Vaksin Universal Stanford University

Lawan Virus dan Alergi, Cukup Satu Semprotan di Hidung Saja

Vaksin yang dijuluki “Universal Vaccine” bekerja dengan cara yang tak lazim. (Ilustrasi)

JAKARTA,RIAUKU - Dunia kesehatan kembali dikejutkan dengan inovasi vaksin generasi baru yang dikembangkan para peneliti di Stanford University.

Berbeda dari vaksin konvensional yang menargetkan satu penyakit spesifik, vaksin berbentuk semprot hidung ini dirancang untuk memberikan perlindungan luas terhadap berbagai ancaman infeksi saluran pernapasan.

Vaksin yang dijuluki “Universal Vaccine” tersebut bekerja dengan cara yang tak lazim. Alih-alih melatih sistem imun mengenali satu virus tertentu, pendekatan ini meniru pola komunikasi alami antar sel imun di paru-paru. Strategi tersebut disebut sebagai langkah radikal dalam dunia imunisasi modern.

Dalam laporan yang dikutip dari BBC, para peneliti menyebut temuan ini sebagai penyimpangan besar dari prinsip vaksin yang telah digunakan selama lebih dari 200 tahun.

Meski begitu, penelitian ini masih berada pada tahap uji coba hewan dan belum memasuki uji klinis pada manusia.

Hasil awalnya cukup menjanjikan. Pada hewan percobaan, vaksin semprot hidung ini mampu menurunkan jumlah virus yang masuk ke tubuh hingga 100 sampai 1.000 kali lipat.

Efek perlindungan tersebut bertahan sekitar tiga bulan, dengan memicu sel darah putih jenis makrofag tetap dalam kondisi siaga menghadapi berbagai patogen yang masuk melalui saluran pernapasan.

Tak hanya virus seperti flu dan Covid-19, vaksin ini juga menunjukkan perlindungan terhadap bakteri berbahaya, termasuk Staphylococcus aureus dan Acinetobacter baumannii, yang kerap menjadi penyebab infeksi paru-paru serius di fasilitas layanan kesehatan.

Profesor mikrobiologi dan imunologi Stanford, Bali Pulendran, menjelaskan bahwa pendekatan ini menghasilkan respons imun yang lebih luas. Ia menyebut vaksin tersebut berpotensi melindungi tubuh dari berbagai virus, bakteri, bahkan alergen yang memicu gangguan pernapasan.

Menariknya lagi, penelitian juga menemukan potensi vaksin ini dalam menekan reaksi alergi, termasuk terhadap tungau debu rumah yang sering menjadi pemicu asma alergi.

Meski penuh harapan, para ilmuwan mengingatkan bahwa masih banyak tahapan yang harus dilalui. Profesor virologi molekuler Jonathan Ball menegaskan pentingnya memastikan sistem imun tidak bereaksi berlebihan hingga menyerang jaringan tubuh sendiri.

Penelitian lanjutan akan difokuskan pada uji klinis manusia serta kemungkinan penggunaan nebulizer agar vaksin dapat menjangkau bagian paru-paru yang lebih dalam.

Para peneliti juga menekankan bahwa vaksin ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan vaksin yang sudah ada, melainkan sebagai pelengkap perlindungan, terutama saat menghadapi wabah penyakit baru.

Jika kelak terbukti aman dan efektif pada manusia, vaksin universal semprot hidung ini berpotensi menjadi lompatan besar dalam strategi pencegahan penyakit pernapasan global membuka babak baru dalam sejarah imunisasi dunia.*04*


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.