Putin dan Kim Jong Un Bersatu Mengecam Serangan AS–Israel, Krisis Global Memanas
TEHERAN, RIAUKU.COM - Serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei di Teheran dan memicu kecaman tajam dari Presiden Rusia Vladimir Putin serta pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Rusia menyebut pembunuhan itu pelanggaran hukum internasional, sementara Korea Utara menilai tindakan tersebut agresi ilegal. Reaksi dua negara sekutu Iran ini muncul ketika konflik Timur Tengah memasuki babak baru setelah operasi militer besar Amerika Serikat dan Israel.
Kematian Khamenei diumumkan setelah serangan udara yang dilakukan dalam operasi militer bernama Epic Fury. Operasi tersebut disebut pemerintah Amerika Serikat sebagai serangan udara paling kompleks dan presisi dalam sejarah operasi militernya. Informasi itu dilaporkan sejumlah media internasional, termasuk Reuters, AFP, dan CNN.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Selain Khamenei, beberapa pejabat tinggi Iran juga tewas dalam serangan tersebut. Di antaranya Komandan Garda Revolusi Iran Mohammad Pakpour dan Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh. Beberapa anggota keluarga Khamenei juga dilaporkan menjadi korban.
Putin: Pelanggaran Moral dan Hukum Internasional
Presiden Rusia Vladimir Putin langsung menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah Iran. Dalam surat resmi kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai tindakan sinis yang melanggar norma kemanusiaan. Pernyataan tersebut dipublikasikan oleh Kremlin dan dilaporkan oleh media internasional.
Putin menyebut Khamenei sebagai tokoh penting dalam hubungan strategis Rusia dan Iran. Ia menilai pemimpin Iran tersebut memiliki peran besar memperkuat kerja sama kedua negara selama beberapa dekade terakhir. Rusia menilai kehilangan itu tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga pada stabilitas kawasan.
Dalam pernyataannya yang dikutip Reuters, Putin meminta simpati dunia internasional terhadap rakyat Iran. Ia juga meminta dukungan moral bagi keluarga Khamenei dan pemerintahan Iran. Kremlin menilai pembunuhan pemimpin negara merupakan preseden berbahaya dalam politik global.
Kim Jong Un: Amerika Serikat Seperti Gangster
Korea Utara juga bereaksi keras terhadap serangan tersebut. Melalui kantor berita pemerintah Korean Central News Agency, Pyongyang menyebut operasi militer AS dan Israel sebagai agresi ilegal. Pernyataan itu dilaporkan oleh media internasional seperti Al Jazeera.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut Amerika Serikat bertindak seperti kekuatan hegemonik yang tidak menghormati kedaulatan negara lain. Pyongyang menilai tindakan militer tersebut tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun.
Korea Utara juga menilai keterlibatan Amerika Serikat sudah dapat diprediksi. Negara itu menuding Washington menjalankan kebijakan luar negeri yang agresif terhadap negara-negara yang menentang pengaruhnya. Pernyataan keras tersebut memperlihatkan posisi Korea Utara yang berdiri di sisi Iran.
Iran Berduka dan Bentuk Dewan Kepemimpinan
Pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah kematian Khamenei. Pengumuman tersebut disampaikan oleh media pemerintah Iran pada Minggu, 1 Maret 2026. Negara itu juga membentuk dewan kepemimpinan sementara untuk menjaga stabilitas politik.
Dewan tersebut memasukkan ulama senior Alireza Arafi sebagai anggota baru. Ia bergabung dengan Presiden Masoud Pezeshkian dan pejabat yudikatif senior dalam struktur kepemimpinan sementara. Informasi ini dilaporkan oleh CNN Indonesia dan beberapa media internasional.
Tugas utama dewan sementara adalah memimpin negara hingga Majelis Ahli memilih pemimpin tertinggi baru. Struktur kekuasaan Iran kini berada dalam fase transisi yang sensitif. Banyak pengamat memperkirakan dinamika politik internal Iran akan berubah dalam beberapa bulan ke depan.
Poros Rusia–Iran–Korea Utara
Reaksi keras Rusia dan Korea Utara tidak lepas dari hubungan strategis mereka dengan Iran. Rusia dan Iran selama ini bekerja sama dalam berbagai konflik regional, termasuk di Suriah dan Ukraina. Kerja sama militer juga mencakup pertukaran teknologi persenjataan.
Iran diketahui memasok drone tempur kepada Rusia dalam konflik di Ukraina. Sebaliknya, Rusia menjadi salah satu pemasok utama teknologi militer bagi Iran. Hubungan strategis tersebut membuat Moskow memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas politik Iran.
Korea Utara juga memiliki hubungan politik yang dekat dengan Iran dalam beberapa isu internasional. Ketiga negara sering berada dalam posisi yang sama dalam menghadapi kebijakan Amerika Serikat. Reaksi keras dari Putin dan Kim Jong Un memperlihatkan munculnya kembali blok geopolitik yang menentang dominasi Barat di panggung dunia.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar