Ribuan Orang Teriak Kegirangan di Perang Air Cian Cui, Pejabat Pun Tak Lolos Basah
SELATPANJANG, RIAUKU.COM – Jalan Merdeka yang biasanya ramai kendaraan mendadak berubah jadi “lautan tawa” pada Selasa (17/2) sore. Ember, gayung, hingga pistol air beterbangan. Tak ada yang bisa tetap kering. Bahkan pejabat daerah pun tak mendapat perlakuan khusus. Semua jadi sasaran dalam Festival Perang Air Cian Cui.
Tradisi tahunan ini kembali mengguyur pusat Kota Selatpanjang, Kecamatan Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Sejak dimulai, kawasan kota langsung basah total. Warga yang datang bukan sekadar menonton, melainkan siap ikut “pertempuran” air yang penuh canda.
Berita Terkait
- Momen Haru di Pekanbaru! Anak Panti dan Hotel Bintang Tiga Duduk Satu Meja
- Safari Ramadan di Mapolda Riau, Kapolri Ajak Masyarakat Bersatu Hadapi Krisis Global
- Ratusan Lampu Colok Terangi Malam Ramadhan di Bukit Raya, Tradisi Lama Kembali Hidup
- Wabup Rohul Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi Selama Bulan Ramadan
- Cara Licik AS-Israel, Palsukan Drone Iran untuk Serang Negara Arab
Festival Perang Air Cian Cui memang unik. Dalam perayaan ini, siapa saja boleh disiram tanpa pengecualian. Orang tua, anak-anak, wisatawan, hingga pejabat pemerintah larut dalam suasana gembira. Tak ada marah, yang ada hanya tawa dan teriakan kaget saat air tiba-tiba menyiram dari arah tak terduga.
Ribuan warga memadati lokasi. Sebagian berkeliling menggunakan becak motor menyusuri jalan utama sambil menyiram orang di pinggir jalan. Yang lain berdiri menunggu giliran, membawa ember penuh air sebagai “amunisi”. Ketika rombongan lewat, perang pun dimulai. Dalam hitungan detik, semua basah kuyup.
Tradisi ini merupakan warisan masyarakat keturunan Tionghoa yang dirayakan setiap Tahun Baru Imlek 2577. Namun sejak ditetapkan pemerintah daerah pada 2013 sebagai agenda resmi budaya, festival berkembang menjadi milik bersama lintas suku dan agama. Kini bukan hanya komunitas Tionghoa, seluruh warga Meranti ikut merayakannya.
Bupati Kepulauan Meranti Asmar mengatakan festival ini bukan sekadar hiburan tahunan. Pemerintah daerah menjadikannya ikon pariwisata untuk memperkenalkan budaya lokal ke tingkat nasional bahkan internasional.
Festival ini juga telah masuk dalam Karisma Event Nusantara sebagai agenda pariwisata nasional. Artinya, tradisi lokal Selatpanjang kini berdiri sejajar dengan berbagai event budaya besar di Indonesia.
Menurut bupati, momen ini semakin bermakna karena perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan bulan Ramadan. Ia berharap suasana kebersamaan dari festival mampu mempererat hubungan antarwarga lintas agama.
“Kami ingin masyarakat menikmati acara ini dengan tertib dan tetap menjaga kebersihan,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Kehormatan melepas rombongan peserta diberikan kepada Herry Heryawan. Dalam sambutannya, ia menekankan pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan.
Ia menyoroti kondisi wilayah pesisir Meranti yang dikelilingi hutan mangrove sebagai benteng alami pantai. Karena itu, kepolisian memperkenalkan konsep Green Policing, yaitu menjaga keamanan sekaligus menjaga alam.
Menurutnya, Festival Cian Cui bukan hanya tentang bermain air, tetapi simbol persatuan masyarakat. Tradisi ini menunjukkan bagaimana budaya mampu menyatukan banyak perbedaan dalam satu kegembiraan.
Sore itu, Selatpanjang tak sekadar merayakan Imlek. Kota kecil di pesisir Riau itu memperlihatkan wajah Indonesia: beragam, riang, dan saling menghargai. Saat matahari mulai turun, pakaian semua orang telah basah. Namun senyum tetap lebar, karena di Perang Air Cian Cui, basah berarti bahagia. *03*
- WhatsApp: 0812-667-000-70
- Email: [email protected]
Redaksi Riauku.com menerima laporan peristiwa, rilis resmi,
serta foto atau video yang memiliki nilai berita.
Sertakan identitas lengkap untuk keperluan verifikasi redaksi. Setiap informasi akan ditinjau sesuai standar jurnalistik.




Tulis Komentar