Timur Tengah Memanas! Inggris, Prancis, Jerman Siaga Tempur Hadapi Iran
RIAUKU.COM - Ketegangan di Timur Tengah melonjak tajam ketika Iran meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah negara kawasan pada Minggu, 1 Maret 2026. Serangan balasan muncul setelah operasi militer Amerika Serikat dan Israel menghantam Teheran serta menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Prancis, Jerman, dan Inggris segera menyatakan kesiapan mengambil tindakan defensif demi melindungi kepentingan mereka dan sekutu di Teluk.
Ledakan terdengar dari berbagai kota besar kawasan Timur Tengah. Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, hingga Tel Aviv masuk dalam daftar kota yang dilaporkan mengalami serangan atau intersepsi rudal. Layanan penyelamatan Israel melaporkan sedikitnya sembilan orang tewas di kota Beit Shemesh.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Kondisi Terkini Andrie Yunus: Masih Dirawat, Belum Bisa Dijenguk
- 29 Hektar Lahan di Pekanbaru dan Sekitarnya Terbakar Akibat Cuaca Panas
Serangan Iran juga menyasar pangkalan militer multinasional di dekat Arbil, Irak utara. Target lain termasuk kamp tentara Jerman di wilayah timur Yordania. Laporan awal menyebut tidak ada korban jiwa dari dua serangan tersebut.
Eropa Bersiap Ambil Langkah Militer
Prancis, Jerman, dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama pada Minggu. Ketiga negara mengecam serangan Iran yang dinilai sembarangan dan tidak proporsional terhadap negara-negara kawasan. Pernyataan itu dikutip sejumlah media internasional, termasuk AFP dan Al Jazeera pada Senin, 2 Maret 2026.
Para pemimpin Eropa menyebut serangan Iran menargetkan negara yang tidak terlibat dalam operasi militer awal Amerika Serikat dan Israel. Mereka menilai situasi ini mengancam keselamatan personel militer serta warga sipil sekutu di Timur Tengah. Ketiga negara pun menyiapkan langkah defensif untuk menghancurkan kemampuan peluncuran rudal dan drone Iran.
Menurut laporan Kompas.com, pemerintah ketiga negara tersebut telah menyepakati kerja sama erat dengan Amerika Serikat dan sekutu regional. Koordinasi militer dilakukan untuk memperkuat pertahanan kawasan Teluk. Opsi penggunaan sistem pertahanan udara hingga operasi pencegahan sedang dipertimbangkan.

Inggris Izinkan Pangkalan Digunakan AS
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberi penjelasan dalam pidato video yang diunggah di media sosial. Ia menyatakan Inggris tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran. Namun pemerintahnya mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan Inggris untuk operasi defensif.
Starmer mengatakan langkah itu bertujuan menghancurkan rudal Iran dan peluncurnya. Pernyataan tersebut dikutip AFP melalui laporan Al Arabiya pada Senin, 2 Maret 2026. Inggris menilai langkah tersebut bagian dari upaya melindungi sekutu serta stabilitas kawasan.
Meski memberi akses pangkalan militer, Starmer menegaskan Inggris tidak bergabung dalam operasi ofensif terhadap Iran. Ia menilai penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi masih menjadi pilihan terbaik. Pemerintah Inggris juga mempublikasikan penjelasan hukum terkait keputusan tersebut di situs resmi pemerintah.

Operasi Militer AS-Israel Terus Berjalan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan operasi militer terhadap Iran masih berlangsung. Ia menyatakan serangan akan terus berlanjut hingga seluruh tujuan tercapai. Pernyataan itu disampaikan dalam video di platform Truth Social dan dikutip NBC News.
Pentagon sebelumnya melaporkan tiga tentara Amerika tewas dan lima lainnya mengalami luka berat. Korban muncul dalam rangkaian operasi militer yang menargetkan instalasi penting Iran. Trump mengakui kemungkinan jumlah korban dapat bertambah.
Operasi militer tersebut dikenal dengan nama Operation Epic Fury oleh Amerika Serikat. Israel menamai serangan yang sama sebagai Operation Roaring Lion. Kedua operasi diluncurkan pada Sabtu, 28 Februari 2026 dengan target fasilitas militer dan pusat komando Iran.

Uni Eropa Minta Penahanan Diri
Uni Eropa turut menyampaikan keprihatinan atas eskalasi konflik. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, meminta semua pihak menahan diri agar perang tidak meluas. Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan Dewan Urusan Luar Negeri Uni Eropa pada Minggu, 1 Maret 2026.
Kallas menilai konflik besar dapat memicu dampak ekonomi global yang sulit diprediksi. Kawasan Timur Tengah berisiko mengalami kerusakan luas jika perang berkepanjangan. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan warga sipil serta penghormatan hukum internasional.
Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen dijadwalkan menggelar pertemuan keamanan khusus pada Senin, 2 Maret 2026. Pertemuan itu membahas potensi dampak konflik terhadap keamanan Eropa. Para pemimpin Eropa khawatir eskalasi militer merembet ke wilayah lain.
Iran Bersumpah Membalas
Pemerintah Iran menyebut kematian Ayatollah Ali Khamenei sebagai serangan terhadap dunia Islam. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pembunuhan tersebut merupakan deklarasi perang. Ia menegaskan Iran memiliki hak membalas para pelaku.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan pernyataan keras. Ia mengatakan negaranya tidak melihat batasan dalam membela rakyat Iran. Pemerintah Iran menilai serangan balasan merupakan hak yang sah.
Serangkaian rudal dan drone kemudian diluncurkan ke pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Serangan tersebut menandai fase baru konflik yang semakin berbahaya. Dunia kini menunggu apakah krisis ini berubah menjadi perang besar yang melibatkan lebih banyak negara.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar