1.041 Ha Lahan di Riau Hangus Terbakar dan 1.849 Titik Panas Terdeteksi

PEKANBARU, RIAUKU.COM — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Provinsi Riau. Hingga Ahad (22/2/2026) sore, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat total luasan lahan terbakar telah mencapai 1.041,74 hektare dan tersebar di 11 kabupaten/kota.

Kepala BPBD Damkar Riau, M Edy Afrizal melalui Kepala Bidang Kedaruratan Jim Gafur menyampaikan, hampir seluruh wilayah di Riau terdampak karhutla. Dari 12 kabupaten/kota, hanya Kabupaten Rokan Hulu yang sejauh ini belum melaporkan kejadian serupa.

“Hampir seluruh daerah di Riau terjadi karhutla. Sudah 11 daerah terdampak, kecuali Kabupaten Rokan Hulu. Total luasan mencapai 1.041,74 hektare,” ujar Jim Gafur.

Berdasarkan data yang dihimpun BPBD, Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 612,30 hektare. Angka tersebut mencakup lebih dari separuh total lahan terbakar di Riau. Di posisi berikutnya terdapat Kabupaten Bengkalis dengan 201,01 hektare.

Selanjutnya, kebakaran juga tercatat di Kabupaten Indragiri Hilir seluas 64,70 hektare dan Kabupaten Siak 63,53 hektare. Di wilayah perkotaan, Kota Dumai mencatat 30,52 hektare lahan terbakar, disusul Kabupaten Kampar 29,50 hektare, dan Kota Pekanbaru 14,08 hektare.Karhula2.jpg

Sementara itu, Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami kebakaran seluas 13,40 hektare, Rokan Hilir 10 hektare, Kuantan Singingi 1,50 hektare, serta Indragiri Hulu 1,20 hektare.

Tak hanya luasan lahan yang menjadi perhatian, jumlah titik panas (hotspot) juga menunjukkan angka signifikan. BPBD mencatat terdapat 1.849 hotspot yang terdeteksi, dengan 128 titik api (fire spot) yang terkonfirmasi di lapangan.

Meski demikian, Jim memastikan bahwa kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah tersebut saat ini telah berhasil ditangani oleh tim gabungan. Laporan dari daerah menyebutkan bahwa api sudah dapat dikendalikan, dibantu oleh turunnya hujan dalam beberapa hari terakhir.

“Laporan dari masing-masing daerah, karhutla di wilayahnya sudah bisa ditangani. Hujan juga terjadi cukup merata di Riau beberapa hari terakhir ini,” katanya.

Dalam upaya penanganan karhutla, berbagai unsur terlibat secara terpadu. Mulai dari BPBD kabupaten/kota, TNI dan Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, hingga pihak perusahaan turut ambil bagian dalam proses pemadaman dan pendinginan lahan.

Saat ini, Pemerintah Provinsi Riau juga telah menetapkan status siaga darurat karhutla. Penetapan status tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor serta mempercepat mobilisasi sumber daya dalam menghadapi potensi kebakaran susulan.

“Dengan status siaga darurat ini, diharapkan penanganan karhutla di Riau bisa lebih maksimal dan terkoordinasi,” ujar Jim.

Selain pemadaman di darat, upaya pencegahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus dilakukan. OMC difokuskan di wilayah pesisir Riau, meliputi Kabupaten Siak, Indragiri Hilir, dan Bengkalis. Hingga kini, total 7 ton garam (NaCl) telah disemai untuk merangsang pertumbuhan awan hujan.

Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari strategi terpadu untuk menekan perluasan kebakaran, sekaligus meminimalkan dampak kabut asap yang kerap menyertai karhutla di Riau. Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api baru di wilayahnya.

Dengan kondisi cuaca yang masih dinamis, kewaspadaan tetap menjadi kunci agar luasan kebakaran tidak kembali meluas dan menimbulkan dampak lebih besar bagi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.*03*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.