Harga Meledak di Riau! Inflasi Februari Tembus 5,30 Persen, Tembilahan Paling Panas

Harga kebutuhan pokok di Riau meningkat (ist)

PEKANBARU, RIAUKU.COM — Harga-harga di Provinsi Riau kembali menanjak pada Februari 2026. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan mencapai 5,30 persen dengan Indeks Harga Konsumen 112,06. Kota Tembilahan muncul sebagai wilayah dengan lonjakan harga tertinggi di Bumi Lancang Kuning.

Kenaikan harga terjadi hampir di berbagai sektor konsumsi masyarakat. Tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, hingga biaya pendidikan memberi tekanan besar terhadap indeks harga. Pergerakan harga tersebut membentuk dinamika ekonomi yang terasa sejak awal tahun.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Asep Riyadi, menyebut inflasi tertinggi tercatat di Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir. Daerah pesisir itu mengalami inflasi 7,32 persen dengan IHK 113,24. Sementara Kabupaten Kampar mencatat inflasi terendah sebesar 5,14 persen.

“Inflasi tahunan Riau pada Februari 2026 mencapai 5,30 persen. Tembilahan mencatat angka tertinggi, sedangkan Kampar berada pada posisi terendah,” kata Asep di Pekanbaru, Senin, 2 Maret 2026.

Data statistik juga memperlihatkan tekanan harga pada perbandingan bulanan. Inflasi Februari terhadap Januari mencapai 0,32 persen. Perbandingan tahun kalender sejak Januari hingga Februari justru menunjukkan deflasi tipis 0,12 persen.

Fenomena ini menggambarkan pola pergerakan harga yang tidak selalu seragam sepanjang waktu. Beberapa komoditas melonjak pada bulan tertentu, sementara komoditas lain justru mengalami penurunan harga. Dinamika tersebut membentuk fluktuasi inflasi yang berbeda pada setiap periode.

Lonjakan Harga di Berbagai Sektor

Kenaikan indeks harga konsumen dari 106,42 pada Februari 2025 menjadi 112,06 pada Februari 2026 dipicu lonjakan harga di sembilan kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Angkanya mencapai 19,60 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga memberi tekanan kuat terhadap inflasi. Kenaikan harga pada sektor ini mencapai 16,27 persen. Pendidikan ikut mengalami kenaikan sebesar 5,05 persen.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kenaikan 3,90 persen. Harga sejumlah bahan pangan utama ikut merangkak naik. Kondisi tersebut terasa langsung dalam pengeluaran rumah tangga masyarakat.

Asep menjelaskan tidak semua sektor mengalami kenaikan harga. Dua kelompok pengeluaran justru mencatat penurunan harga. Perlengkapan rumah tangga turun 0,99 persen.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan kebudayaan juga mengalami penurunan tipis. Deflasi pada sektor ini tercatat sebesar 0,10 persen. “Beberapa kelompok pengeluaran memang mengalami penurunan harga,” ujar Asep.

Pergerakan harga komoditas menjadi faktor utama pembentuk inflasi di Riau. Tarif listrik tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar. Emas perhiasan ikut mendorong kenaikan indeks harga konsumen.

Daging ayam ras, biaya perguruan tinggi, bawang merah, serta beras juga memberi kontribusi signifikan. Komoditas tersebut menjadi kebutuhan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Perubahan harga sedikit saja dapat mempengaruhi inflasi secara luas.

Inflasi.jpg

Komoditas Penahan Laju Inflasi

Meski inflasi meningkat, beberapa komoditas justru menahan laju kenaikan harga. Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang mengalami penurunan harga. Penurunan itu memberi dampak pada pengendalian inflasi.

Harga bensin dan minyak goreng juga mengalami koreksi. Beberapa jenis sayuran ikut menyumbang deflasi pada perhitungan tahunan. Penurunan harga komoditas tersebut membantu meredam tekanan inflasi.

Secara sektoral, kelompok perumahan dan energi memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi tahunan. Sumbangannya mencapai 1,89 persen. Angka ini menjadi penggerak utama kenaikan indeks harga.

Kelompok perawatan pribadi menempati posisi kedua dengan kontribusi 1,45 persen. Komoditas seperti emas perhiasan memberi pengaruh besar terhadap sektor ini. Permintaan yang tinggi membuat harga terus bergerak naik.

Sementara itu sektor informasi dan komunikasi relatif stabil. Pergerakan harga di sektor ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap inflasi Februari. Stabilitas tersebut membantu menjaga keseimbangan pergerakan indeks harga.

Bagi pemerintah daerah, data inflasi menjadi indikator penting untuk membaca kondisi ekonomi masyarakat. Perubahan harga pada komoditas utama selalu mendapat perhatian. Langkah pengendalian harga sering dilakukan melalui operasi pasar dan koordinasi lintas instansi.

Asep menilai dinamika inflasi di Riau masih berada dalam pola pergerakan yang wajar. Fluktuasi harga terjadi mengikuti perubahan pasokan dan permintaan. “Pergerakan inflasi masih dalam rentang yang dapat dipantau,” kata Asep.

Ia menambahkan pemantauan harga akan terus dilakukan sepanjang tahun. Data statistik menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan ekonomi. Tujuannya menjaga daya beli masyarakat tetap stabil di tengah perubahan harga. 

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.