“Habib” Si Raja Bayangan! Sosok Misterius Pengendali Jaringan Narkoba Jadi Buron
TANJUNGBALAI, RIAUKU.COM - Satu nama tiba-tiba menjadi pusat perhatian dalam pengungkapan kasus narkotika besar di Sumatera Utara: Habib. Bukan selebritas, bukan pejabat, melainkan sosok bayangan yang diduga mengendalikan peredaran heroin bernilai miliaran rupiah dari balik layar.
Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri berhasil menggagalkan pengiriman 15 kilogram heroin dalam operasi senyap di Jalan Lintas Tanjung Balai–Asahan, Senin (16/2/2026) malam. Polisi menangkap seorang kurir bernama Okto Jefri Sihombing (42). Namun dari pemeriksaan, penyidik justru menemukan petunjuk yang mengarah ke figur yang jauh lebih besar.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Eko Hadi Santoso menjelaskan, Okto hanya berperan sebagai “kuda”, istilah dalam jaringan narkoba untuk kurir lapangan. Ia mengaku tidak mengenal struktur jaringan secara utuh dan hanya menerima instruksi. Nama yang ia sebut berulang kali hanya satu: Habib.
Okto diperintah menjemput paket dari Kota Tanjung Balai lalu mengantarkannya ke Simpang Kawat, Kisaran. Semua komunikasi dilakukan lewat ponsel. Tak ada pertemuan langsung, tak ada identitas jelas. Bahkan pembayaran pun dijanjikan setelah barang sampai tujuan.
Ketika tas abu-abu miliknya diperiksa, petugas menemukan 15 bal heroin padat siap edar. Nilainya diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Namun temuan lebih mengejutkan muncul saat tes urine: Okto positif sabu.
Ia rupanya membawa narkotika dalam jumlah besar sambil berada di bawah pengaruh narkoba. Orang yang diboncengnya, Ali Syahbana, tukang ojek pangkalan, juga positif sabu dan ganja. Keduanya diduga tidak memahami sepenuhnya besarnya jaringan yang mereka layani.
Bagi penyidik, kondisi ini justru menguatkan dugaan bahwa Habib berada jauh di atas mereka dalam struktur sindikat. Pola komunikasi satu arah, tanpa pertemuan, serta penggunaan kurir yang tidak mengetahui jaringan adalah ciri operasi bandar besar.
Selain heroin, polisi menyita sepeda motor Honda Scoopy BK 6216 QAI dan telepon genggam yang kini menjadi barang bukti utama untuk melacak jejak digital pengendali jaringan. “Fokus kami sekarang memburu sosok Habib sebagai pemilik barang dan pengendali,” tegas Brigjen Eko.
Penyidik menduga jaringan ini bukan sekadar pengedar lokal. Jalur Tanjung Balai dikenal sebagai salah satu pintu masuk narkotika dari luar negeri menuju Sumatera. Artinya, Habib kemungkinan merupakan bagian dari jaringan lintas wilayah bahkan internasional.
Penangkapan kurir hanya membuka pintu awal. Polisi kini menelusuri aliran komunikasi, rekening, serta kemungkinan jaringan distribusi lanjutan di berbagai kota.
Kasus ini kembali menunjukkan pola klasik dunia narkotika: kurir mudah tertangkap, tetapi pengendali utama bersembunyi di balik identitas samar. Namun kali ini aparat optimistis.
Jejak digital, pengakuan kurir, dan barang bukti komunikasi perlahan membentuk peta jaringan. Semua mengarah pada satu nama yang kini menjadi target utama perburuan nasional. Habib, sosok yang selama ini hanya dikenal dari suara di telepon, tetapi diduga menggerakkan peredaran heroin skala besar di Sumatera Utara.*03*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar