Tanpa Uang APBD, Agung Sulap Simpang MP Jadi ‘Bundaran HI’-nya Pekanbaru!
PEKANBARU, RIAUKU.COM - Di tengah keterbatasan fiskal, Pemerintah Kota Pekanbaru memilih berlari dengan cara berbeda. Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menggesa pembangunan infrastruktur tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Salah satu proyek yang segera terwujud ialah bundaran baru di depan Mal Pekanbaru, Jalan Jenderal Sudirman, yang seluruh pembiayaannya ditopang pihak swasta.
Rencana itu bukan sekadar membangun lingkar jalan. Kawasan yang selama ini dikenal padat, dengan putar arah sempit dan lalu lintas yang kerap tersendat, akan ditata ulang. U-turn yang ada dibongkar, dibangun kembali dengan wajah lebih rapi. Arus kendaraan diharapkan mengalir lebih teratur, memberi ruang bagi estetika sekaligus fungsi.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Agung menyebut anggaran pembangunan mendekati Rp3 miliar. Dana tersebut berasal dari pengelola mal. Pemerintah kota tidak mengeluarkan biaya dari kas daerah. Skema kolaborasi ini, menurut dia, menjadi model percepatan pembangunan di tengah kebutuhan infrastruktur yang terus mendesak.
Di atas lahan yang kini didominasi aspal dan marka jalan, akan berdiri bundaran berkonsep budaya Melayu. Desainnya memuat ornamen khas, menghadirkan identitas lokal di simpul jalan protokol. Air mancur dirancang menjadi elemen utama. Percikannya diharapkan memberi kesan hidup pada ruang kota yang selama ini terasa kaku.
Tak hanya itu, area tersebut juga disiapkan sebagai ruang swafoto. Pemerintah kota ingin menghadirkan titik temu baru bagi warga. Tempat orang berhenti sejenak, mengabadikan momen, lalu membagikannya ke media sosial. Lanskap kota berubah menjadi panggung visual.
Pemko juga meminta pengelola mal memasang videotron berukuran besar. Layar raksasa itu dirancang menjadi medium informasi sekaligus penanda modernitas. Agung membayangkan suasana yang terbuka, menyerupai konsep Bundaran HI di Jakarta. Sebuah simpul jalan yang bukan hanya mengatur kendaraan, tetapi juga membentuk citra kota.
Jalan Jenderal Sudirman selama ini menjadi etalase Pekanbaru. Gedung perkantoran, pusat belanja, hotel, berdiri berjajar. Namun ruang publiknya terbatas. Bundaran baru di depan Mal Pekanbaru diharapkan menjawab kebutuhan itu. Infrastruktur tidak lagi dipandang sebatas beton dan lampu lalu lintas, melainkan bagian dari pengalaman warga terhadap kotanya.
Bagi Agung, proyek ini menjadi simbol pendekatan berbeda dalam membangun. Pemerintah membuka ruang partisipasi swasta, mengajak berbagi tanggung jawab. Kota bergerak lewat kolaborasi. Anggaran daerah bisa difokuskan pada sektor lain yang tak kalah mendesak.
Pengerjaan direncanakan segera dimulai. Targetnya rampung dalam waktu relatif singkat agar tidak terlalu lama mengganggu arus lalu lintas. Pemerintah kota memastikan rekayasa jalan disiapkan selama proses konstruksi berlangsung.
Jika kelak berdiri, bundaran itu akan menjadi wajah baru di jantung Pekanbaru. Air mancur menyala pada malam hari, ornamen Melayu membingkai pusat lingkaran, videotron memancarkan cahaya dari kejauhan. Di sana, simpul jalan berubah menjadi simbol—tentang kota yang ingin tumbuh tanpa selalu bergantung pada kas daerah, tentang ambisi menghadirkan ruang publik yang lebih berkarakter.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar