Trump Tenggelamkan Kapal Iran, Kongres Siap Hentikan Perangnya
WASHINGTON DC, RIAUKU.COM — Ketegangan politik di Washington memuncak ketika Kongres Amerika Serikat bersiap menggelar pemungutan suara untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam perang melawan Iran. Ancaman legislator muncul setelah serangan militer besar-besaran AS terhadap Teheran dan klaim penenggelaman kapal perang Iran oleh militer Amerika.
Di tengah operasi militer yang terus meluas di Timur Tengah, sejumlah anggota parlemen menilai presiden telah melangkahi konstitusi. Mereka menuntut persetujuan Kongres sebelum perang berkembang menjadi konflik panjang.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
Perdebatan ini berkembang cepat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi udara terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Laporan awal menyebut ratusan target militer Iran dihantam dalam kampanye besar yang dinamai Operation Epic Fury.

Kongres Bersiap Batasi Kekuasaan Presiden
Kritik paling keras datang dari senator Partai Demokrat, Tim Kaine. Ia menilai keputusan presiden memulai perang tanpa otorisasi parlemen sebagai tindakan berbahaya.
“Trump telah meluncurkan perang yang tidak perlu, bodoh, dan ilegal terhadap Iran,” tulis Kaine di media sosial X, seperti dikutip dari laporan Kompas.com.
Kaine sejak Januari telah mengajukan rancangan undang-undang yang memaksa presiden meminta persetujuan Kongres sebelum memulai konflik militer dengan Iran. Ia kini mendesak Senat segera melakukan pemungutan suara untuk menghentikan eskalasi.
Dalam artikel opini di The Wall Street Journal, Kaine menegaskan ia tidak melihat ancaman mendesak dari Iran. “Saya dapat menyatakan dengan jelas tidak ada ancaman langsung yang cukup untuk membenarkan pengiriman putra-putri kita ke perang baru di Timur Tengah,” tulisnya.
Legalitas Perang Diperdebatkan
Perdebatan di Washington berpusat pada legalitas operasi militer tersebut. Konstitusi Amerika memberi kewenangan kepada Kongres untuk menyatakan perang.
Namun presiden masih memiliki celah melalui War Powers Resolution of 1973. Aturan ini memungkinkan intervensi militer terbatas tanpa persetujuan awal Kongres dalam kondisi darurat.
Gedung Putih menyatakan delapan pemimpin Kongres telah diberi pemberitahuan sebelum serangan dimulai. Pemerintah menilai Iran menghadirkan ancaman langsung bagi keamanan Amerika. Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menyebut konflik ini secara terbuka sebagai “perang”.

Ancaman Voting dan Veto Presiden
Meski kritik terus muncul, peluang membatasi Trump tetap menghadapi hambatan politik. Mayoritas anggota Partai Republik di Kongres diperkirakan akan melindungi presiden.
Anggota DPR dari Partai Republik, Thomas Massie, termasuk sedikit tokoh partainya yang menentang perang. Ia bekerja sama dengan anggota Demokrat Ro Khanna untuk memaksa pemungutan suara di DPR.
“Konstitusi mewajibkan adanya pemungutan suara. Rakyat berhak tahu apakah wakilnya mendukung perang ini atau tidak,” tulis Massie di X.
Jika resolusi pembatasan lolos sekalipun, Trump masih memiliki senjata politik terakhir: hak veto presiden. Untuk membatalkan veto itu, Kongres memerlukan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar.
Situasi ini membuat Washington terjebak dalam ketegangan konstitusional di tengah konflik militer yang terus membesar di Timur Tengah. Sementara bom masih jatuh di Iran, pertarungan kekuasaan justru memanas di Capitol Hill.

Klaim Trump Tenggelamkan Kapal Iran
Sementara perdebatan politik memanas di Washington, Trump justru memamerkan keberhasilan operasi militer. Ia mengklaim sembilan kapal perang Iran telah dihancurkan dalam serangan terbaru.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menulis, “Saya baru saja diberi tahu kami telah menghancurkan dan menenggelamkan sembilan kapal Angkatan Laut Iran.”
Ia menambahkan markas besar angkatan laut Iran mengalami kerusakan besar. Dengan nada sarkastik, Trump menyindir kemampuan militer Teheran. “Angkatan laut mereka berjalan sangat baik,” tulisnya.
Trump bahkan berjanji memburu armada Iran yang tersisa. “Kami akan mengejar sisanya. Mereka akan segera mengapung di dasar laut juga,” tulisnya.
Komando militer United States Central Command atau CENTCOM mengonfirmasi serangan terhadap kapal perang Iran di Teluk Oman. Target utama adalah korvet kelas Jamaran yang berlabuh di pelabuhan Chah Bahar. “Kapal itu sedang tenggelam ke dasar Teluk Oman,” tulis CENTCOM melalui platform X.
Menurut laporan militer Amerika, lebih dari seribu target Iran telah diserang sejak operasi dimulai. Sasaran termasuk fasilitas militer serta markas Islamic Revolutionary Guard Corps.
Pengebom siluman Northrop B-2 Spirit juga digunakan untuk menghantam fasilitas rudal balistik Iran dengan bom seberat dua ribu pon.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar