Nipah Bisa Bunuh 75 Persen Penderitanya, Ini Penjelasan Resmi dari Dinas PKH Riau
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Pemerintah Provinsi Riau memastikan wilayahnya masih aman dari virus Nipah. Penegasan ini disampaikan setelah meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi pada manusia.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riau, Mimi Yuliani Nazir, menyampaikan informasi tersebut dalam audiensi lintas sektor yang digelar di Aula Dinas PKH Riau, Pekanbaru, Rabu 4 Maret 2026.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Pertemuan tersebut dihadiri berbagai pihak, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Perkebunan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Karantina, hingga akademisi dari Universitas Riau. “Untuk saat ini, di Provinsi Riau belum ditemukan kasus virus Nipah. Kami berharap kondisi ini tetap terjaga,” kata Mimi.
Audiensi tersebut digelar sebagai langkah antisipasi dini. Pemerintah daerah ingin memastikan kesiapan semua pihak menghadapi potensi ancaman penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia itu.
Menurut Mimi, koordinasi lintas sektor sangat penting. Ancaman penyakit zoonosis tidak bisa ditangani satu instansi saja. “Kita tidak ingin kecolongan. Virus Nipah memiliki tingkat kematian tinggi pada manusia. Karena itu kewaspadaan perlu diperkuat sejak dini,” ujarnya.
Penyakit Mematikan yang Berasal dari Satwa
Virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1998 di Malaysia. Wabah saat itu menimbulkan dampak besar terhadap sektor peternakan dan kesehatan masyarakat.
Penularan alami virus ini melibatkan kelelawar buah sebagai reservoir utama. Hewan tersebut menyimpan virus dalam tubuhnya tanpa menunjukkan gejala penyakit.
Virus kemudian dapat berpindah ke hewan lain seperti babi. Hewan ternak ini berperan sebagai perantara yang meningkatkan risiko penularan kepada manusia.
Dalam sejumlah kasus di berbagai negara, angka kematian akibat virus Nipah mencapai 40 hingga 75 persen. Angka tersebut menjadikan virus ini sebagai salah satu penyakit zoonosis paling berbahaya.
Beberapa faktor risiko dinilai dapat meningkatkan potensi penyebaran virus. Kedekatan habitat kelelawar dengan permukiman manusia menjadi salah satu penyebab utama.
Selain itu, aktivitas perburuan dan perdagangan kelelawar juga meningkatkan risiko paparan virus. Sanitasi pasar hewan yang kurang baik serta populasi babi dalam jumlah besar juga perlu mendapat perhatian.
“Karena itu masyarakat diminta lebih waspada. Jika ada gejala mencurigakan pada hewan ternak, segera laporkan kepada petugas,” ujar Mimi.
Gejala pada hewan biasanya meliputi demam, gangguan pernapasan, hingga gangguan saraf. Pada babi muda, infeksi bahkan dapat menyebabkan kematian mendadak.

Cara Penularan dan Langkah Pencegahan
Virus Nipah dapat menular melalui beberapa jalur. Salah satunya melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti kelelawar buah atau babi.
Paparan cairan tubuh hewan seperti darah, air liur, dan urin juga berpotensi menularkan virus kepada manusia. Risiko meningkat ketika manusia melakukan kontak tanpa perlindungan.
Penularan juga dapat terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Contohnya nira mentah atau buah yang terkena cairan tubuh kelelawar.
Dalam beberapa wabah di Bangladesh dan India, virus menyebar tanpa melibatkan hewan ternak sebagai perantara. Penularan terjadi langsung dari kelelawar ke manusia.
Berbeda dengan wabah di Malaysia, Singapura, dan Filipina. Pada kasus tersebut, babi menjadi hewan perantara sebelum virus menyebar ke manusia.
Virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat. Penularan biasanya terjadi melalui droplet atau cairan tubuh penderita.
“Penanganan medis saat ini masih bersifat suportif. Dokter hanya dapat meredakan gejala seperti demam, gangguan pernapasan, hingga radang otak,” kata Mimi.
Hingga kini belum tersedia obat khusus untuk menyembuhkan virus Nipah. Beberapa kandidat vaksin masih dalam tahap penelitian dan uji klinis.
Pencegahan Jadi Kunci Utama
Karena belum tersedia terapi spesifik, pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menghindari penyebaran virus Nipah.
Masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan kelelawar maupun babi yang sakit. Konsumsi nira mentah juga perlu dihindari karena berpotensi terkontaminasi virus.
Buah dan sayuran harus dicuci bersih sebelum dikonsumsi. Daging juga perlu dimasak hingga matang sempurna untuk mengurangi risiko penularan.
Kebersihan tangan juga menjadi hal penting. Tangan harus dicuci menggunakan sabun dan air mengalir sebelum dan setelah berinteraksi dengan hewan.
Petugas atau peternak juga disarankan menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan kandang. Langkah ini penting untuk mengurangi paparan terhadap cairan tubuh hewan.
Dinas PKH Riau juga telah menyebarkan surat edaran dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. Surat tersebut berisi instruksi peningkatan kewaspadaan terhadap virus Nipah di seluruh daerah.
“Intinya saat ini belum ada kasus di Riau. Kita berdoa dan berupaya bersama agar daerah ini tetap aman,” tutup Mimi. *01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar