

Bupati perempuan pertama di Siak itu juga mengenang kedekatannya dengan kawasan Pecinan sejak kecil. Menurut Afni, nilai kebersamaan antar komunitas telah tumbuh jauh sebelum pembangunan modern berkembang. “Nilai-nilai persaudaraan ini harus terus kita wariskan kepada generasi penerus agar mereka merasakan hangatnya kebersamaan seperti yang kita rasakan hari ini,” ujarnya.

Kelenteng Hock Siu Kiong yang berusia sekitar 128 tahun menjadi saksi sejarah dan warisan budaya Kabupaten Siak. Afni mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendokumentasikan dan merawat sejarah lokal agar tetap terjaga. “Kelenteng ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi bagian dari jejak sejarah panjang Siak. Cerita tentang hubungan harmonis antara komunitas Tionghoa dan Kesultanan Siak harus kita rangkai dan dokumentasikan dengan baik,” katanya.

Ia juga mengenang peristiwa kebakaran besar yang pernah melanda kawasan tersebut. Namun, kelenteng tetap berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan masyarakat. “Musibah pernah datang, tetapi kebersamaan kita jauh lebih kuat. Kita bersyukur kelenteng ini tetap berdiri sebagai simbol persatuan masyarakat Siak,” tambahnya.

Kelenteng Hock Siu Kiong yang sudah berumur lebih dari 1 Abad.jpg

Sarana Silaturahmi dan Pariwisata

Ketua Panitia Perayaan, Joni Chang, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Bupati Siak, Kapolres Siak, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, sponsor, donatur, dan seluruh warga yang menyemarakkan perayaan. Menurutnya, Cap Go Meh menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga di Kabupaten Siak yang majemuk.

“Budaya Tionghoa merupakan bagian dari mozaik kebudayaan Indonesia, khususnya di Kabupaten Siak. Kami berharap momentum ini berkontribusi terhadap promosi pariwisata dan pertumbuhan UMKM di daerah,” ujar Joni.

Perayaan tahun ini semakin semarak dengan pemasangan sekitar 1.500 lampion yang menghiasi kawasan kelenteng. Rangkaian kegiatan diisi pertunjukan barongsai, seni budaya, kuliner khas Cap Go Meh, dan prosesi penyalaan kembang api sebagai simbol puncak perayaan.

Seluruh rangkaian berlangsung aman, tertib, dan penuh kebersamaan. Masyarakat dan pengunjung dari berbagai daerah dapat merasakan semangat toleransi, persatuan, dan gotong royong yang kuat di Negeri Istana.*01*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.