Misi Mustahil di Turin: Juventus Bangkit atau Dipermalukan!
TURIN, RIAUKU.COM - Juventus berdiri di tepi jurang. Defisit tiga gol membayangi langkah mereka. Malam di Turin akan menentukan nasib musim Eropa.
Leg kedua play-off fase gugur Liga Champions UEFA 2025-2026 digelar di Allianz Stadium, Kamis (26/02/2026) dini hari nanti. Wakil Italia itu tertinggal 2-5 dari pertemuan pertama di Istanbul. Sebuah skor yang menyesakkan, menyisakan beban besar sebelum peluit awal dibunyikan.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- Harga Emas Antam Turun Tipis ke Rp2,992 Juta per Gram
Kekalahan di Turki menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah Eropa klub asal Turin tersebut. Lima gol bersarang ke gawang mereka. Untuk kali kedua sepanjang partisipasi di kompetisi antarklub tertinggi Eropa, lini belakang runtuh sedemikian rupa. Disiplin pecah. Emosi tak terkendali. Juan Cabal diganjar kartu merah. Teun Koopmeiners sempat mencetak dua gol, tak cukup menahan badai.
Statistik memagari harapan. Dari puluhan kasus kekalahan tiga gol atau lebih di leg pertama fase gugur, hanya segelintir tim mampu membalikkan keadaan. Juventus pernah melakukannya pada musim 2018/19 saat menyingkirkan Atletico Madrid. Kenangan itu menggantung di ruang ganti. Situasi kini berbeda. Performa domestik menurun. Kekalahan dari Inter dan Como mengikis kepercayaan diri. Rekor kandang tercoreng.
Catatan pertemuan melawan Galatasaray pun tak ramah. Sudah lebih dua dekade Juventus tak mampu menaklukkan klub Istanbul tersebut. Dari tujuh duel terakhir, Galatasaray hanya sekali tumbang. Leg pertama menjadi penegasan jarak performa. Kemenangan 5-2 menandai laga ke-200 mereka di panggung European Cup atau Liga Champions. Untuk pertama kalinya klub Turki mencetak lima gol ke gawang tim Italia.
Meski demikian, celah tetap ada. Galatasaray rapuh saat tandang. Sembilan kekalahan dari 13 laga Eropa terakhir di luar kandang menjadi catatan yang tak bisa diabaikan. Kekalahan 0-2 dari Konyaspor di liga domestik menyiratkan inkonsistensi. Juventus berharap atmosfer Turin mengubah arah cerita.
Pelatih Luciano Spalletti menanti kabar kebugaran sejumlah pemain belakang. Bremer dan Pierre Kalulu berpeluang kembali memperkuat lini pertahanan. Absensi masih menghantui. Emil Holm cedera. Cabal dan Andrea Cambiaso menjalani skorsing. Dusan Vlahovic dan Arkadiusz Milik belum pulih. Opsi serangan menipis.
Di kubu tamu, Okan Buruk mempertimbangkan rotasi lini depan. Victor Osimhen disiapkan sejak awal. Dua gol lagi cukup untuk menyamai rekor klub dalam satu musim Liga Champions. Mario Lemina kembali tersedia. Gabriel Sara, motor serangan di leg pertama, menjadi ancaman nyata dengan kreativitas dan visi bermainnya.
Bek Juventus Lloyd Kelly berbicara tentang keyakinan. Dukungan publik Turin disebutnya sebagai bahan bakar. Skuad berlatih keras sepanjang pekan. Intensitas ditingkatkan. Skema diuji. Mereka memahami beratnya tugas. Target minimal tiga gol tanpa balas menjadi harga mati.
Allianz Stadium akan menjadi panggung penentuan. Juventus mengejar keajaiban. Galatasaray menjaga jarak aman. Dalam sepak bola, sejarah kadang dilahirkan dari situasi paling terdesak. Malam itu, Turin menunggu jawaban.*01*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar