BBKSDA Riau Turun Tangan Usai Warga Diserang Harimau
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menurunkan tim setelah menerima laporan seorang warga diserang Harimau Sumatera di Dermaga PT SPA Serapung, Pelalawan. Fokus penanganan kini berada pada pemantauan pergerakan satwa dan mitigasi agar konflik manusia dan harimau tidak berulang.
Peristiwa itu menimpa Kohai, 32 tahun, pencari kayu asal Desa Teluk, Kecamatan Kuala Kampar. Ia diserang harimau Sumatera pada Rabu malam, 25 Februari 2026 sekitar pukul 23.30 WIB. Serangan terjadi saat korban beristirahat di atas pompong yang bersandar di dermaga PT SPA Distrik Serapung.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Supartono, mengatakan pihaknya segera bergerak setelah menerima laporan dari pihak perusahaan. “Menindaklanjuti laporan tersebut, tim BBKSDA langsung turun ke lokasi untuk melakukan pemantauan serta mengumpulkan informasi di lapangan,” kata Supartono pada Jumat, 27 Februari 2026.
Tim konservasi melakukan penelusuran di sekitar dermaga dan kawasan semak yang diduga menjadi jalur pergerakan harimau. Petugas juga berkoordinasi dengan perusahaan serta aparat setempat untuk memastikan situasi tetap terkendali.
Menurut Supartono, insiden bermula ketika korban bersama lima rekannya melakukan perjalanan menuju kawasan hutan Desa Serapung untuk mencari kayu crocok. Mereka berangkat sekitar pukul 20.00 WIB menggunakan tabut atau pompong.
Rombongan terdiri dari Kohai, Wiwik, Rudi, Sugianto, Nazar, dan Tirta. Perjalanan terhenti ketika kondisi sungai surut. Perahu kemudian bersandar di dermaga perusahaan sejak Selasa malam untuk menunggu air pasang.
Kohai saat itu duduk di atas pompong. Suasana dermaga relatif sepi. Semak-semak di daratan gelap. Dari arah vegetasi itu tiba-tiba muncul seekor harimau Sumatera.
Satwa dilindungi tersebut langsung menerkam bagian belakang kepala korban. Gigitan kuat meninggalkan luka robek cukup serius. Serangan terjadi sangat cepat.
Wiwik, rekan korban yang melihat kejadian itu, spontan berteriak meminta pertolongan. Teriakan tersebut memecah kesunyian dermaga. Petugas keamanan Pos Dermaga PT SPA Serapung mendengar suara itu.
Petugas segera berlari menuju lokasi. Korban dievakuasi dari atas pompong. Kondisinya mengalami luka robek di bagian belakang kepala.
Kohai langsung dibawa menggunakan kendaraan operasional perusahaan menuju Pos P3K PT SPA Serapung. Tenaga medis perusahaan memberikan pertolongan pertama. Setelah kondisi stabil, korban dirujuk ke Puskesmas Penyalai, Kecamatan Kuala Kampar.
Supartono mengatakan BBKSDA kini fokus melakukan pemantauan pergerakan satwa di sekitar lokasi. Kawasan pesisir Kuala Kampar dikenal masih berdekatan dengan habitat alami harimau Sumatera.
Tim konservasi melakukan pengamatan jejak serta potensi jalur lintasan harimau. Upaya mitigasi disiapkan untuk mencegah serangan lanjutan.
“Kami masih berada di lapangan untuk memantau kondisi serta memastikan keamanan di sekitar lokasi kejadian,” ujar Supartono.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di wilayah yang berbatasan langsung dengan hutan.
Aktivitas malam hari, terutama di kawasan dermaga, hutan, serta semak belukar, dinilai memiliki risiko tinggi terhadap pertemuan dengan satwa liar.
BBKSDA Riau mengimbau warga segera melapor apabila melihat keberadaan harimau atau satwa liar lainnya di sekitar permukiman maupun jalur aktivitas masyarakat.
“Kami meminta masyarakat menghindari aktivitas di area rawan pada malam hari dan segera melaporkan jika melihat satwa liar,” kata Supartono.
Insiden ini kembali menunjukkan tingginya potensi konflik manusia dengan harimau Sumatera di kawasan pesisir Riau. Habitat yang bersinggungan dengan aktivitas manusia membuat pertemuan antara manusia dan predator semakin sering terjadi.
Bagi tim konservasi, langkah mitigasi menjadi kunci agar keselamatan manusia terjaga tanpa mengancam keberlangsungan satwa langka tersebut. *01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar