Daratan Gambut Riau Kembali Membara, 77 Hotspot Muncul di Sumatera
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Aktivitas titik panas di Pulau Sumatera kembali meningkat. Data pemantauan satelit mencatat puluhan hotspot muncul di sejumlah provinsi pada Rabu, 4 Maret 2026. Kondisi ini memicu kewaspadaan karena beberapa wilayah memiliki lahan gambut yang mudah terbakar.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika melalui Stasiun BMKG Pekanbaru mencatat total 77 titik panas terdeteksi di seluruh Sumatera. Titik-titik tersebut tersebar di delapan provinsi dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah Sumatera Selatan dan Sumatera Barat.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Sanya, mengatakan pemantauan dilakukan melalui citra satelit yang memantau aktivitas panas di permukaan bumi. Data tersebut menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 77 titik yang tersebar di beberapa provinsi,” kata Sanya dalam keterangan resmi.
Sebaran Hotspot di Delapan Provinsi Sumatera
Data BMKG Pekanbaru memperlihatkan penyebaran hotspot hampir merata di wilayah Sumatera. Setiap provinsi menunjukkan aktivitas panas dengan jumlah yang berbeda.
Aceh tercatat memiliki 11 titik panas. Sumatera Utara terdeteksi empat titik. Sumatera Barat mencapai 14 titik, sedangkan Jambi mencatat 11 titik.
Provinsi Kepulauan Riau terpantau tiga hotspot. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi yakni 16 titik panas. Bangka Belitung tercatat empat titik dan Riau menyumbang 14 hotspot.
Angka tersebut menunjukkan potensi kebakaran lahan mulai muncul di sejumlah wilayah. Aktivitas hotspot biasanya meningkat saat cuaca kering berlangsung dalam beberapa hari.
Sanya menjelaskan pemantauan satelit dilakukan secara berkala setiap hari. Data tersebut menjadi sistem peringatan dini untuk mendeteksi potensi karhutla.
“Pemantauan dilakukan rutin untuk melihat perkembangan titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran hutan dan lahan,” ujarnya.
Riau Jadi Perhatian karena Lahan Gambut
Di Provinsi Riau, sebanyak 14 hotspot terdeteksi pada hari yang sama. Sebaran titik panas tersebut muncul di beberapa kabupaten yang dikenal memiliki lahan gambut luas.
Kabupaten Bengkalis dan Kampar menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak. Masing-masing terdeteksi lima titik panas. Kondisi ini membuat dua daerah tersebut kembali menjadi sorotan dalam pemantauan karhutla.
Selain itu, Kota Dumai terpantau satu titik panas. Kabupaten Pelalawan juga tercatat satu titik. Kabupaten Indragiri Hilir memiliki dua hotspot.
Wilayah pesisir dan lahan gambut memang rentan terbakar saat kelembapan tanah menurun. Api yang muncul di gambut sering sulit dipadamkan karena merambat di bawah permukaan tanah.
BMKG mengingatkan peningkatan hotspot perlu diwaspadai sejak dini. Langkah pencegahan menjadi kunci agar titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran besar.
Ancaman Karhutla Mulai Diwaspadai
Peningkatan hotspot sering menjadi sinyal awal munculnya kebakaran hutan dan lahan. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah Riau berkali-kali menghadapi kebakaran yang berdampak luas.
Kabupaten Bengkalis dan Kampar termasuk daerah yang kerap masuk daftar wilayah rawan karhutla. Lahan gambut luas serta aktivitas pembukaan lahan menjadi faktor yang meningkatkan risiko kebakaran.
Kondisi cuaca juga berperan besar dalam kemunculan hotspot. Saat hujan berkurang dan suhu meningkat, vegetasi serta gambut menjadi lebih mudah terbakar.
Pemerintah daerah biasanya meningkatkan patroli dan pemantauan lapangan saat jumlah hotspot mulai naik. Upaya ini dilakukan untuk mencegah api meluas dan menimbulkan kabut asap.
BMKG terus memperbarui data pemantauan satelit setiap hari. Informasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dan aparat untuk menentukan langkah pencegahan di wilayah rawan.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar