Petang Belimau, Tepian Siak Jadi Lautan Manusia

Ribuan warga memadati tepian Sungai Siak untuk mengikuti tradisi Petang Belimau, Rabu (19/02/2026). (ist)

PEKANBARU, RIAUKU.COM - Suasana senja di kawasan bersejarah Senapelan, Pekanbaru, Rabu (18/02/2026), berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga memadati tepian Sungai Siak, berkumpul untuk mengikuti tradisi Petang Belimau, ritual turun-temurun masyarakat Melayu Riau dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Tradisi tahunan itu secara resmi dibuka Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, di Rumah Tuan Kadi, salah satu titik awal sejarah berdirinya Kota Pekanbaru. Tepuk tangan dan sorak warga pecah ketika orang nomor satu di Riau tersebut tiba di lokasi.

Bagi masyarakat, Petang Belimau bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah momen membersihkan diri lahir dan batin. Air bercampur limau menjadi simbol pelepasan salah dan khilaf sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Dalam sambutannya, SF Hariyanto menegaskan tradisi ini merupakan identitas khas Riau yang tidak dimiliki daerah lain. “Ini adalah cara orang Pekanbaru menyambut Ramadan dengan hati bersih dan jiwa lapang. Semua perselisihan dilebur, kita masuk bulan suci dengan penuh keikhlasan,” ujarnya di hadapan masyarakat.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan ziarah ke makam pendiri Pekanbaru di Masjid Raya Pekanbaru. Setelah itu, prosesi belimau simbolis dilakukan dengan mengusap air limau kepada anak-anak yatim sebagai tanda penyucian diri. SF HArianto.jpg

Bagi Sembako

Tak hanya seremonial, pemerintah juga membawa pesan sosial. SF Hariyanto menyerahkan 100 paket sembako kepada keluarga kurang mampu di Kecamatan Senapelan. Ia menegaskan Ramadan seharusnya tidak membuat siapa pun merasa tertinggal. “Menyambut Ramadan bukan hanya ibadah pribadi, tapi memastikan tidak ada masyarakat yang bersedih karena kekurangan,” katanya.

Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho menjelaskan tradisi tahun ini kembali dipusatkan di Rumah Tuan Kadi, setelah sebelumnya sempat hanya digelar di Masjid Raya. Namun keramaian warga memunculkan kekhawatiran tersendiri. Banyak pengunjung nekat ingin melompat dari Jembatan Siak III untuk mandi di sungai. “Kami sudah larang dari kemarin. Tolong Satpol PP amankan, jangan sampai menyambut Ramadan justru terjadi musibah,” tegas Agung.

Puji Walikota Pekanbaru

Di tengah perayaan, SF Hariyanto juga mengapresiasi kinerja Pemerintah Kota Pekanbaru. Ia menilai perubahan kota terlihat nyata, terutama perbaikan infrastruktur jalan dan kebersihan. “Sekarang jalan sudah mulus, kota semakin bersih dan tertata. Ini kerja nyata yang patut disyukuri,” ucapnya.

Ia juga menyinggung peningkatan pendapatan daerah dari opsen pajak yang dinilai menjadi berkah bagi Pekanbaru.

Malam semakin larut, namun warga tetap bertahan di tepian sungai. Anak-anak tertawa bermain air, orang tua saling bersalaman, sementara aroma limau bercampur udara sungai menciptakan suasana damai.

Petang Belimau kembali membuktikan dirinya bukan sekadar tradisi, melainkan perekat sosial. Di sanalah masyarakat saling memaafkan, berbagi, dan bersiap memasuki Ramadan dengan hati yang lebih tenang. *03*

 


    Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi, serta foto atau video yang memiliki nilai berita.

    Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.