Selat Hormuz Mencekam, Harga Minyak Langsung Melonjak 7 Persen
RIAUKU.COM - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Senin, 2 Maret 2026, setelah Amerika Serikat dan Israel meningkatkan serangan militer ke Iran. Konflik yang meletus sejak Sabtu di Teheran memicu balasan rudal Iran, merusak kapal tanker di Teluk serta mengganggu jalur energi global. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak naik lebih dari tujuh persen dan mengguncang pasar energi internasional.
Lonjakan terjadi pada perdagangan awal pekan di pasar global. Minyak mentah Brent sempat menyentuh 82,37 dolar Amerika Serikat per barel, level tertinggi sejak Januari 2025. Data ini dilaporkan Reuters dan dikutip CNN Indonesia pada Senin pagi.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
Per pukul 00.54 GMT, kontrak berjangka Brent berada di posisi 78,24 dolar per barel. Harga itu naik 5,37 dolar atau sekitar 7,37 persen dalam satu sesi perdagangan. Kenaikan tersebut mencerminkan kepanikan pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI juga mengikuti tren serupa. Harga komoditas energi Amerika itu naik 4,66 dolar atau 6,95 persen menjadi 71,68 dolar per barel. Dalam perdagangan intraday, WTI sempat menyentuh 75,33 dolar, tertinggi sejak Juni 2025.
Serangan Militer Guncang Jalur Energi
Konflik memanas setelah Israel melancarkan serangan lanjutan ke Teheran pada Minggu, 1 Maret 2026. Iran segera membalas dengan rentetan rudal ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah. Ketegangan meningkat setelah kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu.
Serangan balasan Iran tidak hanya menyasar pangkalan militer. Sejumlah kapal tanker dilaporkan terkena rudal di wilayah Teluk. Sumber pelayaran dan pejabat setempat menyebut satu awak kapal tewas dalam insiden tersebut.
Gangguan keamanan membuat aktivitas pelayaran komersial langsung terguncang. Banyak perusahaan energi menghentikan sementara pengiriman minyak mentah dan gas alam cair. Informasi ini dilaporkan Reuters dan dikutip CNN Indonesia.
Iran kemudian mengumumkan penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan koridor energi paling vital di dunia. Lebih dari 20 persen perdagangan minyak global melintasi selat sempit di kawasan Teluk Persia itu.

Selat Hormuz Jadi Titik Krisis Energi
Penutupan Selat Hormuz memicu kekhawatiran besar di pasar energi internasional. Data pelayaran menunjukkan lebih dari 200 kapal, termasuk tanker minyak dan kapal LNG, menurunkan jangkar di sekitar kawasan tersebut. Banyak operator kapal memilih menunggu perkembangan situasi keamanan.
Analis ANZ Daniel Hynes menyebut ancaman terhadap pasokan minyak meningkat tajam. Serangan terhadap tanker menandai perubahan eskalasi konflik. Risiko gangguan distribusi energi global semakin besar.
“Ancaman terhadap pasokan minyak meningkat secara signifikan setelah serangan menyasar tanker di Selat Hormuz,” tulis Hynes dalam catatan risetnya. Pernyataan tersebut dikutip Reuters. Pasar energi kini bereaksi terhadap kemungkinan terhentinya aliran minyak dari Teluk.
Negara-negara Asia sebagai pembeli utama minyak Teluk mulai mengevaluasi cadangan energi mereka. Kilang minyak di kawasan itu menilai ulang strategi pasokan. Ketidakpastian distribusi memicu lonjakan permintaan cadangan minyak.
Proyeksi Bank Investasi Global
Sejumlah bank investasi global segera memperbarui proyeksi harga energi. Analis Citi yang dipimpin Max Layton memperkirakan harga Brent akan bergerak di kisaran 80 hingga 90 dolar per barel dalam waktu dekat. Prediksi itu muncul di tengah konflik militer yang masih berlangsung.
Goldman Sachs melihat adanya premi risiko besar dalam harga minyak saat ini. Bank investasi tersebut menghitung tambahan risiko sekitar 18 dolar per barel akibat ketegangan geopolitik. Analisis tersebut dikutip Reuters dan Kontan.co.id.
Goldman memperkirakan premi risiko akan menyusut jika gangguan distribusi tidak berlangsung lama. Namun harga berpotensi melonjak lebih tinggi jika pasar menilai konflik berkepanjangan. Ketidakpastian geopolitik membuat pasar energi sangat sensitif terhadap perkembangan militer.
Lembaga riset energi Wood Mackenzie bahkan membuka kemungkinan harga minyak menyentuh 100 dolar per barel. Skenario tersebut muncul jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama. Gangguan pasokan dapat memicu guncangan ganda pada pasar energi global.
Produksi OPEC+ dan Cadangan Energi
Di tengah ketegangan geopolitik, kelompok produsen minyak OPEC+ menyepakati kenaikan produksi moderat. Organisasi tersebut berencana menambah produksi sekitar 206 ribu barel per hari mulai April. Keputusan itu diumumkan pada Minggu, 1 Maret 2026.
Analis RBC Capital Helima Croft menilai tambahan produksi tidak cukup meredakan kekhawatiran pasar. Banyak produsen OPEC+ sudah beroperasi mendekati kapasitas maksimum. Arab Saudi menjadi salah satu negara yang masih memiliki cadangan produksi signifikan.
Sementara itu Badan Energi Internasional atau IEA terus memantau perkembangan konflik. Direktur IEA Fatih Birol menyatakan komunikasi intensif dilakukan dengan negara produsen dan anggota organisasi. Pernyataan tersebut dikutip Reuters.
Cadangan minyak global sebenarnya masih berada pada level relatif aman. Analis Goldman Sachs memperkirakan persediaan global mencapai sekitar 7,827 juta barel atau setara 74 hari permintaan dunia. Namun gangguan jalur distribusi seperti Selat Hormuz dapat mengubah keseimbangan pasar energi dalam waktu singkat.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar