Iran-Rusia-China Pamer Kekuatan di Selat Hormuz, Barat Mulai Gelisah?
MOSKWA, RIAUKU.COM - Gelombang laut tampak tenang, tetapi atmosfer geopolitik di kawasan Timur Tengah justru memanas. Di salah satu jalur pelayaran paling vital di bumi, Selat Hormuz, kapal-kapal perang dari Iran, Rusia, dan China berlayar berdampingan. Bukan sekadar patroli biasa, tetapi latihan militer gabungan besar yang membawa pesan kuat kepada dunia.
Latihan yang diberi nama Maritime Security Belt 2026 ini digelar pertengahan Februari. Di atas geladak kapal, radar berputar, helikopter tempur bersiaga, dan komunikasi radio terdengar nyaris tanpa jeda. Ketiga negara itu mengklaim latihan bertujuan meningkatkan koordinasi keamanan laut serta melindungi jalur perdagangan global yang kian rentan.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Penasihat kepresidenan Rusia, Nikolay Patrushev, menyebut latihan tersebut bukan sekadar rutinitas militer. Menurutnya, dunia sedang menuju perubahan besar dalam tatanan kekuatan global. Rusia, katanya, ingin membangun “tatanan dunia multipolar di lautan” sebagai respons terhadap dominasi Barat yang selama ini dianggap terlalu kuat.
Ia menambahkan, kerja sama itu merupakan bagian dari kolaborasi negara-negara BRICS yang kini mulai merambah dimensi maritim strategis. “Kita harus memanfaatkan potensi BRICS sepenuhnya, termasuk di laut,” ujarnya dalam wawancara media Rusia.
Bagi pengamat militer, lokasi latihan bukan kebetulan. Selat Hormuz dikenal sebagai “keran minyak dunia”. Sekitar seperlima perdagangan minyak global melintasi perairan sempit ini setiap hari. Gangguan kecil saja bisa memicu gejolak harga energi internasional.
Di tengah perairan yang sempit, kapal-kapal dari tiga negara itu berlatih manuver bersama, simulasi pengawalan kapal dagang, hingga skenario ancaman keamanan laut. Latihan ini juga disebut sebagai kelanjutan dari latihan gabungan sebelumnya yang digelar di Atlantik Selatan awal tahun, melibatkan lebih banyak negara mitra BRICS.
Latihan angkatan laut gabungan seperti ini sebenarnya bukan yang pertama. Sejak 2019, Iran secara rutin mengundang Rusia dan China berlatih bersama. Namun, skala dan momentum kali ini terasa berbeda. Ketegangan geopolitik global, konflik kawasan, serta rivalitas kekuatan besar membuat latihan tersebut dipandang lebih politis.
Di kawasan Teluk Persia, kehadiran tiga armada sekaligus menciptakan pesan simbolik: ada poros kekuatan baru di laut. Meski tidak menyebut negara tertentu sebagai lawan, narasi “perlindungan jalur perdagangan” dan “melawan hegemoni” dianggap sebagian analis sebagai sinyal strategis kepada Barat.
Sementara itu, aktivitas pelayaran sipil tetap berjalan. Kapal tanker masih melintas, namun dengan pengawasan ketat. Radar kapal perang memantau horizon tanpa henti. Di balik latihan militer itu, tersirat kekhawatiran global: keamanan energi dunia kini berada di tengah pusaran persaingan geopolitik.
Bagi Iran, latihan ini menunjukkan kapasitasnya menjaga wilayah sendiri. Bagi Rusia dan China, ini peluang memperluas pengaruh laut jauh dari perairan domestik. Sedangkan bagi dunia, peristiwa di Selat Hormuz kembali mengingatkan satu hal, jalur sempit itu tetap menjadi panggung utama perebutan pengaruh global. Dan ketika kapal-kapal perang kembali ke pangkalan nanti, gema latihan ini kemungkinan masih akan terasa lama di meja diplomasi internasional. *03*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar