Terbongkar! Jalur Narkoba Malaysia–Riau Diduga Dikendalikan Jaringan Ko Erwin

Bandar narkoba internasionak Erwin Iskandar alias Ko Erwin. (sumber:detik.com)

JAKARTA, RIAUKU.COM - Penangkapan bandar narkoba Erwin Iskandar alias Ko Erwin menjadi pintu masuk pengungkapan jaringan besar peredaran sabu di Indonesia. Aparat kepolisian kini memburu sejumlah orang yang diduga menjadi bagian penting dari jaringan tersebut. Riau ikut terseret dalam pusaran kasus ini karena disebut sebagai salah satu jalur masuk narkotika dari luar negeri.

Ko Erwin ditangkap aparat Bareskrim Polri pada Kamis, 26 Februari 2026. Penangkapan terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara, saat ia berada di atas kapal yang diduga hendak melarikan diri ke Malaysia. Sejak saat itu, penyidik bergerak memburu jaringan yang selama ini berada di belakang operasi bisnis narkoba tersebut.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso menyebut ada beberapa nama yang kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Mereka diduga memiliki peran penting dalam distribusi narkotika ke berbagai daerah, termasuk melalui wilayah Riau.

“Beberapa orang sudah masuk radar penyidik. Mereka memiliki peran berbeda dalam jaringan yang selama ini dikendalikan Ko Erwin,” ujar Eko di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Jalur Riau Jadi Pintu Masuk Narkoba

Penyelidikan mengungkap salah satu sosok penting dalam jaringan ini, yakni Andre Fernando alias The Doctor. Polisi telah menerbitkan surat DPO terhadap pria berusia 32 tahun tersebut sejak 1 Maret 2026.

Andre diduga berperan sebagai pemasok utama narkoba untuk Ko Erwin. Ia dikenal sebagai distributor yang memasukkan berbagai jenis narkotika ke Indonesia melalui jalur darat maupun kargo.

“Ko Andre atau The Doctor menyediakan berbagai jenis narkoba seperti sabu, vape yang mengandung etomidate, hingga happy water,” kata Brigjen Eko.

Nama Riau muncul dalam jalur distribusi jaringan tersebut. Polisi menemukan indikasi pengiriman cartridge vape mengandung etomidate dari Malaysia melalui jalur laut yang masuk lewat Dumai.

Peredaran narkotika tidak hanya dilakukan secara konvensional. Modus pengiriman juga semakin beragam agar sulit terdeteksi aparat. “Pengiriman sabu sering disamarkan dalam paket kargo. Barang dimasukkan ke boneka kemudian dibungkus dalam kotak kado,” ujar Eko.

Transaksi hingga Miliaran Rupiah

Penyidik mengungkap transaksi antara Ko Erwin dan Andre terjadi pada awal 2026. Nilai transaksi mencapai ratusan juta rupiah untuk setiap pengiriman sabu.

Transaksi pertama berlangsung pada Januari 2026. Saat itu Ko Erwin membeli sabu seberat dua kilogram dengan nilai sekitar Rp400 juta.

Tak lama kemudian terjadi transaksi kedua. Pada pembelian tersebut Ko Erwin menerima sabu seberat tiga kilogram dengan nilai yang sama.

Jaringan ini diduga memiliki sistem distribusi yang terorganisir. Narkotika kemudian diedarkan ke berbagai wilayah di Indonesia.

Dua Buronan Lain Masih Diburu Polisi

Selain Andre Fernando, dua nama lain juga masuk daftar pencarian orang. Mereka adalah A Hamid alias Boy dan Satriawan alias Awan.

A Hamid alias Boy diduga berperan dalam aliran dana jaringan narkoba tersebut. Ia disebut memberikan uang sebesar Rp1,8 miliar kepada seorang pejabat kepolisian melalui perantara.

Uang tersebut diduga digunakan sebagai bentuk perlindungan agar bisnis narkoba berjalan lancar. Kasus ini kemudian menyeret sejumlah oknum aparat dalam proses penyidikan.

Sementara itu Satriawan disebut berhasil melarikan diri saat penggeledahan yang dilakukan penyidik beberapa waktu lalu. Polisi masih terus menelusuri keberadaannya.

“Dua DPO ini masih terus kami kejar. Pencarian dilakukan bersama tim Bareskrim Polri dan Ditresnarkoba Polda NTB,” kata Eko.

Polisi Perketat Jalur Laut di Riau

Munculnya nama Riau dalam jalur distribusi narkoba membuat aparat meningkatkan kewaspadaan di wilayah perbatasan laut. Kota Dumai yang berbatasan langsung dengan Malaysia menjadi titik perhatian utama.

Jalur laut selama ini dikenal sebagai rute rawan penyelundupan narkotika dari negara tetangga. Pelaku sering memanfaatkan jalur perdagangan maupun pelayaran kecil untuk menghindari pengawasan.

Penguatan patroli laut dan pengawasan kargo menjadi langkah yang terus dilakukan aparat. Kerja sama lintas instansi juga diperkuat agar jaringan seperti milik Ko Erwin tidak kembali berkembang.

Polisi berharap pengungkapan jaringan ini dapat memutus rantai distribusi narkoba lintas wilayah. Perburuan terhadap para buronan masih berlangsung hingga kini.

“Kami terus melakukan pengejaran. Siapa pun yang terlibat dalam jaringan ini akan ditindak tegas,” ujar Eko.*01*


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.