Geger! Lukisan Tertua di Dunia Berusia 67.800 Tahun Ditemukan di Muna
MUNA, RIAUKU.COM – Sebuah temuan arkeologis menggemparkan dunia ilmu pengetahuan setelah lukisan prasejarah di Goa Liang Metanduno, Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, dinyatakan sebagai lukisan tertua di dunia dengan usia mencapai 67.800 tahun. Hasil penelitian kolaboratif antara peneliti Indonesia dan Australia ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Nature edisi Januari 2026.
Publikasi tersebut sekaligus menambah daftar panjang pengakuan global terhadap kekayaan warisan prasejarah Indonesia. Temuan ini bahkan melampaui sejumlah karya seni purba lain yang sebelumnya dinobatkan sebagai yang tertua di dunia.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
- 29 Hektar Lahan di Pekanbaru dan Sekitarnya Terbakar Akibat Cuaca Panas
Petugas Pemelihara Goa Liang Metanduno, La Ode Darma, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan melalui kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan tim peneliti dari Australia. Pengambilan sampel dilakukan pada 2019 dari langit-langit goa.
“Lukisan tangan di Metanduno ini menjadi lukisan tertua di dunia berdasarkan hasil penelitian kerja sama antara BRIN Indonesia dengan peneliti dari Australia. Sampel diambil pada 2019 di langit-langit goa,” ujar La Ode Darma, Minggu (22/02/2026).
Sampel tersebut kemudian dibawa ke Australia untuk menjalani pengujian laboratorium guna memastikan usia lukisan secara ilmiah. Hasil uji menunjukkan bahwa cap tangan berwarna merah itu telah berusia sekitar 67.800 tahun.
Di dalam goa, para arkeolog menemukan sejumlah cap tangan yang dibuat dengan teknik semprot pigmen pada dinding batu. Siluet tangan tersebut diyakini sebagai ekspresi simbolis manusia purba yang pernah mendiami kawasan itu. Menariknya, terdapat tiga cap tangan yang sebagian tertutup dan ditindih oleh gambar hewan menyerupai ayam atau burung berkaki dua.
Selain cap tangan, tim peneliti juga mengidentifikasi empat fase berbeda dalam lapisan lukisan di goa tersebut. Fase pertama merupakan cap tangan yang menjadi temuan tertua. Fase kedua memperlihatkan gambar perahu yang mengindikasikan kemampuan maritim masyarakat prasejarah.
Pada fase ketiga, tergambar pemandangan manusia dan hewan, termasuk aktivitas berburu. Sementara fase terakhir menghadirkan lukisan berwarna hitam yang menggambarkan interaksi manusia dan hewan, yang diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun.
Keberadaan berbagai lapisan ini menunjukkan bahwa goa tersebut digunakan dalam rentang waktu yang sangat panjang oleh generasi manusia berbeda. Setiap fase mencerminkan perkembangan budaya dan pola hidup masyarakat pada masanya.
La Ode Darma menuturkan bahwa cap tangan tersebut bukan sekadar karya seni, melainkan penanda keberadaan manusia purba di wilayah itu. “Cap tangan ini diyakini sebagai simbol kehadiran atau identitas manusia pertama yang menghuni goa ini,” katanya.
Para peneliti juga menilai bahwa temuan di Goa Liang Metanduno memberikan petunjuk penting mengenai jalur migrasi manusia modern dari Asia menuju Australia pada masa lampau. Dengan usia yang sangat tua, lukisan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan Nusantara merupakan salah satu titik kunci dalam perjalanan awal manusia modern.
Penemuan ini tidak hanya mengangkat nama Muna dan Sulawesi Tenggara di panggung internasional, tetapi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penting peradaban manusia purba di dunia.*03*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar