IHSG Anjlok, Dirut BEI Iman Rachman Mengundurkan Diri. Ada Apa?
JAKARTA - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengungkap alasan dirinya mengundurkan diri. Anehnya, Ia mundur di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga turun dari level 9.000.
Ia menjelaskan pengunduran dirinya merupakan bentuk tanggung jawab atas anjloknya IHSG hingga 8 persen selama dua hari berturut-turut.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Waduh! IHSG Dibuka Ambrol 2,26 Persen, Jatuh ke Level 6.000
"Saya sebagai direktur dan utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin menyatakan mengundurkan diri sebagai direktur utama Bursa Efek Indonesia," ujar Iman dalam konferensi pers di Gedung BEI.
Iman berharap keputusannya terbaik untuk pasar modal Indonesia.
Selanjutnya, terkait proses administrasi, Iman menerangkan akan berlaku sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.
"Nanti akan ada sementara (pelaksana tugas) yang akan ditunjuk berdasarkan aturan kita sampai ditunjuk definitif direktur utama yang baru," ujar pria yang menjabat Dirut BEI sejak RUPST 29 Juni 2022 ini.
Pasar modal RI tengah dihantam badai setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham Indonesia.
Kebijakan itu mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks MSCI, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks.
IHSG Anjlok
Diketahui, pendapat ekonomi mengatakan alasan IHSG anjlok adalah reaksi pasar terhadap peringatan dari MSCI, sebuah lembaga penyusun indeks saham global. MSCI mengeluarkan peringatan transparansi struktur kepemilikan saham dan data pasar Indonesia.
Hal ini dianggap kurang memenuhi standar untuk indeks pasar negara berkembang. Ini bisa menyebabkan pengurangan bobot atau bahkan downgrade status pasar Indonesia menjadi pasar frontier.
Peringatan ini juga memicu penjualan besar oleh investor asing, karena dana indeks global sering secara otomatis menjual saham yang keluar dari suatu indeks. Aliran modal keluar seperti ini dapat berdampak besar dalam waktu singkat pada harga saham.
Ketakutan terhadap downgrade dan ketidakpastian ini mendorong aksi jual (sell-off) dalam waktu cepat, menekan indeks tajam. Alasan inilah, sehingga investor institusional global menggunakan model berbasis indeks, seperti MSCI, ketika suatu pasar terancam keluar dari indeks, banyak dana pasif terpaksa menjual untuk menyesuaikan portofolio.
Ini adalah reaksi mekanis otomatis, bukan semata impresi subjektif. Ini menyebabkan tekanan jual di pasar yang relatif kecil terjadi seperti di Indonesia. (cnn/dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar