Hari Ini, Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Keracunan MBG
KUDUS - Ratusan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Kudus mengalami keracunan setelah menyantap hidangan makan bergizi gratis (MBG) pada Kamis (29/1/2026). Para siswa mendadak mengeluhkan kondisi tubuh merasakan mual, pusing, hingga muntah.
Sejumlah siswa yang mengalami keracunan dirawat di beberapa rumah sakit di Kudus. "Yang masuk (rumah sakit) data terbaru 112 siswa," kata Bupati Kudus Sam'ani Intakoris melalui pesan singkat kepada wartawan.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Sam'ani menyebutkan, jumlah siswa yang merasakan gejala keracunan berkali-kali lipat dibanding yang kini dirawat di rumah sakit. "Yang merasakan ada 450 siswa," sebut dia.
Menurut dia, berbagai pihak sedang bekerja sama menangani peristiwa keracunan masal tersebut. "Kami tangani bersama Polri dan TNI, relawan, Dinkes, RSUD dan RS swasta bareng-barang," terang dia.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah membuka hoteline untuk menampung aduan persoalan MBG. Laporan bisa dilayangkan melalui nomor 0811-2622-000.
Aduan yang masuk akan diteruskan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. "SPPG yang membandel kami beri peringatan dan kami informasikan kepada BGN," kata Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar.
Sementara, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap dijalankan selama Ramadan. Prioritas MBG akan menyasar ibu hamil dan menyusui serta anak di bawah usia lima tahun atau balita.
Kepala BGN, Dadan Hindayana menyebut, MBG bertujuan untuk menekan stunting sehingga selain siswa di sekolah-sekolah, program itu juga menyasar para ibu hamil, menyusui dan balita.
Kejadian serupa juga pernah terjadi di Jawa Barat, puluhan siswa di Kabupaten Cianjur, diduga keracunan usai menyantap menu MBG. Kepala BGN Dadan Hindayana belum bisa memastikan apakah keracunan itu terjadi akibat menu makanan yang dibagikan dari program pemerintah tersebut atau bukan, Selasa, 22 April 2025.
Kronologi Kejadian
Keluhan tersebut muncul pada Kamis (29/1) pagi, sehari setelah para siswa mengonsumsi MBG dibagikan di sekolah. Jumlah siswa yang mengeluh terus bertambah, sehingga pihak sekolah segera melaporkan kejadian tersebut kepada dinas terkait.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kudus, Mustiko Wibowo, dilansir joglonews mengatakan pihaknya menerima laporan sejak pagi dan langsung mengambil langkah cepat dengan menyiagakan tenaga medis serta armada ambulans di sejumlah fasilitas kesehatan.
“Gejala mulai dirasakan siswa pada pagi hari. Dari laporan awal, dugaan sementara mengarah pada menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan siswa, menu MBG yang dibagikan pada Rabu terdiri dari nasi putih, tempe, ayam, cambah, dan kuah soto.
Sejumlah siswa menilai rasa makanan tersebut berbeda dari biasanya. Tak lama setelah dikonsumsi, sebagian siswa mulai merasakan mual dan pusing, yang kemudian disertai muntah.
Melihat kondisi tersebut, penanganan awal dilakukan di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Namun, karena jumlah siswa yang mengalami keluhan cukup banyak, sebagian lainnya dirujuk ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Sejumlah ambulans dikerahkan ke lokasi, dibantu kendaraan BPBD untuk proses evakuasi. Hingga siang hari, total siswa yang dilaporkan mengalami keluhan kesehatan mencapai ratusan orang dari berbagai jenjang kelas.
Jumlah tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring pendataan lanjutan. (int/dmy)
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar