Anak Gajah Tesso Nilo Mati: Jerat Diduga Jadi Penyebab, Kapolda Turun Tangan
PELALAWAN, RIAUKU.COM — Kabar duka datang dari Taman Nasional Tesso Nilo. Seekor anak gajah Sumatera ditemukan mati, memicu keprihatinan mendalam. Diduga kuat, jerat menjadi penyebab kematian satwa dilindungi itu. Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan langsung turun tangan, memastikan penyelidikan berjalan maksimal, Kamis (26/2/2026).
Herry, bersama sejumlah pejabat tinggi Polda Riau dan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Supartono, meninjau langsung lokasi penemuan bangkai gajah malang tersebut. "Kami hadir untuk melakukan observasi dan olah TKP sementara terkait penemuan gajah yang diperkirakan berusia di bawah lima tahun," ujarnya di lokasi.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Harga Emas Antam Turun Tipis ke Rp2,992 Juta per Gram
Tim patroli menemukan anak gajah jantan itu sekitar pukul 12.00 WIB dalam kondisi memprihatinkan. Bangkainya membusuk sekitar 200 meter dari batas kawasan Tesso Nilo. Fakta yang mencengangkan terungkap dari hasil olah TKP: ada bekas jeratan di kaki gajah, bahkan tali jeratnya masih utuh. "Dari hasil sementara, terlihat bekas jeratan di kaki gajah, dan talinya juga masih utuh," ungkap Herry.
Untuk memastikan penyebab kematian, BKSDA Riau menerjunkan dokter hewan untuk melakukan nekropsi. Hasil pemeriksaan medis ini akan menjadi dasar penentuan penyebab kematian, apakah karena jerat yang menyebabkan infeksi, atau faktor lainnya. "Kami sedang menyusun beberapa hipotesis penyebab kematian, termasuk kemungkinan gajah ini terkena jerat, mengalami infeksi, hingga akhirnya mati di TKP," jelas Herry.
Supartono menambahkan, kondisi fisik bangkai yang membusuk dan dipenuhi belatung mengindikasikan bahwa gajah tersebut telah mati hampir satu minggu. "Untuk kepastian umur dan penyebab kematian, kami masih menunggu hasil nekropsi dari tim medis," imbuhnya.
Kasus ini menjadi perhatian serius, mengingat gajah Sumatera adalah satwa dilindungi yang populasinya terus terancam akibat perburuan dan konflik dengan manusia. Polda Riau telah menurunkan tim untuk menyelidiki lebih lanjut dugaan praktik pemasangan jerat liar di sekitar kawasan konservasi. Penyelidikan ini melibatkan pemeriksaan saksi-saksi, pengumpulan bukti-bukti di lapangan, serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk masyarakat sekitar kawasan Tesso Nilo.
"Kami akan bekerja keras untuk mengungkap kasus ini hingga tuntas, serta menindak tegas para pelaku yang terlibat dalam pemasangan jerat liar," tegas Herry.
Kematian anak gajah ini menambah daftar panjang kasus kematian satwa dilindungi di Indonesia akibat perburuan dan perusakan habitat. Gajah Sumatera, yang merupakan salah satu spesies kunci dalam ekosistem hutan, kini berada di ambang kepunahan akibat berbagai ancaman.*son/01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar