Potensi Jadi Pandemi

Heboh Virus Nipah di India, 5 Orang sudah Jadi Korban

Virus Nipah termasuk daftar 24 penyakit ancaman terbesar bagi kesehatan. (ils)

JAKARTA - Sedikitnya lima orang di negara bagian Benggala Barat, India, telah dinyatakan positif terinfeksi virus Nipah. Reservoir alami (inang utama) virus ini adalah kelelawar buah (fruit bats) dari famili Pteropodidae-khususnya genus Pteropus.

Virus ini hidup dalam tubuh kelelawar tanpa menyebabkan mereka sakit, tetapi bisa ditularkan ke manusia atau hewan lain. Penyakit ini tergolong mematikan, dengan tingkat kematian dilaporkan mencapai lebih dari dua pertiga kasus.

Virus Nipah berasal dari keluarga virus sama dengan campak yang memiliki tingkat penularan tinggi. Laporan setempat menyebutkan hampir 100 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien terinfeksi kini dikarantina dan berada dalam pemantauan.

Menurut laporan Outbreak News Today yang dikelola mikrobiolog asal Florida, Amerika Serikat, Robert Herriman, sejumlah tenaga kesehatan, termasuk seorang dokter, perawat, dan petugas medis, turut terinfeksi.

Seluruh kasus baru tersebut disebut terkait dengan rumah sakit swasta yang sama di Barasat, dekat Kolkata, tempat dua perawat pertama kali dinyatakan positif awal bulan ini.

Seorang pejabat kesehatan Benggala Barat mengatakan kepada The Telegraph sumber infeksi paling mungkin berasal dari pasien yang sebelumnya dirawat di rumah sakit tersebut.

"Pasien tersebut saat ini diperlakukan sebagai kasus indeks yang diduga, dan penyelidikan masih berlangsung," ujarnya.

Situasi ini pun memicu kekhawatiran terkait potensi penyebaran virus Nipah secara lebih luas. 

World Health Organization (WHO) sebelumnya telah memasukkan virus Nipah ke dalam daftar patogen dengan potensi pandemi. Tahun lalu, UK Health Security Agency (UKHSA) juga mencantumkan Nipah dalam daftar 24 penyakit yang dinilai sebagai ancaman terbesar bagi kesehatan masyarakat di masa depan.

Sejumlah ilmuwan sebelumnya juga menyatakan virus Nipah berpotensi memicu pandemi baru. Dr Rebecca Dutch, pakar virologi dari University of Kentucky, mengatakan wabah Nipah terjadi secara berkala dan kemungkinan akan terus muncul.

"Nipah adalah salah satu virus yang sangat mungkin menjadi penyebab pandemi baru. Ada banyak hal dari virus ini yang sangat mengkhawatirkan," ujar Rebecca Dutch, dikutip The Sun.

Di sisi lain, India telah mengalami beberapa wabah Nipah sejak virus ini pertama kali terdeteksi pada 2001. Wabah paling mematikan terjadi di Benggala Barat, ketika 45 dari 66 pasien meninggal dunia. Kasus juga pernah dilaporkan di Bangladesh, Malaysia, Filipina, dan Singapura.

Para ahli menilai peningkatan kasus berkaitan dengan hilangnya habitat satwa, yang membuat hewan pembawa virus hidup semakin dekat dengan manusia. Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi urin atau air liur hewan terinfeksi, serta kontak erat dengan pasien, meski jalur ini relatif jarang.

Sebagian orang yang terinfeksi virus Nipah tidak menunjukkan gejala sama sekali, sementara yang lain dapat mengalami kondisi berat hingga berakibat fatal.

Rute Penularan ke Manusia

Lewat produk makanan yang terkontaminasi oleh saliva atau urin kelelawar buah (misalnya buah yang sudah digigit kelelawar, nira/air nira dataran atau cairan buah) kemudian dikonsumsi manusia tanpa perlakuan higienis.

Lewat kontak langsung dengan hewan perantara yang sudah terinfeksi virus, terutama babi dalam wabah pertama kalinya di Malaysia (1998-99).

Kontak erat dengan orang yang terinfeksi, misalnya anggota keluarga atau petugas layanan kesehatan yang merawat pasien tanpa alat pelindung diri, juga bisa menyebabkan penularan antar manusia. (int/dmy)


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.