Menhan Iran dan Komandan IRGC Tewas dalam Serangan Israel

Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dilaporkan menjadi salah satu korban tewas dalam serangan Israel. (ist)

TEHERAN, RIAUKU.COM - Ledakan mengguncang sejumlah kota di Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dan Komandan Garda Revolusi Mohammed Pakpour dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel dan Amerika Serikat.

Langit di atas Teheran memerah sejak pagi. Sirene meraung panjang di beberapa distrik ibu kota. Dentuman keras mengguncang bangunan pemerintahan, markas militer, hingga kawasan yang berdekatan dengan fasilitas strategis negara. Ketegangan lama di Timur Tengah berubah menjadi konfrontasi terbuka yang menelan korban dari lingkar kekuasaan tertinggi Iran.

Informasi kematian Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dan Komandan Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Mohammed Pakpour pertama kali dilaporkan sejumlah sumber militer kepada kantor berita internasional. Dua pejabat senior yang mengetahui operasi militer Israel serta satu sumber regional menyampaikan laporan tersebut kepada Reuters. Hingga Sabtu malam waktu setempat, pemerintah Iran belum memberi konfirmasi resmi mengenai kabar itu.

Laporan Reuters yang dikutip oleh CNN Indonesia menyebut kedua tokoh militer itu berada di salah satu kompleks yang menjadi target utama serangan udara. Serangan dilancarkan secara presisi menggunakan rudal jarak jauh yang menghantam fasilitas pemerintahan dan militer di beberapa titik penting.

Di Iran, nama Amir Hatami dikenal sebagai sosok yang lama berkecimpung dalam struktur militer negara itu. Ia memimpin kementerian pertahanan dengan fokus pada penguatan industri persenjataan domestik. Program pengembangan rudal dan sistem pertahanan menjadi bagian penting dari kebijakan militer Iran selama masa jabatannya.

Sementara Mohammed Pakpour merupakan figur berpengaruh di tubuh IRGC. Ia memimpin salah satu kekuatan militer paling kuat di Iran. IRGC memiliki peran penting dalam operasi militer luar negeri serta pengembangan teknologi rudal negara tersebut.

Kabar kematian dua pejabat tinggi ini segera mengguncang struktur militer Iran. Sejumlah analis menilai kehilangan dua tokoh penting dalam waktu bersamaan dapat memicu respons keras dari Teheran. Situasi politik di dalam negeri juga berpotensi berubah cepat.

Serangan yang menewaskan dua pejabat itu terjadi dalam operasi gabungan antara Israel dan Amerika Serikat. Operasi militer tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis Iran yang diduga berkaitan dengan program rudal dan pusat komando militer.

Menurut laporan AFP, sejumlah ledakan juga terdengar di beberapa kota lain di Iran. Beberapa fasilitas militer dilaporkan mengalami kerusakan berat. Aktivitas pertahanan udara terlihat meningkat di berbagai wilayah.

Serangan itu memicu gelombang balasan dari Iran. Militer negara tersebut meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Beberapa negara Teluk segera meningkatkan status siaga militer setelah mendeteksi proyektil melintas di langit wilayah mereka.

Di Bahrain, sirene peringatan berbunyi di sekitar pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika Serikat. Sistem pertahanan udara diaktifkan untuk mencegat rudal yang mendekati wilayah tersebut.

Sementara di Qatar, beberapa ledakan terdengar di sekitar kawasan militer yang juga menjadi lokasi penempatan pasukan Amerika. Pemerintah setempat segera mengaktifkan sistem keamanan untuk melindungi fasilitas strategis.

Gelombang serangan juga dilaporkan menjangkau wilayah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi. Ledakan terdengar di sejumlah kota setelah rudal Iran melintasi wilayah udara negara-negara tersebut.

Kantor berita Al Jazeera melaporkan beberapa rudal berhasil dicegat sebelum mencapai target. Sistem pertahanan udara di beberapa negara Teluk bekerja cepat untuk menahan proyektil yang masuk.

Di Kuwait, militer setempat mengumumkan keberhasilan mencegat rudal balistik yang diarahkan ke pangkalan udara Ali Al Salem. Pangkalan tersebut dikenal sebagai lokasi penting bagi operasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Kolonel Saud Abdulaziz Al Atwan, mengatakan sistem pertahanan udara negara itu berhasil menghancurkan rudal sebelum mencapai sasaran.

“Angkatan pertahanan udara berhasil mencegat proyektil yang mengarah ke pangkalan militer,” ujar Saud Abdulaziz Al Atwan seperti dikutip AFP.

Serangan balasan Iran tidak hanya menyasar fasilitas militer. Beberapa laporan menyebut puing-puing rudal jatuh di kawasan sipil di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab. Satu warga sipil dilaporkan tewas akibat pecahan proyektil.

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan negara tersebut tidak akan tinggal diam menghadapi serangan Israel dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menilai serangan udara tersebut sebagai agresi terhadap kedaulatan negara.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan semua lokasi yang digunakan sebagai tempat peluncuran serangan terhadap Iran akan dianggap sebagai target sah bagi militer Iran.

“Angkatan bersenjata Iran menganggap lokasi operasi AS dan Israel sebagai target sah,” kata Abbas Araghchi seperti dikutip AFP melalui laporan CNN Indonesia.

Ia juga menyebut Iran siap membela diri dari agresi militer yang datang dari luar. Pernyataan tersebut disampaikan setelah gelombang pertama serangan balasan Iran menghantam sejumlah pangkalan militer di kawasan Teluk.

Ketegangan ini berkembang cepat sejak serangan udara Israel dan Amerika Serikat menghantam sejumlah target di Iran pada Sabtu pagi waktu setempat. Operasi militer tersebut disebut menargetkan fasilitas pemerintahan, kantor kementerian, serta instalasi militer strategis.

Beberapa laporan menyebut lokasi di sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga menjadi salah satu sasaran operasi. Namun belum ada konfirmasi mengenai dampak langsung terhadap kompleks tersebut.

Di Teheran, aktivitas militer meningkat tajam. Radar pertahanan udara aktif hampir sepanjang hari. Jet tempur terlihat berpatroli di langit ibu kota.

Warga Teheran mengaku mendengar ledakan keras sejak pagi. Getaran terasa hingga beberapa kilometer dari lokasi serangan.

“Jendelanya bergetar saat ledakan pertama terjadi,” kata seorang saksi kepada AFP yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Situasi di Timur Tengah kini memasuki fase paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir. Kematian Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami dan Komandan IRGC Mohammed Pakpour menambah ketegangan yang sudah memuncak.

Pengamat militer menilai kehilangan dua tokoh penting tersebut dapat memicu eskalasi konflik lebih luas. Iran memiliki jaringan militer kuat di berbagai wilayah Timur Tengah yang berpotensi terlibat dalam konflik.

Sementara itu, dunia internasional mulai menyerukan deeskalasi. Beberapa negara mendesak semua pihak menahan diri agar konflik tidak berkembang menjadi perang regional yang lebih besar.

Namun hingga Sabtu malam, ledakan masih terdengar di beberapa wilayah Timur Tengah. Radar militer tetap aktif. Langit kawasan itu dipenuhi lintasan rudal dan sistem pertahanan udara.

Perang bayangan yang selama ini berlangsung antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini berubah menjadi konfrontasi terbuka. Timur Tengah kembali berdiri di tepi konflik besar yang belum menunjukkan tanda mereda.*01*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.