UEFA Champions League

Siapa Tumbang di Metropolitano, Atletico atau Brugge?

Raphael Onyedika dari Club Brugge (kiri) dan Julian Alvarez dari Atletico Madrid berebut bola dalam laga leg pertama play-off babak gugur Liga Champions UEFA. (ist)

MADRID, RIAUKU.COM - Stadion Metropolitano yang selalu bergetar oleh nyanyian suporter Atletico Madrid akan menjadi saksi kelanjutan langkah tuan rumah atau Club Brugge di panggung UEFA Champions League musim 2025-2026. Setelah pertemuan pertama berakhir imbang 3-3 dalam laga penuh drama, segalanya kini ditentukan dalam satu pertandingan.

Tak ada lagi ruang untuk hitung-hitungan rumit. Satu kemenangan saja sudah cukup untuk mengunci tiket ke babak berikutnya. Agregat yang sama kuat membuat peluang kedua tim benar-benar terbuka.

Atletico datang dengan catatan fase liga yang kurang konsisten. Dari delapan pertandingan, mereka hanya mengumpulkan 13 poin. Ada momen ketika kualitas skuad asuhan Diego Simeone terlihat menonjol, tetapi stabilitas performa masih menjadi pekerjaan rumah. Wajah Atletico musim ini tercermin jelas di leg pertama: tajam saat menyerang, namun rapuh ketika bertahan.

Meski demikian, Los Colchoneros memiliki satu modal penting—kekuatan kandang. Tiga kemenangan dari empat laga Eropa di Metropolitano menjadi sinyal bahwa mereka berbeda ketika tampil di depan publik sendiri. Atmosfer stadion kerap menjadi energi tambahan yang sulit ditandingi lawan.

Namun tekanan tetap ada. Rekor pertemuan kontra Brugge di Liga Champions belum berpihak pada tim Spanyol tersebut. Dalam empat pertemuan terakhir, Atletico tak pernah meraih kemenangan. Catatan ini tentu menambah beban psikologis jelang laga krusial.

Di sisi lain, Club Brugge menjalani musim Eropa dengan grafik yang naik turun. Mereka mencetak 15 gol dan kebobolan 17 di fase liga—angka yang menunjukkan keseimbangan antara potensi ofensif dan rapuhnya lini belakang. Performa tandang mereka di Eropa pun kurang meyakinkan, hanya satu kemenangan dari empat laga.

Namun hasil imbang 3-3 di leg pertama memberi suntikan moral besar. Dua kali tertinggal, mereka mampu bangkit dan menyamakan kedudukan. Dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi, Brugge mencatat tiga kemenangan. Kepercayaan diri jelas sedang tumbuh.

Dari sisi komposisi pemain, Atletico tidak bisa menurunkan Nicolas Gonzalez dan Pablo Barrios yang masih cedera. Di lini tengah, Koke dan Marcos Llorente diproyeksikan menjadi poros permainan untuk menjaga keseimbangan. Di depan, duet Alexander Sorloth dan Julian Alvarez kembali menjadi tumpuan, dengan Ademola Lookman yang siap memberi warna setelah debutnya di leg pertama.

Brugge sendiri kehilangan Raphael Onyedika akibat skorsing. Peran Hans Vanaken di lini tengah akan sangat vital untuk mengatur tempo dan menjaga ritme permainan. Di sektor serang, Christos Tzolis patut diwaspadai. Gol penyeimbangnya di pertemuan pertama membuktikan ketajamannya, sementara kecepatan dan keberaniannya menusuk dari sisi sayap bisa merepotkan pertahanan tuan rumah.

Pertandingan ini diprediksi berlangsung ketat sejak menit awal. Atletico kemungkinan tampil agresif, memanfaatkan dukungan penuh suporter. Brugge, di sisi lain, bisa saja memilih pendekatan lebih sabar sambil menunggu celah lewat serangan balik cepat.

Pada akhirnya, laga ini bukan hanya soal taktik dan statistik, melainkan soal ketenangan di momen genting. Siapa yang mampu menjaga fokus hingga peluit akhir berbunyi, dialah yang akan melangkah ke fase berikutnya. Metropolitano siap menjadi panggung drama—dan mungkin, sejarah baru.*01*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.