Heboh di Pekanbaru! Warga Labuh Baru Timur Sulap Sampah Jadi Sabun dan Lilin

Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, meresmikan pendirian Kelompok Masyarakat Sadar Sampah (Kemas) di Kelurahan Labuh Baru Timur, Kota Pekanbaru. (ist)

PEKANBARU, RIAUKU.COM - Suasana terasa berbeda pada Senin, 2 Maret 2026, siang di RW 01 Kelurahan Labuh Baru Timur, Kota Pekanbaru. Warga berkumpul di halaman permukiman. Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho datang meresmikan kawasan Kelompok Masyarakat Sadar Sampah atau Kemas, gerakan warga menekan sampah sejak dari dapur rumah.

Peresmian berlangsung sederhana. Spanduk bertuliskan gerakan sadar sampah terbentang di halaman lingkungan. Warga berdiri berjejer menyambut kedatangan wali kota.

Program ini lahir dari kegelisahan warga terhadap tumpukan sampah rumah tangga. Mereka ingin mengubah cara pandang terhadap sampah. Sampah tidak lagi dilihat sebagai limbah, melainkan sumber daya yang masih memiliki nilai.

Pemerintah Kota Pekanbaru menjadikan langkah ini sebagai contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Gerakan dimulai dari tingkat rumah tangga. Warga memegang peran utama.

Dalam sambutannya, Agung memuji kemandirian warga. Ia melihat gerakan ini tumbuh dari kesadaran lingkungan. Inisiatif muncul tanpa bergantung pada anggaran daerah.

“Alhamdulillah, hari ini kawasan Kemas resmi berjalan. Warga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Sampah dapat berubah menjadi sesuatu yang produktif,” kata Agung di lokasi kegiatan, dikutip dari keterangan Pemerintah Kota Pekanbaru.

Warga Mulai Memilah Sampah dari Rumah

Program Kemas di RW 01 telah menjangkau puluhan rumah. Sebanyak 70 keluarga ikut terlibat dalam gerakan ini. Aktivitas pemilahan sampah dilakukan setiap hari.

Warga memisahkan sampah menjadi tiga kategori. Sampah organik, anorganik, dan residu ditempatkan dalam wadah berbeda. Pola ini memudahkan proses pengolahan berikutnya.

Sistem tersebut mengurangi volume sampah yang harus diangkut petugas kebersihan. Sebagian besar sampah selesai diproses di lingkungan warga. Tempat Pembuangan Akhir hanya menerima sisa residu.

Langkah ini membuat lingkungan terlihat lebih bersih. Bau sampah berkurang drastis. Warga juga mulai terbiasa memilah sampah sejak dari dapur rumah.

Gerakan ini mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru. Pemerintah kota memandang program tersebut sebagai solusi praktis mengatasi persoalan sampah perkotaan. Program lahir dari kesadaran warga sendiri.

Agung menilai pola ini dapat menekan beban pengelolaan sampah kota. “Jika setiap lingkungan menerapkan sistem seperti ini, jumlah sampah menuju TPA dapat berkurang signifikan,” ujar Agung.

Teknologi Digital Ikut Memantau Sampah

Gerakan Kemas tidak hanya mengandalkan kerja manual warga. Pengurus lingkungan memanfaatkan teknologi digital. Sebuah aplikasi digunakan untuk memantau volume sampah.

Aplikasi tersebut mencatat jumlah sampah yang masuk dan diolah setiap hari. Data tercatat secara langsung oleh pengurus. Sistem ini membantu evaluasi pengurangan sampah.

Dengan teknologi itu, warga mengetahui jumlah sampah yang berhasil diolah. Mereka juga melihat berapa banyak residu yang masih harus dibuang. Informasi tersaji secara transparan.

“Melalui sistem ini kami dapat melihat berapa besar pengurangan sampah dari lingkungan ini menuju TPA,” kata Agung. Menurut dia, teknologi membantu memetakan efektivitas program.

Pemanfaatan teknologi memberi semangat baru bagi warga. Pengelolaan sampah terasa lebih terukur. Data membantu pengurus menentukan langkah berikutnya.

Pemerintah kota berharap pendekatan digital ini dapat ditiru lingkungan lain. Sistem sederhana dapat membantu memantau pengurangan sampah secara nyata.

Sampah Diolah Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Kreativitas warga tidak berhenti pada tahap pemilahan. Sampah rumah tangga diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Prinsip ekonomi sirkular mulai diterapkan di lingkungan tersebut.

Sampah organik diolah menjadi pakan maggot. Warga juga membuat eco-enzim dari kulit buah segar. Produk ini dimanfaatkan kembali dalam aktivitas rumah tangga.

Beberapa warga mengembangkan produk turunan lain. Sabun cuci piring cair diproduksi dari bahan ramah lingkungan. Sabun padat juga dihasilkan dari pengolahan limbah organik.

Minyak jelantah tidak lagi dibuang ke saluran air. Limbah dapur ini diolah menjadi lilin aromaterapi. Produk tersebut memiliki nilai jual bagi warga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra, menyebut program ini berjalan mandiri. Operasional kegiatan tidak bergantung pada anggaran daerah.

“Gerakan ini muncul dari kesadaran masyarakat. Pemerintah hadir memberi pendampingan teknis agar pengelolaan berjalan baik,” kata Reza.

Model Percontohan untuk Wilayah Lain

Pemerintah Kota Pekanbaru menilai program Kemas memiliki potensi besar. Model pengelolaan ini dianggap mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir. Masalah keterbatasan lahan TPA dapat ditekan.

DLHK berkomitmen mendukung keberlanjutan program tersebut. Bantuan operasional disiapkan untuk kegiatan warga. Pendanaan alternatif juga sedang dicari melalui program CSR perusahaan.

Reza mengatakan dukungan akan terus diberikan. Pendampingan teknis penting agar standar pengolahan tetap terjaga. Program perlu berjalan konsisten.

“Pengelolaan berbasis masyarakat menjadi solusi jangka panjang untuk masalah sampah kota,” kata Reza.

Kesuksesan program di Labuh Baru Timur mulai menarik perhatian pemerintah kota. Lingkungan ini dipilih sebagai percontohan. Pengalaman warga akan dibagikan ke wilayah lain.

Rencana ekspansi telah disiapkan. Program serupa akan dikembangkan di Kecamatan Marpoyan Damai. Kelurahan Sidomulyo Timur menjadi target berikutnya.

Gerakan ini diharapkan membentuk budaya baru di Kota Pekanbaru. Sampah tidak lagi sekadar dibuang. Warga belajar mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan dan ekonomi. *01*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.